Kita akan mengenang Djamhari, sang penemu racikan kretek pertama; Nitisemito, pengusaha visioner yang dijuluki Raja Kretek; hingga Atmowidjojo, keluarga peracik yang mewariskan cita rasa lintas generasi. Tak kalah penting, kita juga membuka kembali kisah-kisah yang kerap terlupa: Moeslich dengan Tebu, Maāroef dari Djambu Bol, Koo Djie Siang pendiri Nojorono, Oei Gwan perintis Djarum, dan M.C. Wartono Sukun, sang inovator yang menyalakan bara industri hingga ke pelosok negeri.
Spesial tur kali ini bukan sekadar kunjungan ke museum atau pabrik lama. Ini adalah upaya membaca ulang sejarah Kudus melalui jejak tangan-tangan yang bekerjaāmelihat sisi-sisi yang jarang terceritakan, mendengar kisah yang luput dari buku pelajaran, dan merasakan napas yang pernah menghidupi kota ini. Mari berjalan bersama, menyusuri jalanan yang pernah dilalui para parawira kretekāmereka yang menyalakan bukan hanya rokok, tetapi api kehidupan di Kudus.
Masyarakat Indonesia telah mengenal rokok kretek sejak berabad-abad lalu. Dalam Babad Tanah Jawi, kisah tentang Roro Mendut menyebutkan rokok lintingan tembakau dan cengkih, namun sosok yang dikenal sebagai penemu kretek justru muncul di akhir abad ke-19: seorang lelaki bernama Haji Djamhari dari Kudus. Ia hidup di lingkungan para pekerja pabrik rokok dan dikenal karena racikan tembakau serta cengkih yang digunakan untuk mengobati penyakit asmanya.
Dalam buku Djamhari, Buku yang ditulis Edy Supratno memperlihatkan bahwa Rokok racikan Djamhari awalnya disebut rokok cengkih. Ketika dibakar, bunyi ākretek-kretekā yang dihasilkan dari cengkih terbakar kemudian menjadi asal mula sebutan rokok kretek. Racikan itu bukan hanya menyembuhkan dirinya, tetapi juga disukai banyak orang hingga menjadi kebiasaan baru di kalangan masyarakat Kudus. Sejak saat itu, kretek berkembang menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus industri khas Indonesia.
Djamhari lahir pada dekade 1870-an di Langgardalem, Kudus. Ia adalah anak dari pasangan Mirkam alias Haji Somad dan Yawijah. Sekitar 1890-an, Djamhari menikahi Masāidjah, putri Hj. Masirah, keturunan Demak. Pada masa muda, ia dikenal aktif di masyarakat dan sempat menjadi Komisaris Sarekat Islam Kudus wilayah Prawoto pada tahun 1912. Sosoknya menggambarkan pertemuan antara semangat kewirausahaan dan kesadaran sosial yang tumbuh di kalangan pribumi awal abad ke-20.
Tahun 1918, kerusuhan anti-Cina di Kudus mengguncang kehidupan banyak warga, termasuk Djamhari. Ia memutuskan meninggalkan Kudus menuju Cirebon, lalu menetap di Tasikmalaya. Di kota inilah ia beralih profesi menjadi pedagang pakaian. Meskipun jauh dari tanah kelahirannya, Djamhari tetap dikenal di kalangan keluarga dan kerabat sebagai perokok cengkih yang setia pada racikan khasnya.
Riwayat hidupnya sempat kabur dan dianggap legenda. Tidak ada benda peninggalan atau potret dirinya yang dipajang di Museum Kretek Kudus. Bahkan, sebagian kalangan pernah menganggap Djamhari hanyalah tokoh fiksi yang diciptakan agar industri kretek terhindar dari persoalan hak paten. Namun, catatan keluarga dan berbagai sumber arsip akhirnya menguatkan bahwa Djamhari benar-benar hidup dan meninggalkan keturunan. Djamhari wafat di Tasikmalaya pada tahun 1962 dan dimakamkan di kawasan Jagalan, Kelurahan Tamansari. Jejak hidupnya menghubungkan Kudusātanah asal kretekādengan sejarah sosial Indonesia yang lebih luas. Dari Langgardalem, tempat ia meracik tembakau dan cengkih, lahir sebuah temuan sederhana yang kemudian menjadi simbol budaya, ekonomi, dan kebanggaan nasional: rokok kretek.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar