Yang membedakan Tjondronegoro IV dengan tokoh bangsawan Jawa lain pada abad ke-19 dalam upaya membebaskan rakyatnya dari belenggu kolonialisme adalah ketajamannya melihat ilmu pengetahuan sebagai jalan merengkuh kemerdekaan.
Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja menggambarkan keinsafan bupati Kudus dan Demak lampau ini untuk berkarib dengan ilmu pengetahuan. TIjondronegoro IV disebutkan sebagai pribumi pertama yang merangkul peradaban Barat kemajuan, semangat modern, dan ilmu pengetahuan—ketika dunia aristokrasi Jawa semasanya masih memunggunginya.
Olehnya, apa yang disebut oleh Kartini— cucu Tjondronegoro IV—sebagai “tamu dari seberang lautan” dijadikan medium untuk membela kepentingan rakyatnya. Dan kelak, ia wariskan api semangat kemajuan itu kepada semua putra-putrinya.
Lahir dengan nama kecil Raden Bagus Minoto, ia merupakan putra kedua dari Ario Tjondronegoro III–bupati Pati (1810-1830), kemudian bupati Kudus (1830-1834). Sebagaimana tradisi di trah Tjandranegaran, anak laki-laki dari garis keturunan bapak akan disiapkan untuk menjadi ambtenar Gubernemen.
Karena bukan trah ningrat dari keturunan Mataram, anggota keluarga trah Tjandranegaran harus menapaki jabatan-jabatan rendahan terlebih dahulu sebelum tiba masanya duduk di lingkar elit pemerintahan. Begitu pula jalan takdir Raden Bagus Minoto. Mula-mula, ia ditunjuk sebagai wedana di distrik Undakan dan Prawata.
Wilayah yang dipimpinnya tersebut pada sekitar warsa 1830-an pernah ketiban mahapralaya. Ladang persawahan yang mestinya siap panen musnah disapu banjir luapan Sungai Lusi. Jerit tangis petani yang telah telaten menggarap sawah pun pecah. Bukan… tangis itu bukan saja untuk benih padi yang telah tersapu, melainkan juga untuk kedatangan hantu paceklik yang singgah ke daerah-daerah yang sawahnya gagal panen:
Gubernemen lantas membujuk Ario Tjondronegoro III untuk kesediaannya memimpin Kudus secara penuh dengan garansi bahwa kedudukannya di Pati akan digantikan oleh putra sulungnya. Sebagai pengetahuan, semasa Perang Jawa berkecamuk, Ario Tjondronegoro III hanyalah seorang pelaksana tugas bupati di Kudus. Hal tersebut terjadi lantaran bupati Kudus sebelumnya melarikan diri kala api Perang Jawa menjalar ke tanah Muria. Ario Tjondronegoro III diketahui melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Distrik Undakan dan Prawata yang sempat haru-biru pun kembali tenteram berkat kebijakan sang bupati.
Seolah hendak mengekor jejak sang ayah, Raden Bagus Minoto- yang kelak bergelar Tjondronegoro IV usai menggantikan posisi ayahnya yang pensiun sebagai bupati Kudus— pun tekun belajar agar menjadi bupati yang loyal dan cakap. Apalagi ketika ia naik takhta bersamaan dengan terbitnya sistem tanam paksa, tentu ia mengetahui bahwa rakyat yang diperintahnya memikul penderitaan dan kemelaratan yang tak terpermanai sebagaimana pada era ayahnya.
Bagaimana sikap Tjondronegoro IV terhadap sistem tanam paksa belumlah jelas. Mungkin ia mengiba melihat rakyat sebangsanya harus pontang-panting menggarap lahan tanpa pernah mendapat upah yang layak. Namun, sebagai ambtenar kolonial, ia pun tak bisa berbuat banyak selain mendukungnya. Toh, ia melihat sebagian dari mereka yang memilih menentang pemerintah jajahan Hindia Belanda berhasil dipatahkan, digagalkan, dan dikalahkan. Mungkin saja melihat semua kegagalan dan kekalahan para pendahulunya membuatnya tersadar bahwa angin zaman belum mendukung arus perubahan.
Berbeda dari Diponegoro dan para bangsawan Jawa lain yang mengangkat senjata untuk mengenyahkan pemerintahan jajahan yang menindas rakyat, Tjondronegoro IV memilih jalan kooperatif. Sebagai bupati, ia memberikan laporan-laporan dan saran-saran kepada Gubernemen tentang keadaan rakyatnya. Lakunya lebih banyak untuk menakzimi ilmu pengetahuan dan semangat kemajuan.
Keinsafan Tjondronegoro IV untuk berkarib dengan ilmu pengetahuan pernah diceritakan oleh putranya, Ario Hadiningrat, kepada P.A.A. Djajadiningrat bahwa almarhum ayahnya, , “Dapat memahami keadaan dengan baik. Sudah sejak tahun 1846, waktu belum ada pikiran untuk memberikan pendidikan pribumi ya bahkan pengajaran Eropa masih banyak celanya—ia telah meramalkan apa yang segera bakal terjadi. Ia ambil tindakan-tindakan untuk memberikan pendidikan kepada putra-putranya, yang sama sekali tidak dipahami oleh rekan-rekannya, bahkan dicela pula oleh banyak orang.”
Ketakzimannya pada ilmu pengetahuan diejawantahkan dengan mengirim anak-anaknya ke sekolah milik Gubernemen. Seolah kurang puas, ia pun diketahui mengundang C.E. van Kasteren sebagai guru rumah bagi anak-anaknya.
Tjondronegoro IV mafhum, ia tak mungkin mengguncang tatanan kolonial yang menindas, dan hanya kepada anak-turunnyalah ia berharap kelak bakal lahir sosok revolusioner yang berdiri gagah di saf terdepan menentang kolonialisme.
Tidak mengherankan ketika seorang pendeta dari Gereja Reformasi Belanda, S.A. Buddingh, mengunjungi Demak dalam sebuah misi pada tahun 1850-an, mengungkapkan kekagumannya terhadap Tjondronegoro IV sebagai “pemimpin pribumi yang paling beradab.” Terlebih setelah mengetahui para putra Ijondronegoro IV dapat berkomunikasi dalam bahasa Jawa, Melayu, Belanda, Prancis, dan Inggris-hal yang masih liyan di lingkungan keluarga aristokrat Jawa masa itu.
Ilmu pengetahuan yang Tjondronegoro IV bekalkan kepada anak-turunnya kelak tak hanya membentuk putra-putranya menjadi bupati yang cakap dan peka terhadap penderitaan rakyatnya. Dari sulur bawah keluarganya kelak lahir pula sosok revolusioner yang berdiri di saf terdepan membela kaumnya. Bisa dipahami jika Pramoedya Ananta Toer kemudian tidak menempatkan anak-turun Ario Tjondronegoro IV ke dalam golongan Blandis.
Agustus 1866, Pangeran Ario Tjondronegoro IV mangkat. Di sudut pasarean Sedomukti, sang pemula kemajuan rebah di haribaan sunyi. Raganya boleh tiada, “tetapi namanya tinggal hidup, disebut, dan dihormati dengan simpati oleh mereka Yang pernah mengenalnya.” Mungkin, di akhirat sana Tjondronegoro IV tersenyum bahagia melihat sulur keluarganya mewarisi api semangat kemajuan.
10/12/2025, Kudus Walking Tour dalam tajuk Ziarah Tjandranegran di Makam Sosrokatrono
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar