Esai

Transformasi Kebudayaan Kudus 4.0 dan 5.0

✍ Leo Katarsis - 📅 30 Aug 2023

Transformasi Kebudayaan Kudus 4.0 dan 5.0
Leo Katarsis

Revolusi industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Inti dari Revolusi tahap ini adalah produksi dan marketing yang digencarkan lewat perantara mesin dan Artificial intelligence.

Perkembangan ini memberikan banyak hal modern yang membawa manusia berjalan ke depan dan meninggalkan hal-hal yang sudah ketinggalan zaman, seperti bordir tangan diganti bordir mesin, sistem ticketing pariwisata diganti berbasis online, dan marketing produk lokal dengan sosmed. Namun, bersamaan dengan itu ada kebudayaan ikonik yang harus dilestarikan keberadaannya agar tetap terjaga dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Kebudayaan menjadi kunci masa depan dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Sayangnya, kebudayaan Indonesia, khususnya Kudus masih belum dikelola dengan manajemen yang rapih. Disbudpar Kudus sudah meluncurkan aplikasi Mobile City Kudus untuk mempromosikan objek wisata, kuliner, landmark, UMKM dan kekhasan Kudus lainnya. Namun, per 2023, hanya sedikit orang yang mengunduhnya di PlayStore. Hal in menunjukkan bahwa aplikasi ini sendiri belum dikenal luas oleh banyak orang. Padahal fitur-fiturnya menarik.

Pengenalan Kota Kudus beserta keindahan budayanya dapat dimanifestasikan dengan pemanfaatan internet. Aplikasi Mobile City Kudus bisa diupgrade, dintegrasikan dengan sistem ticketing dan order yang memberikan detail event-event penting di Kudus, harga tiket objek wisata, harga makanan dan oleh-oleh, opsi transportasi yang ditawarkan, serta menggaet anak-anak muda menjadi Vlogger pariwisata. Kunci promosi di era ini adalah memberikan storyline, jadi tidak hanya menjual produk, tapi menjual “cerita”. Misalnya di Menara Kudus, bagaimana kita mengemas objek wisata ini sehingga menarik anak-anak gaul? Orang-orang hanya tahu objek ini sebagai objek wisata religi. Hanya orang-orang tua dan kaum santri yang berminat. Anak-anak modern / milenial mungkin ogah-ogahan, padahal di Menara Kudus juga banyak wisata kuliner dan edukasi. Tetapi bila bisa dikemas dengan launching iklan animasi 3D atau 4D, pasti jauh lebih menarik. Seperti Upin- Ipin yang mempromosikan Menara Petronas di seri filmnya.

Sejauh ini promosi kita masih mengandalkan berita dari jurnalis dan Instagram, namun kontennya masih kurang menggaet generasi muda. Untuk wisata religi juga mengandalkan program keria tahunan atau berita turn temurun dari masing-masing kelompok ngaji di Pulau Jawa.

Pendekatan yang bagus itu contohnya di Jogja, banyak sekali Desa Wisata, contohnya Desa Wisata Gunung Mijil (Dewi Gumi) di Bantul, yang sudah punya website bagus, dan beberapa Youtuber sudah melakukan testimoni. Di website diperlihatkan tampilan desanya bagus, harga-harga, tiket transportasi dan akomodasi juga jelas. Bahkan sudah ada paket tour untuk individu, pasangan (couple), keluarga dan sekolah. Sistem ini juga diberlakukan untuk beberapa objek wisata sejarah dan edukasi seperti Keraton, Benteng, Taman Pintar dan Pantai.

Di Revolusi Industri ini, kita juga sebaiknya terbuka dengan akulturasi budaya. Contohnya membuat setelan baju adat Kudus yang dipadukan dengan cheongsam China atau hanbok Korea. Hal in seperti yang dicontohkan owner Djadi Batik, Mbak Usnul Khotimah. Beliau berani mengombinasikan batik-batik khas Jogia dengan hanbok, sampai mendapatkan apresiasi langsung dari Pak Menteri Parekraf, Sandiaga Uno.

Merchandise seperti gantungan kunci dan aksesoris baju juga dipadu-padan antara motif Gudeg Jogja dan Norigae Korea. Produknya memang sebagian ada yang dibuat mesin, ada yang dibuat oleh manusia (batik cap). Tapi inovasinya mengambil dari internet, dan marketingnya juga dari internet, dengan cara mencari expo-expo budaya.

Untuk permesinan, ada hal yang menarik. Kita bisa ambil produk-produk Gunung Muria seperti parijoto, pisang byar, jeruk Bali dan enthik yang dibuat beragam produk baru. Kalau anak-anak mahasiswa di luar sana sudah berhasil membuat masker wajah (UNS), sirup (asli Kudus), yoghurt parijoto (UNS), suplemen kolesterol (UIN Jakarta), kita disini bisa sediakan mesin produksi. Kita minta mahasiswa-mahasiswa itu mengajari cara membuatnya.

Sehingga parijoto tidak sekedar dijual mentah. Inovasi produk yang dibarengi penyediaan mesi produksi dan penggencaran iklan akan mendatangkan banyak keuntungan. Rahtawu, desa tertinggi (600-1.600 mdpl) di Kabupaten Kudus, adalah penghasil kopi terbesar di Kudus. Dengan lahan kopi seluas 244 hektar, belum ada kafe kekinian yang di-manage dengan serius. Di Rahtawu juga sebagai penghasil kopi, pamornya masih kalah dengan kopi aroma tembakau dari Temanggung. Hal ini karena Temanggung sudah ada koneksi dengan TVRI dan beberapa Youtuber untuk meliput “cerita” tentang kopi aroma tembakau tersebut. Presenternya anak muda. Barista dan owner usaha disana juga banyak anak muda. Pengelolaan mesinnya modern, kemasan, desain interior kafenya semua memilki konsep bagus, dari vintage sampai futuristik.

Kuliner Kudusan seperti soto Kudus, lentog tanjung, sate kerbau dan tahu gimbal juga perlu dibuatkan storyline tentang toleransi atau kebaikan lainnya, agar lebih “menjual”. Di warung-warung bisa diberikan pamflet atau memo kecil pentingnya toleransi yang ditunjukkan lewat kuliner Kudus ini. Boleh juga diberikan info filosofi “Gusjigang” di memo tersebut. Bahwa orang Kudus berdagang tidak sekedar cari untung, tapi juga untuk memperbagus perilaku dan tidak melupakan agama (ngaji).

Saat ada pagelaran besar seperti Dhandhangan, Hari Jadi Kota Kudus, Launching Objek Wisata / Religi, sangat bagus jika mau menggaet selebriti / influencer / tokoh masyarakat. Seperti di Solo, saat peresmian masjid Syeikh Zayed dibarengkan dengan Isra’ Mi’ raj, Presiden RI, Presiden Uni Emirat Arab, dan para habaib hadir. Tidak lama setelah itu banyak sekali influencer membahas masiid ini di Instagram, TikTok dan YouTube. Kemudian saat awal Ramadhan kemarin. Walikota Gibran kedatangan Chef Arnold Poernomo dan Bobon Santoso di Pendopo Walikota. Ada acara bagi-bagi buka bersama dengan masakan yang diolah langsung 2 chef terkenal tersebut. Strategi marketing seperti inilah yang kita butuhkan untuk mempromosikan daerah kita lebih luas.

Berlanjut ke Revolusi Industri 5.0, tidak lama lagi negara kita juga akan sampai di fase ini. Jika Revolusi Industri 4.0 berfokus pada produksi dan marketing, fase 5.0 lebih menekankan kolaborasi humanis antara manusia dan teknologi. Salah satu negara yang sudah sampai di fase ini adalah Jepang sebagai pencetus. Disana, meskipun sudah ada Google Map ataupun aplikasi Tur, warga lokal tidak keberatan dan sangat ramah saat dimintai tolong turis. Sekalipun mereka tidak bisa berbahasa Inggris, mereka berusaha untuk memanfaatkan Google Translate untuk berkomunikasi membantu turis. Sebagian staf hotel juga sudah berupa robot, namun bahasa dan etika yang dipakai adalah bahasa Jepang dan Inggris formal. Ada juga bentuk anime. Jadi nada bicaranya tidak kaku seperti robot, sudah 80% mirip manusia. Begitupun dengan universitas, sudah ada pasien dari robot yang membantu calon dokter melalukan latihan sebelum terjun langsung memeriksa pasien manusia. Hal ini sangat memudahkan daripada calon dokter harus mencari panelis manusia langsung saat latihan.

Revolusi 5.0 juga menuntut kita untuk inklusif. Kaum disabilitas perlu diberikan perhatian lebih. Seperti teman-teman tuli yang perlu kita beri subtitle jika kita mengupload video tentang objek pariwisata, kuliner atau event budaya di Kudus. Untuk tuna netra, kita hadirkan aplikasi Mobile City dilengkapi audio (karena tuna netra jelas tidak bisa melihat aplikasi tersebut, jadi perlu dituntun dengan audio).

Beberapa objek wisata juga perlu dilengkapi huruf Braille agar turis tuna netra bisa mengetahui posisi mereka. Untuk teman-teman tuna daksa, kita hadirkan tempat parkir, eskalator dan toilet dengan teknologi khusus sehingga nyaman saat memakai kursi roda. Kota kita juga perlu ambil kesempatan sebagai tuan rumah event disabilitas. Seperti Solo yang berhasil menjadi tuan rumah ASEAN Paragames, atau menggaet Surya Sahetapy dalam seminar Revolusi Digital. Adapun Caffe Mella Makassar dengan alat produksi canggih dan tempat yang nyaman, semua pengelolanya adalah disabilitas tuli.

Begitulah kiranya contoh-contoh transformasi budaya di era digital. Semoga Kudus menjadi Kota yang berhasil mempromosikan budayanya dengan teknologi, serta tetap menjadi kota yang humanis dan inklusif.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar