Esai

Tentang Festival Teater Pelajar Kudus Ke 13

✍ Dhani Azzra - 📅 31 Oct 2023

Tentang Festival Teater Pelajar Kudus Ke 13
Dhani Azzra

Oleh Dhani Azzra , Kelahiran 05/07/1975 yang bertempat tinggal di Dk. Pedak Ds. Klumprit Rt01/01. Kec. Gebog, Kudus, Jateng. Pada tahun 1990-1993, Terlibat dalam...

Pelaksanaan Festival Teater Pelajar ke 13 yang di selenggarakan oleh Teater Djarum telah usai, berbagai peristiwa tak terduga tersaji dalam helatan yang di gelar selama 6 hari (19 – 24 Oktober, 2023). 17 grup teater pelajar tingkat SMA sederajat dan 14 grup teater pelajar tingkat SMP sederajat unjuk kreativitas di panggung sekolahnya masing-masing.


Festival Teater Palajar yang sempat vakum selama 3 tahun karena pandemi ini, di bayang bayangi merosotnya baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hal yang wajar jika itu membayangi helatan festival kali ini, mengingat dalam masa pandemi selama 3 tahun seluruh sekolah nyaris meniadakan aktivitas ekstrakurikuler termasuk ekskul teater. Selama 3 tahun vakum, pandemi telah memutus mata rantai regenerasi teater pelajar di Kudus, dengan begitu para peserta festival kali adalah angkatan baru, generasi pandemi.


Namun bayangan negatif itu ternyata tak mewujud adanya. Khusus tingkat SMA sederajat, selama 5 hari pelaksanaan babak penyisihan telah terjadi satu peristiwa di atas panggung teater pelajar yang luar biasa. Satu peristiwa yang perlu dicatat, di apresiasi lalu di kabarkan kepada semua, bahwa Festival Teater Pelajar ke 13 telah menjadi ladang bertumbuh dan berkembangnya para aktor muda di Kudus.

Bersyukur saya berkesempatan menjadi bagian dari peristiwa yang luar biasa itu, menyaksikan bagaima pertumbuhan dan perkembangan para aktor muda itu terjadi, dari hari pertama jam pertama sampai pada hari terakhir jam terakhir pelaksanaan festival tak henti-hentinya decak kagum, keharuan, terkadang airmata mengiringi laku akting para aktor muda. Olah vokal, gestur, penghayatan, interpretasi atas teks, identifikasi karakter tokoh sebagai elemen-elemen dasar keaktoran secara umum mampu diolah dan diterjemahkan menjadi satu kesatuan dalam laku akting.

Satu hal yang mengejutkan, 2 grup yang membawakan naskah karya sendiri dengan mengusung problematika urban, kedua grup tersebut menawarkan satu perspektif lain dalam mengolah dan membongkar tubuh aktor.

Tubuh realitas urban terbalut dalam warna hyperrealism. Hal lain, satu grup yang mencoba mengangkat fenomena bullying atau perundungan di kalangan remaja menegaskan kengerian itu lewat penciptaan tata musik yang apik dengan format mini orkestra.


Peristiwa bertumbuh dan berkembangnya para aktor muda pada helatan Festival Teater Pelajar ke 13 kali ini tentu tak lepas dari dukungan berbagai pihak, utamanya adalah dukungan dari pihak sekolah. Dukungan pihak sekolah menjadi spirit utama yang membuat anak-anak percaya diri dalam mengolah elemen-elemen pertunjukan, selain para orang tua wali murid, pembina dan pelatih.

Selamat kepada 5 grup teater pelajar terkeren dari 17 grup teater yang keren-keren tingkat SMA sederajat yang berkesempatan terpilih lolos ke babak final Festival Teater Pelajar Kudus ke 13.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar