Besok bila semua telah usai,
kita bicara. Membasuh, seperti semula.
Kelak, saat waktu menyulap kita menjadi tua,
mari tetap berkabar sekalipun lewat doa
Tuhan,
bantu aku tenang- bantu kami baik-baik saja.
Sejak dalam perencanaan, Tengul merupakan naskah rumit- nakal, dan njelimet bagi saya. Apalagi, Bersama teater Tigakoma. Ini menjadikan tantangan baru bagaimana seekor saya berupaya mengimplementasikan harapan pada suatu dialog kesenian yang jelas, dan jujur atas kehendak yang akan saya sampaikan; dunia, cinta, system, harta, tahta, gender, dan agama. Tentu, saya pikir Arifin C. Noer menempatkan lakon-lakon dalam Tengul sebagai wakil bagi dirinya, atau bahkan kita semua barangkali, dalam menjalani hidup yang makin kesini makin kesana. Maka, untuk mengantisipasi hal-hal biasa, apalagi Tengul telah sering ter-arsipkan ke panggung Indonesia hingga beberapa, saya (dan teater Tigakoma) butuh suatu percikan eksperimen, bahkan suatu hal yang berbau provokatif. Sekalipun bertaruh dengan konsep, terkesan hilang arah dalam fragmen narasi, dan post gagasan dalam pertunjukan.
Saya berupaya mengajak para penonton sekaligus kami yang berproses untuk menjadi pengamat peristiwa dalam panggung, menerawang para actor yang berjibun gelisah, berteriak; miskin- gerah, tapi tabah, dan gagah. Catatan pribadi, sebagai Sutradara. Terima kasih untuk seluruh tim yang bertugas. Semoga kita selalu dalam limpahan berkah Tuhan YME.
Ini dia, Tengul- teater Tigakoma, Produksi 20 dua kota; Yogyakarta-Kudus, Oktober-November 2025. Tengul, adalah sosok yang ingin hidup baik, namun dunia tidak menyediakan ruang yang layak. Absurditas sejati seperti pikiran penulis, bukanlah nihilisme total. Sebaliknya, ia adalah pencarian makna yang tak selesai, negosiasi abadi antara idealitas dan tuntutan bertahan hidup. Arifin C. Noer selalu menyajikan manusia yang terbentur sistem. Ini seperti; Eksistensi manusia bukan hanya tentang
hidup dan mati, tetapi tentang apa yang tersisa dari kita ketika segalanya terasa tak masuk akal. Modernitas, secara khas mencampur kesenian rakyat, dan realisme dijelaskan telah bermigrasi ke ranah digital. Linimasa media sosial, dengan dialog yang tidak nyambung, debat meledak tanpa konteks, dan opini yang hilang secepat kemunculannya, dipandang sebagai panggung absurd, tempat manusia tampil sekaligus tersesat dalam alienasi kolektif-- Kami kemas itu dalam Tapal Kuda, Arena sederhana, untuk penonton saling meraba, untuk actor saling bersua, untuk mewakili keseharian. Ini seolah kami menginginkan pertunjukan yang kaya refleksi, mengurung pertanyaan; bagaimana kita bisa tertawa lepas, sedang sekitar kita- banyak manusia terluka (batin) parah? Kami melakukan autopsi terhadap moralitas dan fragmentasi sosial Indonesia kontemporer.
Kami tempatkan Penonton dengan posisi yang tidak lagi nyaman sebagai pihak yang disajikan hiburan, mereka berhadapan, saling menatap, dan secara implisit saling menghakimi. Biar. Biar mereka menikmati gusar itu, biar mereka meraba satu-satu. Saya tembak mereka dari sudut yang memberi ruang bagi pikiran untuk bergerak lebih jernih, tidak terjebak dalam impresi visual yang sering kali membius hingga pingsan dan hilling arah lalu bertanya what happen what happen. Biar para penonton yang merenung, bukan hanya terpukau, biar penonton membaca gelombang sosial yang ditimbulkan pementasan, bukan sekadar mengingat adegan-adegan. Bukan sekadar mejeng duduk dua jam dan menguap buka hape dan posting story dengan caption selamat sampai tujuan. Hilihh.
Apalah. Apalah.
Saya pikir, tradisi (dalam seni pertunjukan) bukan cuma perkara warisan yang cukup untuk dipeluk erat. Namun, ia juga harus diuji, debat, dan diguncang hebat. Ini seperti seolah saya melanggengkan keberanian yang nekatt dan ndugal. Saya pikir ini ketegasan yang relevan, membawakan artistic yang melawan arus, estetika yang was-wus, mencipta tawaran yang pelan tapi halus mengarah pada hal-hal serius. Penonton akan turut, mau tak mau, mereka merasa, berpikir, berubah,
dan berbenah. Saya harap Kudus mengkaji ini; pementasan rapi, linier, actor yang berdikari sebagai pusat arah perhatian, peristiwa yang terukur sebagai medan wacana, juga simulasi halus dari kehidupan yang tak lepas dari moralitas, takaran respons, dan pantulan kenyamanan dalam bersosial. Entah, kami pikir Tengul telah berjalan methenteng, dan methengul- hingga ke Yogyakarta. Ihir.
Barangkali, kita sama tau; Tengul bergerak lincah di antara dua kutub teater: yang realis dan yang tidak realis. Di tangan Arifin C. Noer, batas keduanya tidak pernah dibuat kaku. Realis menampakkan wajah keseharian yang getir; yang tidak realis menjadi jalan lain untuk menyingkap kenyataan yang terlalu tajam bila ditampilkan apa adanya. Ketika hidup terasa terlalu keras untuk diceritakan dalam bentuk realistik, Arifin justru membuka pintu ke wilayah yang lebih liar, lebih bebas, dan lebih jujur secara emosional, dan kami telaah itu baik-baik, menanam pada diri actor, pengamatan pada sekitarnya, mereplika-kannya di atas panggung, memimesis kannya pada artistic, memimetik-kannya pada gerak-gerik yang energik, membuat ruang demi ruang kian meraung, membentuknya menjadi sebuah semiotika yang berapi-api di dada setiap mereka yang menerka. Kami habiskan transparansi itu dengan ketetapan panggung yang tak selalu saklek pada dimensi, namun kekuatan emosi dan keberagaman visual yang menjadi pakem imajinasi.
Saya pikir, saya tidak igin membuat Tengul sebagai sekadar objek hiburan. Ia saya arahkan untuk memaksa orang-orang bertanya: bagaimana kita menyediakan ruang untuk memahami manusia(?) ini menantang kenyamanan. Ini akan membuat reaksi yang meledak, bagaimana panggung menciptakan cermin bagi penonton untuk menilai dirinya sendiri, sebelum menilai manusia lain, sekaligus menilai Tengul, barangkali. Hehe.
Ini seperti; saya sudah halah dengan perkara kedalaman Tengul, saya ingin lebih, membiarkan penonton untuk ber-perspektif, menempatan matanya disudut lain, yang sepi, yang gelap, yang jauh, dan yang ber-nurani sedalam-dalamnya, sehormat-hormatnya. Saya pikir, Tengul tak kemana-mana, tak usah dicari, ia lekat di sekitar kita, tengoklah ke samping dan belakang, saudaraku. Kita kadang lupa lakukan itu, kerana sibuk mengejar dunia yang seringkali tak mudah kita mengerti. Anjaii..
Peristiwa kesadaran, ini terkait bagaimana kami memperlakukan Tengul dengan hati yang dijaga dengan hati-hati, di atas meja bedah, memeriksanya dengan teguh, dan sayah. Ini seperti memperlakukan hal-hal yang kami cintai, dan tak kan kami biarkan luka lagi. Kami sebut itu: pertaruhan makna, yang tegas dan berani. Tentu sepaket dengan laku, ornament, etika, teknis, dan pemanis yang dapat di-pertanggung jawabkan. Kami tetap menjaga kewaspadaan, melestarikan peringatan-peringatan, menyuluhkan diskusi-diskusi, mengindahkan management pertunjukan, keteraturan birokrasi, dan management konflik, biar proses lebih matang, biar hidup lebih menantang, biar panggung tak gelap dan menyesatkan. Semoga.Terima kasih, siapapun- apapun, yang terlibat maupun terpanggil.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar