SAYA menulis esai ini dengan sebuah pengakuan awal: saya belum membaca naskah Erang. Tak ada teks di tangan, tak ada dialog yang bisa saya kutip persis. Yang saya miliki hanyalah ingatan dari pementasan yang saya saksikan—di Rumah Khalwat Rejosari atau RKBBR Kudus pada 21 September 2025—dan serpih-serpih kesan yang terus menempel di kepala, menolak pergi. Namun justru dari keterbatasan inilah saya belajar: sebuah naskah yang baik selalu memberi tanda, bahkan ketika teksnya belum terbaca. Ia hadir melalui tubuh aktor, melalui irama pementasan, melalui jeda dan erang yang tak selesai.
Idham Ardi menulis naskah dan mementaskannya saat semua tahu bagaimana tahun-tahun belakangan ini seperti medan yang tak menentu: kabar perang di layar gawai, inflasi yang tak pernah ramah, perasaan genting yang menular dalam percakapan sehari-hari. Dari kegentingan semacam itulah Erang lahir, sebagai sandiwara gelap yang menolak kepahlawanan, menolak glamor. Ia bukan drama perang ala film propaganda, melainkan sebuah jeritan: suara kemanusiaan yang mengantarai hidup dan mati, mati dan hidup. Sebuah erang.
Saya ingat satu adegan ketika aktor-aktor Teater Sandilara membiarkan tubuhnya terguncang, seolah menahan sesuatu yang tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Di titik itu, kata “erang” menemukan maknanya yang paling telanjang: bukan sekadar bunyi, tetapi bukti bahwa manusia belum sepenuhnya kalah. Ia adalah tanda keberanian untuk tetap bersuara, meski dunia seperti sedang runtuh.
Salah satu hal paling menarik dari pementasan ini adalah sikapnya terhadap darurat. Perang dalam Erang bukan hanya latar cerita, tetapi juga prinsip estetika. Dalam keadaan darurat, apakah kita masih memerlukan kostum yang rapi, tata rias yang halus, atau dialog yang puitis? Idham dan Teater Sandilara menjawabnya dengan tegas: tidak. Yang terutama adalah irama—irama pertunjukan, irama teks, irama tubuh.
Di panggung RKBBR yang sederhana, saya melihat para aktor bekerja bukan untuk menipu penonton, tetapi untuk menjaga irama itu tetap hidup. Tidak ada ilusi bahwa kita sedang melihat “dunia lain”. Sebaliknya, mereka terus-menerus mengingatkan: ini panggung, ini sandiwara. Justru dalam pengakuan itulah kritik sosial bekerja. Kita dipaksa menyadari bahwa perang di luar panggung pun adalah sandiwara besar: bisnis bagi pemodalnya, kekonyolan bagi pelakunya, dan tragedi bagi korbannya.
Pertunjukan Erang membuka ruang negosiasi antara ritus dan kritik sosial. Ia bukan sekadar upacara vertikal—manusia ke langit—tetapi juga percakapan horizontal—manusia dengan manusia. Ada kebijaksanaan yang disampaikan lewat simbol, tapi tidak dengan nada khotbah. Tidak ada satu cara pandang yang menang mutlak. Penonton dipersilakan menafsir, menolak, atau bahkan mengabaikan.
Pertanyaan-pertanyaan pun lahir: cermin seperti apa yang kita butuhkan dari teater? Cermin yang utuh untuk menenangkan, atau cermin yang retak untuk membangunkan? Ketika kita tersentuh oleh penderitaan di panggung, apakah yang kita rasakan adalah solidaritas sejati atau sekadar kepuasan emosional sebelum kembali ke kenyamanan hidup? Jika panggung hanyalah dunia rekaan, mengapa ia bisa terasa lebih “nyata” daripada berita?
Saya tidak membawa pulang jawaban, hanya kegelisahan. Tetapi mungkin memang itu tujuan Erang: bukan untuk menyelesaikan, melainkan untuk membuka pintu bagi dialog yang berpindah dari panggung ke benak penonton.
Karena itu, setiap kali ada kelompok teater mementaskan karya di Kudus, saya selalu berkata dengan jujur: pentas kalian biasa saja. Dan itu bukan hinaan, melainkan pengingat. Kudus sudah lama menanamkan teater sejak dini—dari panggung Festival Teater Pelajar tingkat SMP hingga berbagai kegiatan sekolah—sehingga bagi saya, pertunjukan teater bukan lagi sesuatu yang “luar biasa” semata karena keberadaannya. Panggung, tata cahaya, dialog—semuanya sudah menjadi bagian dari kebudayaan lokal yang akrab. Maka setiap pentas baru, sebaik apa pun, selalu saya pandang sebagai bagian dari arus yang sudah lama mengalir, bukan kejutan yang jatuh dari langit.
Namun justru karena itu pula saya menaruh hormat pada setiap keberanian untuk tetap mementas di kota ini. Menjalankan teater di Kudus berarti menantang standar yang sudah lama ada, menembus ekspektasi publik yang terbiasa, dan tetap berpegang pada keyakinan bahwa setiap pertunjukan, meski “biasa” di mata sebagian orang, selalu membawa nyala kecil yang penting bagi kebudayaan kita. Keberanian itulah yang layak diapresiasi: keteguhan untuk terus hadir, terus menghidupkan panggung, dan terus menambah lapisan cerita dalam sejarah teater Kudus, meskipun sorotan lampu tak selalu memuja.
Belajar Menulis dari Erang
Mengapa saya berani mengatakan bahwa Erang adalah naskah yang epik, meski belum membacanya? Karena pementasan ini menegaskan bahwa naskah yang baik bukan hanya kumpulan kata, tetapi kerangka hidup. Ia memberi kebebasan kepada aktor untuk bermain, kepada sutradara untuk menafsir, kepada penonton untuk merenung. Ia memuat lapisan-lapisan yang tak habis sekali pandang: personal sekaligus politis, ritus sekaligus kritik, tragedi sekaligus ironi.
Bagi siapa pun yang ingin menulis naskah teater, Erang bisa menjadi guru yang sunyi. Ia mengingatkan bahwa menulis bukan sekadar merangkai dialog, tetapi menyiapkan ruang—ruang bagi kegelisahan, ruang bagi tanya, ruang bagi erang. Dalam dunia yang serba cepat dan dangkal, keberanian untuk menciptakan ruang seperti ini adalah keberanian yang langka.
Di titik inilah saya ingin menutup dengan sebuah catatan yang mungkin terdengar getir. Kudus adalah kota dengan sejarah panjang, kota yang penuh cerita, kota yang tak kekurangan penulis. Namun hingga kini, saya belum menemukan banyak penulis naskah teater dari Kudus yang benar-benar keluar sebagai “penulis handalan”—penulis yang karyanya bisa dinikmati dengan kenikmatan yang sama seperti saya menikmati Erang. Banyak yang menulis, banyak yang mencoba, tapi sedikit yang berani menelurkan naskah yang punya kedalaman, keberanian, dan irama seperti ini.
Erang menunjukkan bahwa hal itu mungkin. Ia lahir dari tanah yang sama, dari udara yang sama, dari kegelisahan yang juga kita rasakan. Maka pertanyaan selanjutnya adalah: kapan kota ini akan melahirkan lebih banyak naskah sekuat Erang? Kapan para penulis kita berhenti bermain aman, berhenti menulis sekadar untuk tampil, dan mulai menulis dengan taruhan penuh seperti Idham Ardi N.?
Sampai saat itu tiba, Erang akan tetap menjadi rujukan. Sebuah erang yang terus menggema, menembus batas panggung, memanggil kita semua—penonton, penulis—untuk bangun dari kenyamanan, menatap kegelapan, dan belajar menulis dengan keberanian. Semoga bermanfaat. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar