Panggung III

Kepala Badan: Ketika Manusia Kehilangan Kesadaran dan Memelihara Ketidakadilan

✍ Imam Khanafi - 📅 03 Nov 2026

Kepala Badan: Ketika Manusia Kehilangan Kesadaran dan Memelihara Ketidakadilan
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

Catatan setelah menyaksikan pertunjukan Teater Djarum, 31 Oktober 2026

ADA sesuatu yang terasa mengganggu setelah menyaksikan Kepala Badan, pertunjukan Teater Djarum yang disutradarai Asa Jatmiko pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di Taman Budaya Sosrokartono, Kudus. Pertunjukan ini membawa penonton ke dalam sebuah situasi ketika semua orang terjebak dalam program pandemi sakit kepala, sebuah keadaan yang membuat kota lumpuh dan manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya: kemampuan berpikir. Sakit kepala dalam pertunjukan ini bukan sekadar persoalan tubuh, melainkan gambaran tentang masyarakat yang mengalami gangguan kesadaran, kehilangan nalar, dan perlahan kehilangan kemampuan untuk mengenali ketidakadilan. Di balik tubuh-tubuh yang bergerak, ruang rumah sakit, dan situasi absurd yang dibangun di atas panggung, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: bagaimana manusia bisa begitu mudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri?

Saya membaca Kepala Badan sebagai gambaran tentang masyarakat yang sedang sakit, tetapi tidak sepenuhnya menyadari penyakitnya. Mereka hidup dalam sebuah keadaan yang dirancang sedemikian rupa sehingga penderitaan menjadi sesuatu yang biasa, kepatuhan menjadi kebiasaan, dan kehilangan kebebasan tidak lagi dianggap sebagai persoalan. Orang-orang di dalamnya seolah menjalani kehidupan tanpa benar-benar memiliki kemampuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Keadaan semacam ini mengingatkan kita bahwa ketidakadilan tidak selalu datang melalui kekerasan yang terlihat, tetapi juga dapat bekerja melalui kebiasaan, aturan, dan sistem yang membuat manusia berhenti mempertanyakan keadaan.

Barangkali itulah bagian paling menarik dari gagasan pertunjukan ini: manusia tidak hanya dibuat sakit, tetapi juga dibuat kehilangan kemampuan untuk memahami mengapa dirinya sakit. Ketika seseorang tidak lagi mampu mengenali sumber penderitaannya, ia akan lebih mudah menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah. Ia mungkin mengeluh, merasa tidak nyaman, bahkan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi tidak pernah sampai pada keberanian untuk mempertanyakannya. Pada titik itulah sakit kepala menjadi metafora yang cukup kuat untuk menggambarkan masyarakat yang kehilangan kesadaran kritis.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan keadaan yang sebenarnya tidak masuk akal, tetapi diterima seolah-olah sudah sewajarnya demikian. Ketidakadilan dapat berlangsung bertahun-tahun karena orang-orang yang berada di dalamnya terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Mereka belajar mengikuti prosedur, menjaga posisi, mematuhi perintah, dan menghindari persoalan yang dianggap bukan urusannya. Akhirnya, sistem tidak lagi membutuhkan banyak tenaga untuk mempertahankan dirinya karena orang-orang yang hidup di dalamnya justru ikut menjalankan mekanisme yang membuat sistem tersebut terus bekerja.

Persoalannya bukan semata-mata siapa yang menciptakan ketidakadilan, melainkan siapa saja yang membuatnya tetap berlangsung. Kita terlalu mudah membayangkan bahwa ketidakadilan selalu memiliki pelaku yang jelas, biasanya seseorang yang memiliki kekuasaan dan secara langsung melakukan penindasan. Padahal, ketidakadilan juga dapat dipelihara oleh orang-orang yang merasa dirinya tidak terlibat. Seorang pegawai bisa bersembunyi di balik alasan bahwa ia hanya menjalankan perintah, seorang pejabat dapat berlindung di balik keputusan bersama, sementara orang yang menyaksikan penderitaan orang lain memilih diam karena merasa tidak memiliki kepentingan. Masing-masing merasa hanya menjalankan bagian kecil dari pekerjaannya, tetapi kumpulan tindakan kecil itulah yang sering kali membuat sebuah ketidakadilan bertahan.

Di sinilah kepatuhan menjadi persoalan yang perlu diperiksa kembali. Tentu saja, kehidupan bersama membutuhkan aturan, prosedur, dan pembagian tanggung jawab agar tidak berjalan semaunya sendiri. Namun, kepatuhan tanpa kesadaran dapat berubah menjadi alat yang membuat manusia kehilangan tanggung jawab moral terhadap tindakan yang dilakukannya. Seseorang mungkin merasa sudah bekerja dengan benar karena mengikuti seluruh ketentuan, padahal ia tidak pernah bertanya apakah pekerjaannya merugikan orang lain. Kita bisa menjadi manusia yang sangat tertib secara administratif, tetapi sekaligus abai terhadap persoalan kemanusiaan yang berlangsung di depan mata.

Pertunjukan ini juga membawa kita pada gagasan cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Ungkapan tersebut menjadi menarik ketika dihubungkan dengan situasi manusia yang kehilangan kemampuan berpikir karena dirinya telah dikendalikan oleh keadaan. Keberadaan manusia tidak cukup dibuktikan melalui tubuh yang bergerak, pekerjaan yang diselesaikan, atau kewajiban yang dijalankan setiap hari. Manusia juga membutuhkan kesadaran untuk mempertanyakan, menentukan sikap, dan memahami konsekuensi dari tindakannya sendiri. Tanpa kemampuan tersebut, seseorang mungkin masih hidup dan berfungsi dalam masyarakat, tetapi perlahan kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia.

Namun, kesadaran saja tidak cukup apabila hanya berhenti sebagai pengetahuan di dalam kepala. Kita bisa mengetahui bahwa suatu kebijakan tidak adil, menyaksikan seseorang diperlakukan semena-mena, atau memahami bahwa sebuah sistem sedang merugikan banyak orang, tetapi tetap memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Kita mungkin memiliki kemampuan membedakan benar dan salah, tetapi keberanian untuk mengambil sikap sering kali kalah oleh kepentingan pribadi dan rasa aman. Akibatnya, kesadaran berubah menjadi sesuatu yang pasif, hanya menjadi bahan pembicaraan tanpa pernah menjelma sebagai tindakan.

Saya kira di sinilah kritik Kepala Badan menemukan relevansinya dengan kehidupan sosial. Manusia yang kehilangan kepala dapat dibaca sebagai manusia yang kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri, sedangkan tubuh yang masih bergerak menggambarkan kehidupan yang terus berlangsung tanpa kesadaran yang utuh. Kita bekerja, mengikuti aturan, menjalankan perintah, dan menyelesaikan kewajiban seolah-olah semua itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita sedang menjalani kehidupan. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita masih memiliki keberanian untuk memeriksa apa yang sedang kita kerjakan dan siapa yang mungkin dirugikan olehnya. Sebab, seseorang tidak harus menjadi penjahat untuk ikut menghasilkan kejahatan.

Meski demikian, pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban yang mudah. Gagasan revolusi yang muncul dalam narasi tentang pandemi sakit kepala seolah memperlihatkan bahwa perubahan membutuhkan tindakan yang lebih besar daripada sekadar menyadari persoalan. Namun, revolusi juga tidak otomatis menyelesaikan segala sesuatu apabila manusia yang melakukannya masih membawa cara berpikir yang sama dengan sistem yang hendak dirobohkan. Mengganti orang yang berkuasa tanpa mengubah kebiasaan mematuhi ketidakadilan hanya akan menghasilkan bentuk kekuasaan baru dengan persoalan lama. Karena itu, perubahan semestinya tidak hanya diarahkan kepada sistem di luar diri, tetapi juga kepada cara kita memperlakukan orang lain dan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Ada satu hal yang menurut saya perlu dipikirkan lebih jauh dari gagasan tersebut. Ketika sebuah sistem dapat membuat manusia kehilangan kebebasan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana sistem itu dilawan, tetapi juga bagaimana manusia membangun ruang untuk tetap merdeka di dalamnya. Ruang tersebut membutuhkan keberanian untuk berbeda pendapat, mempertanyakan keputusan, menolak perlakuan yang tidak adil, dan tidak menjadikan kepatuhan sebagai alasan untuk melepaskan tanggung jawab. Solidaritas juga menjadi penting karena penderitaan orang lain tidak selalu terpisah dari kenyamanan yang sedang kita nikmati. Bisa jadi, sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai keuntungan justru berdiri di atas kesulitan orang lain yang tidak pernah kita pikirkan.

Pada akhirnya, Kepala Badan mengingatkan bahwa persoalan terbesar manusia bukan hanya ketika ia hidup di tengah sistem yang buruk, melainkan ketika ia mulai merasa nyaman menjadi bagian dari sistem tersebut. Kita bisa mengutuk ketidakadilan, tetapi pada saat yang sama ikut memeliharanya melalui sikap diam, kepatuhan, dan keengganan untuk mempertanyakan sesuatu. Kita bisa merasa sebagai manusia baik hanya karena tidak pernah melakukan pelanggaran secara langsung, meskipun tindakan dan keputusan kita turut membuat orang lain kehilangan haknya. Barangkali, sebelum sibuk mencari siapa yang harus dilawan, kita perlu memeriksa satu pertanyaan yang lebih dekat dan lebih tidak nyaman: jangan-jangan selama ini kita bukan hanya hidup di dalam sistem yang bermasalah, melainkan ikut membuatnya tetap bekerja.

Dengan demikian, revolusi tidak selalu harus dimulai dengan merobohkan sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari keberanian untuk tidak membenarkan ketidakadilan, kesediaan untuk mempertanyakan aturan yang merugikan, dan keputusan untuk tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai alasan mengabaikan penderitaan orang lain. Kita memang tidak selalu memiliki kekuatan untuk mengubah seluruh sistem, tetapi kita selalu memiliki tanggung jawab atas tindakan yang kita pilih di dalamnya. Sebab, masyarakat yang kehilangan kesadaran tidak hanya dibentuk oleh mereka yang menguasai, tetapi juga oleh mereka yang memilih untuk tidak berpikir dan tidak peduli.

Mungkin itulah yang perlu kita bawa pulang setelah pertunjukan berakhir. Bahwa tubuh tanpa kepala bukan semata-mata gambaran ganjil yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan, melainkan peringatan tentang kemungkinan manusia kehilangan kesadaran di tengah kehidupan yang dianggap normal. Kita tidak cukup hanya menjadi penonton yang memahami pesan pertunjukan, mengangguk pada kritik yang disampaikan, lalu kembali menjalani kebiasaan yang sama tanpa perubahan sikap. Jika panggung telah mengajak kita mempertanyakan sistem yang membuat manusia kehilangan kemanusiaannya, kehidupan di luar panggung menuntut kita melakukan hal yang sama terhadap diri sendiri. Jangan sampai setelah menyaksikan manusia kehilangan kepala di atas panggung, kita justru pulang dan kembali kehilangan pikiran dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar