Folks

Ular di Meja Revolusi, Republik Yang Belum Selesai

โœ Agam Abimanyu - ๐Ÿ“… 02 Apr 2026

Ular di Meja Revolusi, Republik Yang Belum Selesai
Agam Abimanyu

Ada sesuatu yang janggal sekaligus mendesak ketika sebuah panggung, tiba-tiba berbicara tentang nama yang selama puluhan tahun nyaris dilarang disebutkan di ruang-ruang resmi. Tan Malaka kembali. Bukan lewat buku teks, bukan juga lewat ketetapan pemerintah, melainkan melalui pertunjukan, tubuh seorang aktor, perupa dalam mural yang bergerak dalam satu konesp pertunjukan.

Pertanyaan pertama yang muncul di benak saya, sebagai seseorang pelaku teater yang kadang saling tonton dengan teman di teater adalah: mengapa sekarang? Mengapa Tan Malaka, dan mengapa dalam format monolog yang intens, bukan seminar akademik atau pameran arsip yang lebih dapat dipertanggung jawabkan pijakan sejerahnya? barangkali jawabannya, saya kira, terletak justru pada kata yang dipilih dalam judul itu: ular.

Ular adalah metafora yang tidak menyenangkan dan menyeramkan. Berbisa, bergerak diam-diam, hadir tanpa diundang. Dan di meja revolusi, ruang di mana keputusan-keputusan besar tentang nasib bangsa pernah diperdebatkan, barangkali seperti pengingat bahwa tidak semua suara disambut dengan sama hangatnya.

"Tan Malaka pernah menjadi suara yang dianggap berbahaya. Hari ini, mungkin justru suara seperti itulah yang paling kita butuhkan." - Catatan Produksi ยท Ular di Meja Revolusi.

Dalam ekosistem teater, monolog adalah bentuk yang paling telanjang, tidak ada paduan suara yang bisa menyembunyikan kelemahan argumen, tidak ada dialog yang bisa mengalihkan perhatian dari kekosongan gagasan. Hanya satu tubuh, satu suara, dan satu tesis yang harus berdiri sendiri di hadapan penonton.

Tim produksi sengaja memilih format itu pasti dengan sadar. Dan pilihannya berbicara banyak: Tan Malaka, dalam sejarah hidupnya, memang selalu sendirian. Bergesekan dengan PKI berselisih dengan Soekarno yang dinilai terlalu kompromistis, dan menolak tunduk pada Belanda yang ingin menjinakkannya. Kesendirian bukan tragedi dalam narasi Tan Malaka, konsekuensi dari integritas intelektual yang tidak mau bernegosiasi. 

Maka ketika aktor berdiri sendiri di atas panggung dan sengaja memikul seluruh " beban " itu, tidakkah ia sedang berakting menjadi Tan Malaka ? Atau sedang melakukan sesuatu yang lebih ambisius: memperlihatkan struktur dari pikiran seorang revolusioner dan bagaimana ia bernalar bagaimana ia marah, dan bagaimana ia tetap percaya bahwa pikiran yang jujur lebih berharga dan bermartabat daripada kekuasaan yang pongah.

Kampus dipilih mungkin bukan secara kebetulan. Seperti pengakuan bahwa percakapan tentang Tan Malaka tentang berpikir kritis, tentang keberanian berpendapat yang paling mendesak justru di kalangan mereka yang sedang dalam proses membentuk pandangan dunianya. Mahasiswa di Kudus, di Solo, di Bogor, mereka yang tumbuh di tengah banjir informasi dan polarisasi opini yang semakin tajam.

Peristiwa

Di kampus, kata "peristiwa" sering disempitkan menjadi demonstrasi, wisuda, atau seminar nasional. Tapi ada satu jenis peristiwa yang paling jarang diingat sebagai sesuatu yang penting, padahal sejarah kerap membuktikan bahwa ia adalah ruang di mana perubahan cara berpikir paling sering bermula: pertunjukan teater.

Ruang kuliah mengajarkan apa yang perlu diketahui. Panggung teater menantang untuk merasakan apa yang belum berani diakui.

Tan Malaka barangkali tidak pernah mementaskan " teater ". Tapi seluruh hidupnya adalah dramaturgi yang belum selesai, seperti kisah fiksi. Sebuah naskah yang terus ditulis ulang oleh setiap generasi yang memilih untuk tidak melupakan. Dan ketika cerita itu akhirnya benar-benar naik ke panggung, di hadapan mahasiswa, di kampus yang seharusnya menjadi laboratorium pikiran kritis dan sesuatu yang lebih besar dari pertunjukan sedang terjadi.

Kampus adalah satu-satunya institusi yang secara formal memiliki mandat untuk mempersoalkan status quo. Bukan karena ia selalu melakukannya tetapi justru sebaliknya, kampus yang semakin sering berubah menjadi pabrik teknis, bukan pabrik pertanyaan. Tapi mandatnya masih ada. Dan pertunjukan teater yang datang ke kampus semestinya bukan untuk mengisi jadwal kegiatan mahasiswa melainkan menagih janji itu. Panggung adalah ruang demokratis. Aktor dan penonton bernapas dalam udara yang sama, menanggung keheningan yang sama, dan menghadapi kebenaran yang sama tanpa hierarki kelas atau IPK.

Teater berlangsung sekali. Tidak ada rekaman yang mereplikasi energi ruangan. Dan itu sungguh bukan kekurangan sebab itu adalah pelajaran tentang kehadiran dan tanggung jawab: bahwa ada hal-hal dalam hidup yang hanya bisa di dapatkan jika benar-benar ada di sana.

Bagi mahasiswa, barangkali yang terbiasa berpikir dalam satu jalur membaca, memahami, presentasi serta menyaksikan dua medium berbicara sekaligus tentang hal yang sama bisa menjadi pengalaman yang menggeser perspektif.

Bahwa sebuah gagasan tidak punya satu wajah. Bahwa Tan Malaka yang disuarakan melalui kata adalah Tan Malaka yang berbeda dari yang dilukis melalui kuas. Dan keduanya benar. Dan keduanya perlu. Dan itulah yang disebut dialog budaya dalam arti yang sesungguhnya. Bukan panel diskusi dengan empat narasumber dan satu moderator, melainkan dua medium yang saling merespons di hadapan penonton yang menyaksikan prosesnya secara langsung, tanpa editing, tanpa revisi. Dan di Kampus membutuhkan panggung bukan karena ia kekurangan pengetahuan melainkan karena ia kekurangan momen di mana pengetahuan itu terasa mendesak, nyata, dan tidak bisa ditunda hingga esok hari. 

Tan Malaka, dalam " Madilog ", menulis tentang perlunya melepaskan diri dari mistisisme dan logika takhayul yang ia anggap membelenggu pikiran. Tesis itu terasa anakronistis hingga kita menyadikan bahwa yang ia lawan bukan cuma dukun dan jimat, melawan segala bentuk pemikiran yang menerima tanpa mempertanyakan, yang percaya tanpa menguji.

Ada klaim yang paling mendasar dalam catatan produksi pertunjukan ini, dan saya ingin berhenti sejenak di sana: bahwa politik adalah ruang etika dan keberanian, bukan semata-mata kekuasaan. Apakah itu bukan retorika baru ? Tapi dalam konteks Indonesia hari ini, di mana pragmatisme elektoral telah lama mengalahkan konsistensi prinsip, berganti haluan dianggap kepintaran bukan penghianatan. Klaim ini terasa seperti provokasi.

"Republik tidak hanya dibangun oleh mereka yang berkuasa, tetapi juga oleh mereka yang berani berpikir melampaui zamannya." - Catatan Pertunjukan ยท Ular di Meja Revolusi

Tan Malaka sendiri membuktikan itu dengan hidupnya sendiri. Tidak pernah memegang kekuasaan eksekutif, tidak pernah menandatangani perjanjian kenegaraan, tidak pernah berpidato di hadapan parlemen. Namun pengaruhnya terhadap cara berpikir tentang kemerdekaan, baik sebagai kondisi politik maupun sebagai proyek intelektual, jauh melampaui banyak tokoh yang menduduki kursi-kursi penting.

Republik, seperti yang pernah diingat oleh seorang tokoh yang terlalu sering dilupakan, bukan warisan statis. Proyek yang terus-menerus dipertaruhkan oleh mereka yang masih mau berpikir. Dan berpikir, dalam tradisi yang Tan Malaka wariskan, adalah tindakan yang paling radikal sekaligus paling bertanggung jawab yang bisa dilakukan.

Barangkali yang coba dihadirkan oleh pertunjukan ini: bukan nostalgia, bukan kultus tokoh, melainkan pertanyaan yang jauh mungkin berpotensi mengganggu. Jika Tan Malaka bisa berpikir semelampaui itu dalam kondisi pelarian, pengasingan, dan pengejaran โ€” apa alasan kita, yang hidup dengan kebebasan yang jauh lebih besar, untuk tidak melakukannya?

Akhirnya, Saksikan. Rasakan. Pertanyakan. Pertunjukan Jejak Bapak Republik Indonesia 09 April 2026. Jam 18.30 Wib di Auditorium UMK Kudus Jawa Tengah. 

Karena hadir adalah tindakan paling jujur yang bisa kita lakukan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar