Esai

Dari Akar Tradisi Menuju Kesadaran Kolektif

✍ Imam Khanafi - 📅 31 Mar 2026

Dari Akar Tradisi Menuju Kesadaran Kolektif
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

KIRAB tumpeng yang digelar pemuda Dukuh Duplak, Desa Tempur Sabtu (28/3) lalu di Jepara bukan sekadar peristiwa budaya yang meriah dan simbolik. Ia hadir sebagai ekspresi yang lahir dari kegelisahan kolektif terhadap ancaman terhadap alam dan ruang hidup. Dalam arak-arakan itu, tumpeng menjelma bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai simbol kosmologis yang menghubungkan manusia dengan semesta. Nyanyian, doa, dan langkah kaki menjadi bahasa tubuh yang menyampaikan sikap. Tradisi di sini tidak berdiri sebagai masa lalu yang beku, melainkan bergerak sebagai energi yang hidup. Ia menjadi medium artikulasi bagi generasi muda untuk berbicara kepada zamannya.

Pemuda Dukuh Duplak Desa Tempur memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu identik dengan kepasifan. Mereka justru mengaktifkan tradisi sebagai bentuk intervensi terhadap realitas sosial yang sedang berubah. Kirab tumpeng menjadi ruang di mana nilai-nilai diwariskan sekaligus ditafsir ulang. Dalam konteks ini, tradisi bukan sekadar diulang, tetapi dihidupkan kembali dengan kesadaran baru. Gerak kolektif ini mencerminkan transformasi dari kesadaran individual menuju kesadaran komunal. Ada kehendak untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan warisan leluhur.

Gagasan Martin Heidegger tentang Dasein menjadi relevan untuk membaca fenomena ini. Dasein merujuk pada keberadaan manusia yang selalu terikat pada dunia tempat ia berada. Pemuda Dukuh Duplak Desa Tempur tidak hadir dalam ruang hampa, melainkan dalam keterlemparan historis yang konkret. Mereka hidup di tanah yang memiliki sejarah, mitos, dan makna ekologis yang kuat. Kirab tumpeng menjadi cara mereka memahami dan menghidupi keberadaan tersebut. Dalam tindakan itu, mereka tidak hanya ada, tetapi juga menyadari keberadaannya.

Konsep Geworfenheit atau keterlemparan menjelaskan bahwa manusia tidak memilih kondisi awal keberadaannya. Pemuda Dukuh Duplak Desa Tempur “dilemparkan” ke dalam situasi di mana alam mereka terancam oleh pembangunan yang eksploitatif. Namun, keterlemparan ini tidak membuat mereka pasrah. Justru dari situ muncul kesadaran untuk bertindak dan merespons. Mereka memilih untuk tidak diam dan menjadikan tradisi sebagai medium perlawanan. Tumpeng yang diarak menjadi simbol keberpihakan terhadap kehidupan. Dalam hal ini, tradisi menjadi bentuk eksistensi yang aktif.

Lebih jauh, Heidegger juga berbicara tentang Ereignis, yaitu peristiwa pengungkapan atau pengumpulan makna. Kirab tumpeng dapat dilihat sebagai momen Ereignis, di mana makna-makna yang tercerai berai kembali dipersatukan. Alam, manusia, dan tradisi bertemu dalam satu peristiwa yang intens. Pemuda tidak sekadar merayakan, tetapi juga merefleksikan keberadaan mereka. Dalam kirab itu, terjadi dialog antara masa lalu dan masa kini. Tradisi menjadi ruang pertemuan lintas waktu. Ia menjadi tempat di mana identitas kolektif dipertegas kembali.

Kirab ini juga memiliki struktur dramaturgi yang kuat. Ia dapat dibaca sebagai bentuk teater rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Dalam hal ini, pemikiran Aristotle tentang Poetics memberikan kerangka yang menarik. Kirab tumpeng mengandung unsur mimesis, yaitu peniruan terhadap kehidupan dan tradisi leluhur. Arak-arakan tersebut merepresentasikan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Dalam proses itu, masyarakat tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan. Emosi kolektif dibangun melalui simbol dan tindakan.

Unsur katharsis juga hadir dalam kirab tersebut. Melalui doa dan nyanyian, masyarakat melepaskan ketegangan dan kecemasan mereka. Ancaman terhadap alam tidak hanya dipahami secara rasional, tetapi juga dirasakan secara emosional. Kirab menjadi ruang untuk membersihkan diri dari rasa takut dan ketidakberdayaan. Dalam momen klimaks, ketika doa bersama dipanjatkan, terjadi pelepasan energi kolektif. Ini memperkuat solidaritas antarwarga. Tradisi menjadi sarana penyembuhan sosial.

Selain itu, konsep anagnorisis atau pengenalan kembali juga tampak dalam kirab ini. Masyarakat mengalami momen kesadaran tentang pentingnya menjaga alam. Mereka mengenali kembali hubungan mereka dengan tanah dan lingkungan. Kirab menjadi titik balik yang membuka mata kolektif. Dari situ, lahir kesadaran baru yang lebih reflektif. Tradisi tidak hanya dikenang, tetapi dipahami kembali. Ia menjadi sumber pengetahuan yang hidup.

Jika dilihat melalui kacamata Bertolt Brecht, kirab tumpeng juga mengandung elemen teater epik. Brecht menekankan pentingnya Verfremdungseffekt atau efek keterasingan. Dalam kirab, tumpeng raksasa dan nyanyian protes menciptakan jarak yang membuat penonton berpikir. Mereka tidak larut sepenuhnya dalam emosi, tetapi diajak untuk merefleksikan situasi. Ini berbeda dengan teater yang hanya menghibur. Kirab justru menggugah kesadaran kritis. Ia menjadi alat pendidikan sosial.

Pemuda Dukuh Duplak Desa Tempur berperan sebagai aktor sekaligus sutradara dalam pertunjukan ini. Mereka merancang aksi yang tidak hanya estetis, tetapi juga politis. Dalam struktur dramaturgi, terdapat alur yang jelas. Dimulai dari pengumpulan massa, kemudian muncul konflik berupa penolakan terhadap balak. Lalu, aksi mencapai klimaks melalui doa dan nyanyian. Akhirnya, terdapat resolusi dalam bentuk harapan dan solidaritas. Struktur ini membuat kirab menjadi pertunjukan yang utuh.

Kirab ini juga bersifat partisipatif. Tidak ada batas tegas antara penonton dan pelaku. Semua orang yang hadir menjadi bagian dari peristiwa. Ini sejalan dengan konsep teater komunitas yang menekankan keterlibatan langsung masyarakat. Tradisi menjadi ruang inklusif yang membuka partisipasi. Dalam konteks ini, seni tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ia justru menjadi bagian dari praktik sosial. Kirab menjadi bentuk demokratisasi budaya.

Dari perspektif Maurice Merleau-Ponty, kirab ini dapat dipahami sebagai pengalaman persepsi berbadan. Tubuh menjadi medium utama dalam memahami dunia. Pemuda yang mengarak tumpeng merasakan langsung hubungan dengan tanah dan lingkungan. Gerakan tubuh mereka mengandung makna yang mendalam. Tradisi tidak hanya dipikirkan, tetapi dialami secara fisik. Ini menciptakan keterlibatan yang lebih intens.

Tumpeng dalam kirab tersebut menjadi ekstensi dari tubuh kolektif masyarakat. Ia tidak lagi sekadar objek, tetapi bagian dari pengalaman hidup. Ketika tumpeng diarak, ada relasi antara manusia dan simbol yang terbangun. Relasi ini bersifat emosional sekaligus spiritual. Dalam proses itu, tubuh menjadi sarana ekspresi dan komunikasi. Tradisi menjadi bahasa yang dipahami bersama. Ia menghubungkan individu dengan komunitas.

Kirab tumpeng juga mencerminkan dinamika antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, ia berakar pada nilai-nilai lama. Di sisi lain, ia merespons tantangan kontemporer. Pemuda Dukuh Duplak Desa Tempur tidak menolak modernitas secara total. Mereka hanya menolak bentuk modernitas yang merusak. Dalam hal ini, tradisi menjadi filter kritis. Ia membantu masyarakat memilih jalan yang lebih bijak.

Perlawanan terhadap balak menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi alat politik. Namun, politik yang dimaksud bukan sekadar kekuasaan, melainkan keberpihakan pada kehidupan. Kirab menjadi bentuk komunikasi yang kuat. Ia menyampaikan pesan tanpa kekerasan. Dalam simbol dan ritual, terdapat kritik yang tajam. Tradisi menjadi bahasa alternatif dalam menyuarakan aspirasi. Ini menunjukkan kekuatan budaya dalam ruang publik.

Gerakan ini juga menunjukkan pentingnya peran pemuda dalam menjaga tradisi. Mereka tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga inovator. Dengan kreativitas mereka, tradisi dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan. Ini penting untuk menjaga keberlanjutan budaya. Tanpa keterlibatan generasi muda, tradisi bisa kehilangan maknanya. Kirab tumpeng menjadi contoh bagaimana tradisi dapat direvitalisasi.

Dalam konteks yang lebih luas, kirab ini dapat menjadi model bagi komunitas lain. Ia menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi modern. Justru dengan memahami tradisi, masyarakat dapat menghadapi perubahan dengan lebih bijak. Kirab tumpeng menjadi inspirasi bagi gerakan berbasis budaya. Ia membuktikan bahwa akar lokal memiliki kekuatan besar. Tradisi dapat menjadi sumber daya sosial.

Fenomena ini juga mengingatkan bahwa budaya tidak pernah netral. Ia selalu terkait dengan kekuasaan dan kepentingan. Dalam kirab, budaya digunakan untuk melawan dominasi yang merusak. Ini menunjukkan bahwa seni dan tradisi memiliki potensi emansipatoris. Mereka dapat menjadi alat pembebasan. Dalam konteks ini, kirab tumpeng menjadi bentuk resistensi yang kreatif. Ia menggabungkan estetika dan etika.

Kirab tumpeng akhirnya menjadi lebih dari sekadar peristiwa budaya. Ia adalah peristiwa sosial, filosofis, dan politis yang kompleks. Dalam satu aksi, terdapat berbagai lapisan makna yang saling terkait. Dari Heidegger hingga Brecht, dari tubuh hingga komunitas, semua bertemu dalam kirab tersebut. Ini menunjukkan kekayaan tradisi sebagai ruang refleksi. Ia membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam memahami dunia.

Melalui kirab ini, Pemuda Dukuh Duplak Desa Tempur menunjukkan bahwa tradisi adalah kekuatan yang hidup. Ia tidak hanya diwariskan, tetapi juga diperjuangkan. Dalam setiap langkah arak-arakan, terdapat kesadaran yang tumbuh. Tradisi menjadi jalan untuk merawat kehidupan. Ia menghubungkan manusia dengan akar terdalamnya. Dan dari akar itulah, perlawanan yang bermakna tumbuh. Semoga. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar