Folks

Api Kecil di Panggung Teater Kudus: Nyala dari Keringat Buruh Rokok

✍ Imam Khanafi - 📅 11 Sep 2025

Api Kecil di Panggung Teater Kudus: Nyala dari Keringat Buruh Rokok
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

GOR Kaliputu setiap tahun bukan sekadar gedung olahraga. Ia berubah menjadi ruang hidup yang penuh sorot lampu seadanya, panggung kayu yang berderak, dan suara-suara muda yang menggetarkan udara Kudus. Di sanalah Festival Teater Pelajar (FTP) berlangsung—sebuah peristiwa yang lahir dari nafas kolektif, bukan dari program pemerintah.

Anak-anak SMP dan SMA yang sehari-hari larut dalam rutinitas sekolah, mendadak menjelma: aktor, sutradara, penulis naskah, penata cahaya, dan pemimpi. Dari tubuh-tubuh mereka, kita saksikan semangat yang melampaui sekadar perlombaan seni.

Tulisan Nur Choiruddin di Betanews “ Dari Naskah: Menimbang Arah Pembelajaran di Festival Teater Pelajar Kudus ” yang mengulik perdebatan naskah wajib versus naskah bebas di FTP. Ia tajam menyoroti pentingnya keseimbangan antara keterarahan dan kebebasan dalam proses kreatif. Tetapi bagi saya, perdebatan itu hanya satu lapisan dari cerita besar. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: siapa sesungguhnya yang menjaga festival ini tetap hidup dari tahun ke tahun?


Apakah pemerintah daerah? Dewan kesenian? Ataukah justru mereka yang duduk berjam-jam di meja linting pabrik, jari-jarinya cekatan namun tubuhnya letih—para buruh rokok yang tak pernah disebut namanya dalam sambutan pejabat?

FTP, bagi saya, bukan hanya panggung edukasi seni, melainkan ruang kebudayaan yang berdiri di atas peluh mereka.

Sejarah yang Tumbuh dari Akar

FTP pertama kali lahir pada 2008, dengan hanya sembilan kelompok peserta. Bukan pemerintah yang mencetuskannya, melainkan komunitas Teater Djarum bersama Bakti Budaya Djarum Foundation.

Sejak itu, festival ini tumbuh: 2016, final diselenggarakan di GOR Djarum Kaliputu dengan penghargaan yang kian beragam. 2017, di usia ke-10, tema Kisah-Kisah Pewayangan menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. 2023, setelah tiga tahun hening karena pandemi, festival kembali meledak dengan tema Membaca Optimisme Realitas Sosial Hari Ini. Dan 2024, di usianya yang ke-14, tema Realitas Mimpi-Mimpi mengundang perdebatan naskah surealisme.

Kini jumlah peserta mencapai 41 kelompok. FTP bukan lagi sekadar “event tahunan,” melainkan tradisi baru Kudus, sejajar dengan Buka Luwur dan Dandangan.

Kita mesti jujur: tanpa dana CSR pabrik rokok, festival ini tak akan pernah ada. Keuntungan industri rokok itu sendiri lahir dari ribuan buruh—mayoritas perempuan—yang setiap hari mengikat hidupnya pada ritme produksi.

Maka, setiap tepuk tangan yang bergema di GOR Kaliputu adalah gema dari jari-jari mereka yang melinting kretek. Ironisnya, nama mereka tak pernah terucap di podium sambutan.

Kudus sesungguhnya punya hutang budaya kepada buruh rokok. Jika FTP terus menyala, itu karena peluh mereka. Justru karena itu kritik kepada Pemkab Kudus harus keras: jangan hanya menempel logo, jangan hanya hadir di kursi VIP, sementara seluruh beban biaya ditanggung keringat rakyat.

Perdebatan soal naskah wajib dan bebas bisa dibaca dari kaca mata filsafat: pertama, Aristoteles menekankan struktur plot—naskah wajib bisa melatih disiplin tragedi, mimesis, dan katarsis. Kedua, Brecht menginginkan teater yang kritis—naskah bebas memungkinkan siswa menyoroti realitas sosial.

Dan selanjutnya Schechner menyebut teater sebagai restored behavior—naskah hanyalah bahan, yang penting adalah pengolahan ulang. Tak lupa Derrida mengingatkan bahwa teks tak pernah punya makna tunggal—bahkan naskah seragam bisa memunculkan tafsir berlapis.

Artinya, bukan naskah yang jadi masalah utama, melainkan apakah festival ini menyediakan ruang pendampingan, diskusi, dan refleksi.

Sekolah Kehidupan di Panggung

Teater adalah pendidikan alternatif. Dari panggung FTP, pelajar belajar hal-hal yang tak pernah tercatat di buku pelajaran: pertama, disiplin waktu, karena latihan menuntut keseriusan, kerja sama, sebab panggung adalah hasil kolektif. Kedua, keberanian tampil, menanggung sorot mata publik. Dan manajemen emosi, belajar keluar dari dirinya sendiri.

Schechner menyebutnya twice-behaved behavior—perilaku yang diulang, dipelajari, dan membentuk karakter. Realitas pahitnya adalah Pemkab Kudus sejauh ini hanya jadi penonton manis. Dinas pendidikan, dinas kebudayaan, bahkan kantor Kemenag, sekadar mencatat festival sebagai agenda resmi. Anggaran? Hampir tak pernah.

Padahal, UNESCO sudah menegaskan: seni pertunjukan adalah warisan takbenda yang wajib dilindungi negara. Jika Kudus bangga menyebut diri sebagai kota kretek sekaligus kota wali, mestinya ada keberanian menyisihkan dana untuk merawat FTP. Tanpa itu, pemerintah hanya menumpang tepuk tangan di panggung yang dibangun dari keringat buruh.

Setiap pementasan pelajar di FTP adalah tafsir ulang atas Kudus hari ini: pertama, tentang industri rokok dan kehidupan buruh. Kedua, tentang relasi santri, pedagang, dan tradisi. Dan tentang modernitas yang merangsek lewat mall dan media sosial.

Dari keresahan itulah mereka menenun adegan, dari mimpi mereka menjahit dialog. FTP bukan sekadar kompetisi, tapi cermin masyarakat Kudus yang jujur, polos, dan kritis.

Izinkan saya menutup dengan dua kalimat tegas: Terima kasih kepada buruh rokok—tanpa kalian, FTP tak pernah lahir. Teguran kepada Pemkab Kudus—jangan hanya hadir untuk sambutan, jangan hanya bangga berfoto. Sisihkan anggaran, jadikan FTP warisan budaya yang dijaga negara, bukan sekadar CSR.

Festival Teater Pelajar Kudus adalah api kecil yang terus menyala di sudut kota. Ia lahir dari inisiatif komunitas, bertahan di pundak buruh rokok, dan hidup meski pemerintah sering abai.

Bagi pelajar, ia sekolah kehidupan. Bagi masyarakat, ia cermin kultural. Dan Bagi pemerintah, ia pengingat: kebudayaan sejati lahir dari rakyat, bukan dari seremoni.

Api kecil ini jangan dibiarkan padam. Karena di panggung sederhana itu, anak-anak Kudus sedang belajar bermimpi—dan mimpi, sesederhana apa pun, selalu lebih besar dari sekadar foto di atas panggung.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar