Esai

Tengul, Dunia Dimana Kekayaan Adalah Jalan Keselamatan

✍ Cintya Hs - 📅 10 Nov 2025

Tengul, Dunia Dimana Kekayaan Adalah Jalan Keselamatan
Cintya Hs

Oleh Cintya Hs

Cerita ini menggambarkan dunia yang absurd di tengah masyarakat yang mabuk oleh mimpi-mimpi kekayaan.

Korep dan istrinya, Turah, hidup dalam pusaran ilusi tentang keberuntungan, kekuasaan uang, dan nasib yang bisa dibeli dengan taruhan.

Dalam kehidupan yang miskin dan serba terbatas, mereka berdua mencari jalan pintas menuju kebahagiaan melalui perjudian dan angka-angka lotre yang mereka yakini sebagai takdir keberuntungan.

Turah, perempuan yang haus akan kemewahan, rela mengorbankan apa pun demi mencapai impiannya menjadi kaya, bahkan kehormatannya sendiri.

la percaya bahwa kekayaan adalah ukuran tertinggi keberhasilan manusia. Sementara Korep, suaminya, awalnya menolak jalan itu. la takut pada kekayaan, takut kehilangan kemanusiaan, dan lebih memilih hidup sederhana meski miskin.

Namun, perlahan, racun mimpi-mimpi palsu itu menular. Korep yang dulu takut menjadi kaya kini justru menjadi budak nafsunya sendiri. la rela menukar segalanya, bahkan jiwanya, kepada kekuatan gelap yang disebut “Batu Hitam”, Kehidupan mereka kemudian berubah menjadi parade absurditas, antara Kemiskinan memalukan dan kekayaan yang mengerikan.

Dalam masyarakat yang menuhankan uang, setiap nilal kemanusiaan terkikis habis. Kekayaan dianggap sebagai keselamatan, sementara kemiskinan menjadi kutukan yang membuat manusia rela menjual jiwa cinta, bahkan harga dirinya. Korep akhirnya terjerumus dalam kegelapan, di mana batas antara hidup dan mati, waras dan gila, tidak lagi jelas.

Di hadapan Batu Hitam, la menyerahkan diri sepenuhnya demi menjadi “orang kaya”. Namun, kekayaan itu tidak membawa kebahagiaan, yang tersisa hanyalah kehampaan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika segala yang ia miliki telah hancur, Korep berusaha menebus dosanya.

Tapi bagaimana mungkin seseorang menyelamatkan diri dari kutukan yang la ciptakan sendiri?

Dalam dunia di mana mimpi palsu dijual seperti komoditas, pertanyaan itu menggantung tragis, apakah masih ada keselamatan bagi manusia yang menjadikan uang sebagai Tuhan?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar