Folks

Antara Seni, Tradisi atau Ambisi

✍ Siti Islamiyah - 📅 14 May 2026

Antara Seni, Tradisi atau Ambisi
Siti Islamiyah

Ini sudah terlewat beberapa hari setelah pementasan teater dan pemutaran film dokumenter Gadis Pingitan. Dan ya, akhirnya saya final dengan “Baiklah, sepertinya saya harus ikut menyindir dengan tulisan”. Santer sekali sindiran tentang sosok anomali yang dikenalkan sebagai Pemuda B, yang katanya memberikan “bumbu asem” di waktu perhelatan. Namun, kali ini, saya tidak ingin menambah tulisan geram tentang dia.

Justru, saya ingin membahas tentang karya dari buah pikir sang “penguasa daerah”. Karya yang entah lahir dari kepedulian terhadap budaya, atau hanya sebuah ambisi untuk memamerkan gengsi. Saya terusik ketika melihat nama orang nomor satu di Kudus, adalah penggagas ide dari lahirnya karya Gadis Pingitan. Kalau boleh jujur, ya, saya datang ke Auditorium UMK malam itu karena satu orang ini. Meski banyak orang yang bekerja keras di balik layar, seperti Saka Karsa dan MGMp Bahasa Indonesia. Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau keramaian malam itu sangat dipengaruhi oleh kehadiran sang pemilik julukan “K1”. Sesak sekali ruangan itu, sampai-sampai saya harus duduk di pojokan paling belakang, tak kebagian alas duduk. 

Entah mereka hadir karena ingin melihat sebuah karya, atau justru datang karena kehadiran seseorang, seperti saya. Belum lagi, jajaran pejabat plat merah, yang saya yakin hadir karena sebuah perintah. Sungguh, suasana itu membuat saya menyeringai, “Ini crew tidak memperhitungkan jumlah penonton, atau kebanyakan pejabat?”

Gadis Pingitan Berhasil Menghentakkan Hatiku yang Sering Mengeluh

Masuklah ketika film dokumenter mulai ditayangkan. Sungguh tidak nyaman melihatnya, karena masih banyak yang menyalakan Blitz. Padahal jelas-jelas MC membacakan aturan selama pertunjukan disuguhkan.

Tapi ya sudahlah, karena kehadiran saya di malam itu untuk melihat gengsi sang pemimpin terhadap budaya, saya buang jauh-jauh rasa muak. Sampai akhirnya karya itu diputar, dan saya tatap sampai habis durasi.

Gadis Pingitan adalah budaya yang lahir dari buah pikir kuno tentang melindungi seorang perempuan. Memiliki maksud yang begitu luhur, karena perempuan bukan dipenjara tapi dijaga dari bengisnya dunia luar.

Kala itu, tradisi ini begitu ketat dipatuhi. Sampai tiba sosok perempuan tangguh, seperti RA Kartini, yang mematahkan kepercayaan itu. Dan merubah pandangan bahwa menjaga perempuan bukan dengan belenggu tapi dengan kesetaraan. Konon katanya, perjodohan adalah hal yang lumrah. Tapi, di era modern ini, perjodohan jadi dosa besar karena memaksa dua hati untuk bersatu tanpa persetujuan. Nyatanya, dulu banyak keluarga yang langgeng dibanding sekarang.

Jadi, kalau Gadis Pingitan diterapkan kembali di era sekarang, apakah perempuan setuju? Tentu tidak, itu jawaban saya sebagai seorang perempuan yang saat ini berhasil menitih karir. Setidaknya, Gadis Pingitan akan menjadi buku favorit yang akan selalu saya baca ketika “ngeluh” dan lelah bekerja. 

Terima Kasih, Gadis Pingitan membuat saya terhentak lagi, “Setidaknya hari ini saya menghirup udara yang setara di dunia”.

Haha, sampai lupa, kalau kedatangan saya menyaksikan karya budaya ini untuk mengetes sejauh mana politik membumbui karya seni. Meskipun, masih terasa nuansa politiknya ketika seremonial sambutan yang begitu lama. Semoga ke depannya, saya punya kesempatan melihat karya terbaru dari Saka Karsa Pictures. Dan ku tunggu budaya-budaya terpendam lainnya di kotaku tercinta, Kudus, untuk diangkat kembali menjadi film dokumenter.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar