Esai

Di Ambang Realitas Pementasan Tengul dan Eksperimen

✍ Imam Khanafi - 📅 11 Nov 2025

Di Ambang Realitas Pementasan Tengul dan Eksperimen
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

Keputusan untuk menulis tanpa hadir bukan karena abai, tetapi sebuah eksperimen yang saya yakini perlu: bagaimana menulis dari luar lingkaran lampu panggung, dari sudut yang memberi ruang bagi pikiran untuk bergerak lebih jernih, tidak terjebak dalam impresi visual yang sering kali membius. Dalam posisi ini, saya menjadi penonton yang merenung, bukan penonton yang terpukau; penonton yang membaca gelombang sosial yang ditimbulkan pementasan, bukan sekadar mengingat adegan-adegannya.

Yang saya tangkap dari cerita, dari bisik, dari sisa-sisa getar yang dibawa pulang kawan-kawan adalah bahwa Tengul bukan hanya sebuah lakon. Ia adalah gema moral yang dipantulkan ulang oleh zaman, sebuah tegangan yang kembali dibuka oleh naskah Arifin C. Noer melalui keberanian seorang sutradara muda, Afif Khoirudin Sanjaya, atau Apop, yang tanpa sungkan mengajak penonton masuk ke ruang yang tidak nyaman.

Arifin selalu menulis manusia yang terbentur sistem manusia yang berjuang bukan melawan takdir, melainkan melawan dunia yang sempit, keras, dan sering kali tidak menyediakan ruang untuk bernapas. Tengul, pelawak miskin dari pinggiran, adalah salah satu arketipe terkuat dari dunia Arifin: seseorang yang ingin hidup wajar, tetapi nasib menempatkannya di ruang yang tak pernah ramah.

Absurditas dalam karya Arifin bukanlah nihilisme. Ia adalah bentuk negosiasi yang panjang, kadang melelahkan, antara idealitas dan kebutuhan bertahan hidup. Ia adalah ruang di mana manusia mencoba tetap waras di tengah situasi yang mustahil. Seolah-olah Arifin membisikkan satu kalimat kepada kita: “Eksistensi manusia bukan hanya soal hidup dan mati, tetapi apa yang tersisa ketika hidup mulai terasa tidak masuk akal.”

Kalimat itu seperti menempel di dahi siapa pun yang membaca karyanya. Kini, ketika dunia kita berisik, serba cepat, dan sering kali tidak selaras dengan akal sehat, absurditas itu menemukan rumah barunya. Ia berpindah dari panggung konvensional ke layar ponsel. Linimasa media sosial telah menjadi panggung absurd paling mutakhir tempat tawa, kemarahan, debat, dan misinformasi bergerak bersamaan, tanpa ritme, tanpa konteks, tanpa jeda. Dan di tengah pusaran itu, Indonesia kontemporer dengan puluhan ribu opini lahir setiap detik menjadi ruang di mana kisah Tengul justru terasa paling relevan.

Dalam dunia yang terus bergerak tanpa menoleh, Tengul kembali mengingatkan: absurditas bukan sekadar keadaan, tetapi cermin yang memantulkan betapa kacaunya cara kita hidup hari ini.

Keberanian Artistik Apop

Keputusan Apop menggunakan panggung tapal kuda adalah langkah artistik yang tidak sekadar berani tetapi penuh risiko. Bentuk panggung itu bukan hanya mengatur ruang visual; ia mengatur ulang psikologi penonton. Tiba-tiba, penonton tidak hanya melihat panggung. Mereka melihat satu sama lain. Mereka saling menatap, saling membaca, dan tanpa mereka sadari ikut terlibat dalam peristiwa dramatik yang sedang berlangsung. Setiap ekspresi, setiap bisik, setiap tawa kecil menjadi bagian dari narasi yang hidup di ruangan itu.

Di sinilah letak daya tarik pementasan Tigakoma: penonton tidak diberi ruang aman. Apop memutus pola klasik “penonton menonton aktor” yang selama ini menjadi kenyamanan teater linear. Yang terjadi justru sebuah arena sosial mini sebuah simulasi halus dari kehidupan media sosial di mana penonton saling mengukur moralitas, menakar respon, dan sesekali memantulkan rasa tidak nyaman yang mereka sendiri ciptakan.

Keputusan ini secara halus tetapi tegas mengguncang tradisi teater Kudus yang selama ini mapan: pementasan yang rapi, linier, dengan aktor sebagai pusat tunggal perhatian. Apop, dengan keberanian yang cenderung nekat namun terukur, memperlihatkan bahwa panggung bukan sekadar tempat peristiwa ditampilkan, tetapi medan wacana. Bahwa teater tidak hanya bisa menghibur, tetapi juga dapat merancang percakapan bahkan percakapan yang tidak terucapkan.

Dalam diskusi setelah pementasan, ia menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana namun membuka banyak lapisan: “Harapannya bisa menjadi wacana artistik yang jujur. Kita perlu kejelasan arah, bahkan ketika teater modern sering kehilangan narasi.”

Pernyataan itu mengandung kesadaran mendalam tentang seni: bahwa tradisi bukan warisan yang cukup dipeluk; ia harus diuji, diperdebatkan, bahkan diguncang agar tetap relevan. Dan lewat keberanian memilih panggung tapal kuda, Apop menegaskan bahwa keberanian artistik bukan tentang melawan arus semata, tetapi tentang menciptakan arus baru arus yang membuat penonton tidak hanya menonton, tetapi juga berpikir, merasa, dan mungkin… berubah.

Dalam panggung versi Tigakoma, Tengul tidak lagi hadir sebagai pelawak yang menunggu tawa. Ia berdiri seperti sebuah cermin besar yang diletakkan di tengah ruang sosial, menatap balik kepada siapa pun yang berani memandangnya. Penonton tidak sekadar menyaksikan nasibnya; mereka diuji olehnya. Sebab yang dipertaruhkan di sini bukan alur cerita, melainkan keberanian kita menghadapi diri sendiri.

Pertanyaan yang mengapung sepanjang pementasan terasa sederhana, tetapi sesungguhnya pedih: Mengapa kita menertawakan Tengul? Apakah benar karena ia lucu? Ataukah karena melihat orang lain lebih sengsara memberi kita rasa aman yang terselubung? Tawa dalam pementasan ini bukan lagi tawa yang ringan ia berubah menjadi tawa yang menilai, tawa yang mengungkapkan sesuatu tentang diri kita yang jarang mau kita akui.

Dalam bacaan semacam ini, komedi yang dipakai Arifin berubah menjadi komedi moral: komedi yang menyakitkan justru karena terlalu dekat dengan kenyataan. Kita mendapati bahwa yang lucu bukan Tengul itu sendiri, melainkan sistem sosial yang melahirkan sosok seperti dirinya manusia yang ingin hidup dengan cara biasa, tetapi dipaksa bersiasat demi sekadar bertahan. Ia menjadi simbol dari kehidupan yang keras, kehidupan yang menempatkan moral bukan sebagai cahaya di langit, melainkan sebagai strategi di dapur, di pasar, di pinggir jalan, di sela-sela kantong yang makin menipis.

Di sinilah pementasan ini memukul paling kuat. Tengah-tengah dialog dan tubuh aktor yang bergerak, kita menangkap satu kebenaran getir: ketika tekanan ekonomi memuncak, integritas perlahan berubah menjadi negosiasi. Moralitas menyusut dari prinsip menjadi pilihan-pilihan kecil yang harus disesuaikan dengan kebutuhan hari itu. Tengul menipu bukan karena ia jahat, ia melawan bukan karena ia bengal, ia mengejek nasib bukan karena ia tak beriman ia hanya menempuh strategi bertahan hidup yang sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan.

Pada titik ini, kritik Arifin terasa seperti tamparan yang lembut tapi dalam: kita hidup dalam kultur yang meremehkan kemiskinan sekaligus menjadikannya tontonan. Kita menontonnya, menertawakannya, membiarkannya berjalan sepanjang waktu seolah-olah penderitaan orang lain adalah bagian dari hiburan yang tak berbahaya.

Dan di sana, Tengul berdiri. Bukan sebagai pelawak, tetapi sebagai cermin yang tak bisa kita hindari. Ia memaksa kita bertanya: sejauh mana tawa kita benar-benar tawa, dan sejauh mana ia adalah cara kita menutupi ketidaknyamanan menghadapi realitas sosial yang kita biarkan berlangsung terlalu lama.

Dalam konstruksi dramaturginya, Tengul bergerak lincah di antara dua kutub teater: yang realis dan yang tidak realis. Di tangan Arifin C. Noer, batas keduanya tidak pernah dibuat kaku. Yang realis menampakkan wajah keseharian yang getir; yang tidak realis menjadi jalan lain untuk menyingkap kenyataan yang terlalu tajam bila ditampilkan apa adanya. Ketika hidup terasa terlalu keras untuk diceritakan dalam bentuk realistik, Arifin justru membuka pintu ke wilayah yang lebih liar, lebih bebas, dan lebih jujur secara emosional.

Tokoh seperti Korep hadir sebagai gambaran manusia yang hidup di ambang batas: satu kaki menjejak realitas sosial yang menindih, kaki lain terperosok ke dunia tidak realis yang meledak sebagai fantasi. Fantasi itu bukan pelarian, melainkan respons: sebuah mekanisme bertahan ketika tekanan ekonomi, sosial, dan sistem yang timpang menghimpit angan-angan sampai mengabur. “Yang tidak realis” dalam Tengul justru menjadi ruang bagi hal-hal yang terlalu sakit bila diucapkan secara langsung.

Apop menangkap getaran itu dan memperkuatnya melalui pendekatan yang mengingatkan pada tradisi Brechtian. Ia tidak membiarkan penonton tenggelam dalam belas kasihan yang sentimental. Ia menciptakan jarak secara sadar jarak untuk berpikir. Tubuh aktor tidak hanya menjadi alat untuk memerankan karakter, tetapi menjadi arena gagasan. Setiap gerak, jeda, dan intonasi berubah menjadi penunjuk arah bagi penonton: sebuah ajakan untuk membaca dunia, bukan sekadar menyimak lakon.

Dalam konteks ini, tema besar yang ditanam Arifin terasa makin relevan. Tekanan ekonomi yang mengekang hari ini mampu membuat manusia menembus batas moral tanpa mereka sadari. Subtema kemiskinan, ketertindasan, pertanyaan tentang eksistensi, dan krisis ketuhanan bukan lagi persoalan klasik yang hanya milik masa lalu. Di era digital, isu-isu itu menjelma bentuk baru: kecemasan kolektif, ketakutan akan ketertinggalan, dan rasa hampa yang muncul di tengah dunia yang serba cepat.

Tengul mengingatkan kita bahwa realitas tidak hanya bisa dipahami lewat apa yang tampak. Terkadang, yang paling jujur justru hadir melalui apa yang secara estetika “tidak realis” sebuah wilayah yang memungkinkan kita melihat luka manusia dengan lebih terang, tanpa tedeng aling-aling.

Belajar dari Tengul

Kita seperti diajak bercermin pada kenyataan yang selama ini kita tahu, tetapi jarang mau kita akui. Pementasan ini membuka satu demi satu lapisan hidup masyarakat hari ini lapisan yang retak, terbelah, dan penuh gema dari ruang-ruang kecil tempat kita membenarkan diri sendiri. Teknologi menyebarkan informasi dengan kecepatan cahaya, tetapi justru membuat kita berjalan sendiri-sendiri, sibuk dalam dunia masing-masing. Tengul berdiri di tengah hiruk pikuk itu: sosok yang tersesat bukan karena bodoh, melainkan karena dunia yang terlalu bising dan terlalu cepat untuk dirinya dan mungkin juga untuk kita.

Di sisi lain, Tengul menyingkap betapa rapuhnya moralitas kita. Dalam tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan obsesi akan gaya hidup, nilai moral perlahan menjadi lentur kadang justru terlalu lentur. Tengul hidup di ruang abu-abu itu: ruang di mana kebaikan tak lagi mutlak dan kesalahan tak lagi mengejutkan. Kita melihatnya bukan sebagai tokoh fiksi, melainkan sebagai representasi dari kita sendiri, ketika keadaan memaksa kita merelakan sebagian prinsip hanya demi bertahan.

Dan kemiskinan yang sering kita anggap sekadar fakta statistik dalam pementasan ini tampak sebagai produk sistem yang panjang dan rumit. Tengul tidak hadir dari ruang hampa. Dunia yang melingkupinya adalah dunia yang juga kita kenal: dunia yang memungkinkan kemiskinan tumbuh, beranak, dan diwariskan tanpa henti. Yang perlu berubah bukan sekadar Tengul, tetapi seluruh tatanan yang membuat Tengul terus ada.

Apop, melalui arahan pementasannya, menegaskan bahwa teater daerah tak harus dibelenggu pakem lama. Ada keberanian di sana keberanian yang lahir bukan dari sikap melawan demi sensasi, melainkan dari upaya memurnikan wacana artistik agar tetap tajam dan relevan. Kudus membutuhkan semangat semacam ini: semangat yang bertanya, mengusik, dan merumuskan ulang fungsi seni di tengah masyarakat yang serba gesit berubah.

Pertanyaan yang mengakhiri pementasan itu terasa menggantung lama, bahkan setelah lampu padam: apakah kita benar-benar peduli pada Tengul, atau sebenarnya kita hanya ingin lukanya terus menghibur kita? Pertanyaan yang pelan tapi menghantam. Di dunia yang menertawakan kemalangan demi konten, yang menjadikan tragedi orang lain sebagai hiburan, dan yang diam-diam nyaman ketika kemiskinan tetap ada demi stabilitas batin kelas menengah, Tengul tampil sebagai peringatan keras.

Ia bukan hanya cerita tentang teater. Bukan soal estetika semata. Ia, pada akhirnya, adalah cerita tentang kita: tentang bagaimana kita memandang sesama, bagaimana kita hidup dalam masyarakat yang terus berubah, dan apakah kita berani mengakui bahwa sebagian tawa kita, sesungguhnya, lahir dari luka orang lain.

Keberanian seorang sutradara bukan hanya terletak pada kemampuan teknis atau estetika yang ia hadirkan di panggung, tetapi pada keputusan ontologis yang ia ambil: keputusan untuk memaknai ulang realitas. Apop, dengan memilih panggung tapal kuda dan membiarkan penonton saling menatap, sesungguhnya sedang menantang asumsi dasar tentang siapa yang sesungguhnya menjadi subjek dalam teater. Ia memindahkan pusat peristiwa dari aktor kepada hubungan antar-manusia. Dalam bahasa Heidegger, Apop telah “membuka dunia,” mengungkap struktur keberadaan yang selama ini tersembunyi, memaksa penonton untuk tidak sekadar melihat lakon, tetapi melihat diri sendiri sebagai bagian dari kemungkinan yang ditelanjangi oleh panggung.

Sementara itu, eksperimennya memutus narasi linear dan memberi ruang pada tubuh aktor untuk menjadi medan gagasan menunjukkan bahwa Apop memahami teater bukan sebagai cerita, tetapi sebagai peristiwa kesadaran. Langkah ini mengingatkan pada pemikiran Antonin Artaud tentang teater sebagai guncangan, sebuah medium yang mengoyak kenyamanan persepsi. Di tangan Apop, Tengul tidak sekadar dipentaskan ulang; ia direnggut dari sejarahnya, diletakkan di meja bedah, dan diperiksa seperti tubuh sosial yang penuh luka. Inilah bentuk apresiasi tertinggi bagi karya Arifin: bukan dengan mengulanginya, tetapi dengan menguji ketahanannya terhadap konteks zaman yang baru.

Pada akhirnya, apresiasi terbesar terhadap Apop bukan hanya pada keberaniannya menghadirkan formasi artistik yang tidak lazim di Kudus, tetapi pada ketegasannya mempertaruhkan makna. Ia memilih jalan yang sulit: membuka percakapan, bukan memberi jawaban; menggelisahkan, bukan menenangkan. Ia menghadirkan kegelisahan moral sebagai ruang dialog kolektif, sesuatu yang dalam pandangan filsuf Emmanuel Levinas adalah inti etika: relasi yang memaksa kita bertanggung jawab pada keberadaan yang lain. Melalui Tengul, Apop mengingatkan kita bahwa seni bukan hanya penyuguh keindahan, tetapi penjaga kewaspadaan batin sebuah peringatan agar kita tidak terlalu cepat nyaman dengan dunia yang sesungguhnya belum selesai kita pahami. Semoga. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar