Pertunjukan tari dalam rangkaian Serah#4 Narasi Tubuh dalam Parade Tari yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kudus menghadirkan karya yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga kaya akan makna kehidupan. Salah satu karya yang menonjol adalah Jantra Ning Laku, sebuah tari kreasi dari Sanggar Tari Panji Wilis yang mengangkat gagasan tentang hidup sebagai perjalanan yang terus bergerak dan berputar.
Dalam karya ini, tubuh penari menjadi medium utama untuk menyampaikan cerita. Gerak tidak sekedar hadir sebagai estetika, melainkan sebagai bahasa yang lahir dari pengalaman batin. Setiap langkah, gestur, dan ekspresi merepresentasikan dinamika kehidupan manusia, tentang pencarian, pergulatan, hingga proses memahami diri yang tidak pernah benar-benar usai.
Konsep tersebut selaras dengan makna Jantra Ning Laku, yang memandang kehidupan sebagai perjalanan yang terus berputar. Tarian ini menghadirkan berbagai fase kehidupan, mulai dari kebahagiaan, harapan, konflik, kegagalan, hingga percintaan. Semua fase itu menjadi bagian penting dalam proses tumbuh sebagai manusia. Melalui gerak yang dinamis dan ekspresif, penonton diajak untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan bahwa setiap pengalaman memiliki makna.
Kekuatan makna juga hadir melalui kostum yang dikenakan para penari. Atasan berwarna merah mencerminkan energi, keberanian, sekaligus gejolak emosi dalam kehidupan. Kain batik menjadi simbol keterikatan pada tradisi dan jejak perjalanan hidup yang penuh dinamika. Sementara itu, selendang kuning yang menjuntai panjang menggambarkan laku hidup yang terus mengalir : panjang, bergerak, dan penuh harapan menuju tujuan.
Hiasan kepala yang dikenakan para penari menambah kesan anggun sekaligus melambangkan kesadaran diri dan kontrol batin. Hal ini mempertegas bahwa dalam perjalanan hidup, manusia tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi juga menjalani proses pemaknaan dalam dirinya.
Menariknya, tarian ini tidak menggunakan properti tambahan. Tubuh penari menjadi satu-satunya media untuk bercerita, menghadirkan kesan jujur, dekat, dan apa adanya. Pilihan ini justru memperkuat pesan tentang jati diri dan keberanian dalam menghadapi kehidupan.
Karya ini dibawakan oleh empat penari yang tampil saling melengkapi. Fa’iz menghadirkan energi kuat dan karakter tegas yang memperkaya dinamika kelompok. Fani menampilkan perpaduan gerak yang tegas sekaligus halus, menjaga keseimbangan rasa dalam tarian. Naisya membawa emosi yang kuat, membuat setiap geraknya terasa hidup. Sementara Nazala menghadirkan kelembutan yang penuh makna dengan ekspresi yang menyentuh.
Bersama, mereka membangun satu kesatuan cerita tentang kehidupan yang utuh. Jantra Ning Laku mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang proses menghadapi, menerima, dan memahami setiap fase yang datang.
Melalui karya ini, tari menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia hadir sebagai cara untuk bercerita tentang manusia, tentang perjalanan, dan tentang makna yang terus bergerak bersama waktu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar