Trah Tjandranegara pada mas lampau merupakan keluarga terpandang dalam hirarki tatanan masyarakat tradisional Jawa. Mengutip H. Sutherland dalam Notes on Java’s Regent Families, keluarga ini termasuk satu dari enam atau tujuh dinasti yang naik ke tampuk kekuasaan di pesisir utara Jawa dengan membina hubungan baik dengan VOC, dan kemudian dengan pemerintah kolonial.
Berbeda dari trah Citrosuman yang melanggengkan dinastinya di Kadipaten Jepara, trah Tjandranegaran justru meluaskan pengaruhnya di banyak kadipaten di pesisir utara Jawa bagian tengah. Pena sejarah mencatat bahwa sepanjang abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20, putra-putra terbalk dari trah ljandranegaran silih berganti menempati pucuk kekuasaan pribumi di beberapa daerah pesisir, antara lain Pati, Kudus, Jepara, Demak, Grobogan, Semarang, dan Brebes.
Adapun alasan di balik moncernya karier kepangrehprajaan anggota trah Tjandranegaran tak lepas dari keinsafan mereka untuk merangkul pendidikan dan peradaban Barat—sesuatu yang masih jarang dijumpai di kalangan bangsawan pribumi pada masa itu. Alhasil, anggota keluarga Tjandranegaran tak hanya sohor karena loyalitas dan kecakapan mereka dalam memerintah, tetapi juga dikenal memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Tak ayal, Gubernemen pun kerap mempercayakan posisi-posisi bupati di wilayah pesisir kepada sulur keluarga ini.
Sulur trah Tjondronegoran dapat ditarik dari sosok Kanjeng Kyai Brondong yang berkedudukan di Surabaya. Kyal Brondong memiliki dua putra: Honggowongso (berkedudukan di Surabaya) dan Honggojoyo (berkedudukan di Pasuruan). Yang terakhir disebut diketahui memiliki seorang putra bernama Tumenggung Jimat, yang kelak menasbihkan diri dengan gelar Tjondronegoro I.
Hijrahnya trah Tjandranegaran dari Jawa Timur menuju tlatah Muria terjadi pada penghujung abad ke-18. Mengutip Warta Djawa Tengah edisi 18 Februari 1925 yang memuat silsilah keluarga Tjandranegaran, dilaporkan bahwa pada tahun 1 797 Gubernemen meminta Tjondronegoro Il, yang kala itu menjabat sebagai Bupati Lamongan, untuk pindah ke Pati. Di Pati, Tjondronegoro II mendapat tugas mengatasi para perusuh di kadipaten tersebut. Selain itu, kesediaannya untuk dimutasi ke tlatah Muria juga didorong oleh jaminan dari Gubernemen bahwa anak-turunannya kelak akan terus diangkat sebagai penerus jabatan bupati.
Pada tahun 1810, Tjondronegoro II wafat. Posisinya otomatis digantikan oleh putranya yang kemudian mengambil gelar Tjondronegoro III. Di masa kepemimpinan Tjondronegoro III inilah Perang Jawa berkecamuk. Sebagai abdi kolonial, ia berada dalam posisi berhadapan dengan pasukan Diponegoro. Bersama pasukan kolonial, ia ditugasi menumpas pasukan Diponegoro di wilayah Muria- sebuah tugas yang ditunaikannya dengan baik.
Lantaran selama Perang Jawa bupati Kudus melarikan diri, Tjondronegoro Ill pun diminta oleh Gubernemen untuk merangkap jabatan sebagai Bupati Kudus. Barulah setelah Perang Jawa usai, Tjondronegoro III berkedudukan tetap di Kudus, sementara posisi Bupati Pati diisi oleh putra sulungnya yang bergelar Tjondro Adinegoro (1830-1895).
Di Kudus, Tjondronegoro III tidak menjabat hingga akhir hayatnya. Pada tahun 1834, ia memutuskan pensiun, dan kedudukannya sebagai Bupati Kudus digantikan oleh putra keduanya yang menyandang gelar Tiondronegoro IV. Di era kepemimpinan Tjondronegoro IV inilah trah Tjandranegaran mencapai puncak kemuliaan. Terlepas dari kecakapannya dalam mengemban tugas-tugas Gubernemen, ikhtiar Tjondronegoro IV untuk memberikan pendidikan kepada semua putranya membuat pemerintah kolonial tak ragu menempatkan anak-turun Tjondronegoro IV sebagai bupati di berbagai kadipaten.
Empat dari lima putra Tjondronegoro IV berhasil duduk sebagai bupati, yakni:
- Tjondronegoro V, Bupati Kudus kemudian Bupati Brebes;
- Poerbaningrat, Bupati Demak kemudian Bupati Semarang;
- Sosroningrat, Bupati Jepara; dan
- Hadiningrat, Bupati Demak.
Hanya seorang putra Tjondronegoro IV yang tidak sempat menduduki kursi bupati, yaitu Mas Noto, yang kariernya mentok sebagai wedana di Selokaton. Namun, putra Mas Noto, Amin Soejitno, kelak berhasil menduduki kursi Bupati Semarang setelah wafatnya Poerbahadiningrat (putra Poerbaningrat).
Kemasyhuran trah Tjandranegaran terekam dengan baik oleh pena Raden Ajeng Kartini. Kartini sendiri merupakan keturunan Tjondronegoro dari pihak ayahnya, Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara.
Seperti yang diceritakan Kartini kepada sahabat penanya, Estelle Zeehandelaar:
“Ada begitu banyak pembicaraan, penulisan, tentang semangat kemajuan keluarga kami, tentang semangat kemajuan keluarga Tjondronegoro. Lama sudah kakekku meninggal dunia, tetapi namanya tetap hidup, disebut, dan dihormati dengan simpati olch mereka yang pernah mengenalnya ataupun mendengar tentangnya. Kakekkulah yang mula-mula sekali memberikan putra-putra serta putri-putrinya pendidikan Barat. Kakekku adalah pelopor; sungguh-sungguh seorang yang mulia. Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh.” (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar