Esai

Api yang Dilupakan dan Tafsir Estetika Puja Doa Kretek

✍ Imam Khanafi - 📅 08 Oct 2025

Api yang Dilupakan dan Tafsir Estetika Puja Doa Kretek
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

Di tengah gegap budaya digital dan asap mesin industri modern, ada sesuatu yang perlahan memudar dari kehidupan kita: penghormatan terhadap api yang menyala dengan khidmat. Api yang bukan sekadar membakar tembakau, tapi menyala di dada para pekerja linting, di altar kecil para perajin, di doa yang berhembus bersama asap kretek. Dalam dunia yang kian sibuk menghitung laba, makna spiritual dan sosial dari kretek seolah tertinggal di balik kabut modernitas.


Kita lupa bahwa kretek bukan hanya komoditas, melainkan kebudayaan — sebatang doa yang dihidupi dengan keringat, cinta, dan kesadaran. Maka ketika Puja Doa Kretek digelar di bawah cahaya obor dan aroma dupa, ia hadir bukan sekadar sebagai nostalgia, melainkan sebagai panggilan untuk mengingat kembali: bahwa bekerja, mencipta, dan berdoa dahulu pernah menyatu dalam satu tarikan napas.


Dalam kesunyian yang dihidupi oleh aroma dupa dan nyala obor, Puja Doa Kretek bukan sekadar peringatan atas sejarah industri, melainkan perayaan eksistensial: pertemuan antara yang material dan spiritual, antara bunyi kemeretek dan gema kesadaran budaya. Di titik itu, kretek tidak lagi sekadar benda konsumsi, melainkan simbol yang berdenyut di antara tubuh, tanah, dan ingatan kolektif bangsa.


Bagi masyarakat Kudus, kretek adalah semacam “kitab yang berasap”. Ia tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan keringat dan api. Ia menandai sejarah manusia yang bekerja, merenung, dan berdoa. Dalam nyalanya terkandung kisah-kisah tentang tenaga kerja perempuan yang melinting, tentang aroma cengkeh yang menggoda waktu, dan tentang ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari kesadaran spiritual.


Di sinilah Puja Doa Kretek menjadi sebuah ruang refleksi yang unik: bukan pameran, bukan upacara keagamaan, bukan pula pertunjukan teater semata, melainkan semacam ritual estetik — perjumpaan antara tubuh, bunyi, dan makna.


Jika dilihat dari kacamata filsafat seni, acara tersebut merupakan praktik mimesis sekaligus aletheia — dua konsep penting yang menandai hakikat seni dalam pandangan klasik dan kontemporer.


Dalam pemikiran Plato, mimesis sering diartikan sebagai peniruan realitas. Namun bagi Aristoteles, seni tidak sekadar meniru, tetapi juga mencipta ulang kenyataan agar tampak lebih utuh dan bermakna. Puja Doa Kretek mempraktikkan hal itu: ia meniru sejarah, tetapi juga mengolahnya menjadi kesadaran baru.


Setiap prosesi — dari pembacaan kronika sejarah kretek hingga tapa bisu — adalah bentuk mimesis yang hidup: representasi perjalanan manusia dalam memahami dirinya melalui simbol dan ritus. Ketika obor dinyalakan, ketika dupa dibakar, ketika tubuh-tubuh manusia berjalan dalam diam, yang dihadirkan bukan sekadar pertunjukan, melainkan aletheia, pengungkapan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kabut industrialisasi.

Dalam konteks Heideggerian, aletheia adalah proses “menyingkap yang tersembunyi”. Puja Doa Kretek menyingkap sesuatu yang selama ini tidak terlihat — bahwa di balik industri, ada jiwa; di balik ekonomi, ada doa; dan di balik sebatang rokok kretek, ada narasi panjang tentang identitas dan martabat manusia Indonesia.

Nyala obor dalam ritual tersebut adalah citra tentang api yang memberi terang namun juga menyisakan abu. Ia menjadi metafora dari kehidupan kretek itu sendiri: membakar, menyala, lalu lenyap — namun meninggalkan aroma yang tak pernah betul-betul hilang dari sejarah budaya Indonesia.

Secara simbolik, api adalah unsur purba yang menyatukan dunia material dan spiritual. Dalam banyak tradisi Timur, api adalah lambang penyucian dan kesadaran. Dalam konteks estetika kretek, api menyimbolkan energi kreatif: proses transformasi dari bahan mentah menjadi makna.

Jika kita meminjam pandangan Gaston Bachelard dalam The Psychoanalysis of Fire, api adalah citra imajinal yang melampaui fungsi fisiknya. Ia mengandung daya puitik — ia membakar sekaligus menyalakan ingatan. Ketika masyarakat Kudus menyalakan obor dalam Puja Doa Kretek, mereka sesungguhnya menyalakan ingatan kolektif yang nyaris padam di tengah modernitas: ingatan tentang asal-usul, tentang kerja yang sakral, dan tentang keindahan yang lahir dari kesederhanaan. Sementara abu menjadi simbol waktu. Abu adalah sisa — namun justru di situlah makna hidupnya. Dalam abu tersimpan aroma masa lalu, bukti bahwa sesuatu pernah menyala. Begitulah kretek: ia mengajarkan estetika tentang kefanaan yang berbekas.

Kretek sebagai Peristiwa Keberadaan

Kretek, dalam perspektif Heideggerian, dapat dibaca sebagai thingness — “keberbentukan benda” yang menyingkap dunia. Heidegger dalam esainya The Thing menjelaskan bahwa benda sejati bukan sekadar objek, melainkan sesuatu yang menghadirkan dunia di sekelilingnya.

Kretek, dengan demikian, bukan sekadar rokok. Ia adalah wadah bagi peristiwa keberadaan (Dasein) masyarakat Kudus yang hidup di antara spiritualitas, ekonomi, dan estetika. Dalam setiap lintingannya, terkandung relasi manusia dengan tanah, kerja, dan doa.

Proses melinting, misalnya, adalah tindakan repetitif yang mirip meditasi. Setiap gerakan tangan para buruh linting adalah bentuk poiesis — kegiatan mencipta yang melibatkan kesadaran tubuh dan batin. Mereka tidak hanya bekerja untuk hidup, tetapi juga melanjutkan sebuah doa yang turun-temurun.

Dalam pengertian ini, Puja Doa Kretek menjadi ruang poiesis: tempat di mana manusia memperbuat dunia dan memberi makna pada yang tampak fana. Ia menjembatani antara kerja dan karya, antara ekonomi dan estetika, antara keringat dan kesadaran.

Pertunjukan puisi Pamflet Kretek dan performance art malam itu menghadirkan bentuk ars poetica yang khas Indonesia — di mana keindahan tidak dipisahkan dari kerja dan kesadaran sosial. Karya Asa Jatmiko, misalnya, menegaskan bahwa seni tidak berhenti pada estetika formal, tetapi juga menjadi praksis etis: menuturkan penderitaan, ketahanan, dan kebersamaan rakyat.

Walter Benjamin dalam esainya The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction menyebut konsep “aura” — yaitu pengalaman spiritual yang melekat pada karya seni yang otentik dan hidup. Dalam konteks Puja Doa Kretek, aura itu hadir bukan karena keaslian benda, melainkan karena kesungguhan pengalaman. Seni di sana tidak dipamerkan, tapi dihidupi.

Ketika musik dan puisi bertemu dengan aroma cengkeh dan tembakau, yang lahir adalah estetika yang bekerja. Estetika yang bukan untuk dinikmati secara pasif, tetapi untuk diresapi sebagai kesadaran etis: bahwa kerja adalah bentuk doa, dan doa adalah wujud tertinggi dari cinta terhadap kehidupan.

Sementara itu, jalan sunyi tanpa alas kaki — tapa bisu — menghadirkan dimensi mistik dalam tubuh estetika acara. Diam menjadi bahasa yang paling dalam, seperti ajaran Zen yang menyatakan bahwa makna tertinggi tidak diucapkan, melainkan dihidupi.

Dalam diam, tubuh dan tanah berdialog. Kaki yang menyentuh bumi seolah mengingatkan manusia pada asalnya: dari tanah, bekerja di tanah, dan kelak kembali menjadi tanah. Di titik itu, ritual tapa bisu melampaui fungsi simboliknya. Ia menjadi tindakan kontemplatif yang mengembalikan manusia pada kesadaran kosmik.

Tradisi keheningan semacam ini juga dikenal dalam berbagai budaya Nusantara — dari semadi dalam kebatinan Jawa hingga moksa dalam Hindu-Bali. Semua menekankan satu hal: bahwa keindahan sejati terletak pada keseimbangan antara gerak dan diam, antara api dan abu, antara nyala dan senyap.

Melalui seluruh rangkaian itu, Puja Doa Kretek dapat dibaca sebagai ritus estetis-filosofis yang mempertemukan seni, budaya, dan kesadaran spiritual dalam satu panggung. Dari obor yang berpendar hingga dupa yang mengepul, dari kata hingga gerak tubuh, semuanya menyatu dalam kesadaran kolektif bahwa kretek adalah “roh” dari keberadaan yang bekerja, bersyukur, dan mencipta.

Dalam konteks filsafat sosial, ritual ini mengingatkan kita pada konsep habitus Pierre Bourdieu: bahwa estetika tidak lahir di ruang galeri, melainkan dari praktik sosial sehari-hari. Keindahan dalam Puja Doa Kretek bukanlah keindahan yang steril, melainkan yang tumbuh dari tanah — dari kerja, dari napas rakyat.

Di situ pula makna budaya kretek menemukan relevansinya di masa kini. Di tengah globalisasi yang melahirkan alienasi dan kehilangan makna, Puja Doa Kretek menjadi ajakan untuk kembali pada akar: pada kesadaran bahwa manusia bukan hanya makhluk konsumsi, tetapi makhluk pencipta makna.

Pada akhirnya, peristiwa ini adalah Salam Satu Pin — salam kesatuan antara cipta, rasa, dan karsa; antara kerja dan doa; antara tradisi dan masa kini. Di hadapan Monumen Kretek, manusia Kudus kembali menegaskan jati dirinya: bahwa budaya bukanlah masa lalu yang diam, melainkan nyala yang terus berpindah tangan, menyala, dan menghidupi masa depan.

Seperti bunyi “kemeretek” yang tak pernah sama di setiap hisapan, budaya kretek pun terus bertransformasi — menjadi ruang bagi dialog lintas generasi dan lintas nilai. Dari ritual yang hening hingga karya yang lantang, dari buruh linting hingga seniman, semua terhubung dalam satu napas: napas kretek, napas kebudayaan.


Semoga. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar