Folks

Tengul dan Teater Tigakoma

✍ Djauharudin - 📅 18 Nov 2025

Tengul dan Teater Tigakoma
Djauharudin

Karya-karya dramawan legendaris Indonesia, Arifin C. Noer, kembali menemukan relevansinya yang menghantam di era digital. Pementasan “Tengul” oleh Teater Tigakoma di bawah arahan sutradara Afif Khoirudin Sanjaya merupakansebuah autopsi terhadap absurditas sosial dan moralitas Indonesia yang terasa semakin terfragmentasi.

Arifin C. Noer selalu menyajikan manusia yang “terbentur sistem.” Tokoh-tokohnya, termasuk Tengul, adalah sosok yang ingin hidup baik, namun dunia tidak menyediakan ruang yang layak. Absurditas sejati, dalam kacamata Arifin, bukanlah nihilisme total. Sebaliknya, ia adalah pencarian makna yang tak selesai, negosiasi abadi antara idealitas dan tuntutan bertahan hidup.

“Eksistensi manusia bukan hanya tentang hidup dan mati, tetapi tentang apa yang tersisa dari kita ketika segalanya terasa tak masuk akal,” demikian bunyi analisis tentang karya-karya Arifin.

Gaya panggung Arifin, yang secara khas mencampur kesenian rakyat, dan realisme dijelaskan kini telah bermigrasi ke ranah digital. Linimasa media sosial, dengan dialog yang tidak nyambung, debat meledak tanpa konteks, dan opini yang hilang secepat kemunculannya, dipandang sebagai “panggung absurd” modern, tempat manusia tampil sekaligus tersesat dalam alienasi kolektif.

Dalam pementasan Teater Tigakoma, sutradara Apop mengambil keputusan artistik yang provokatif. Penggunaan ruang tapal kuda (arena) berhasil memutus keakraban, sebaliknya, membuat penonton saling menatap, mengukur, dan menghakimi.

Tengul, yang aslinya adalah pelawak miskin dari pinggiran, di atas panggung ini bukan lagi sekadar hiburan. Ia diubah menjadi cermin yang menguji penonton.

Dalam sesi diskusi, sutradara mengemukakan cara pandang konseptual dalam bagaimana mewujudkan visi artistik dalam teks naskah.

” Dengan seperti itu harapanya bisa menjadi semacam wacana dan dialog berkesenian, kejelasan dan kejujuran atas apa yang hendak kita sampaikan, meskipun dalam pergerakan teater modern cenderung terjebak kehilangan narasinya.” (16/11/2025)

Hal itu diungkapkan saat sesi diskusi oleh seorang penonton yang menanyakan persoalan fragment putus – putus akibat eksplorsasi gagasan post dan ketika tubuh aktor menjadi medan gagasan, sedangkan peristiwa panggung teater adal keseluruhan.

” Inti kritik Arifin, yang dipertajam barangkali pada pertanyaan, Mengapa kita menertawakan Tengul? Apakah karena ia lucu, atau karena kita membutuhkan rasa aman dengan melihat ada yang lebih menderita dari diri kita? ” Ujar Ardi Salah satu penonton di malam itu.

Pementasan ini menyiratkan kritik pedas terhadap budaya kemiskinan sering dibiarkan hidup karena ia menyediakan hiburan yang murah bagi yang mampu.

Refleksi terbesar dari “Tengul” versi ini adalah gagasan bahwa moralitas tidak lagi berada di langit, tetapi telah “turun ke dapur, ke jalan, ke pasar” menjadi sesuatu yang fungsional, bukan ideal. Tengul mewakili paradoks moral Indonesia, ia ingin menjadi baik, tetapi harus bertahan; ia menjunjung moral, tetapi hidup memaksanya untuk strategis.

“Karena itu Tengul menipu, melawan, bahkan mengejek nasibnya. Bukan karena ia buruk, tetapi karena nilai luhur tidak selalu kompatibel dengan kemiskinan,” tulis seorang pengamat teater.

Di panggung, penonton seolah “mengurung” Tengul dari segala sisi. Tawa yang terdengar bukan lagi tawa hangat, melainkan “tawa yang menilai.” Tengul tidak dipahami—ia diuji. Setiap tawa menjadi vonis moral yang menyakitkan.

Kritik tajam Apop terletak pada kesimpulan ini: yang lucu sesungguhnya bukan Tengul, melainkan budaya yang menghasilkan sosok seperti Tengul.

Pementasan “Tengul” menutup dengan meninggalkan pertanyaan, Apakah kita benar-benar peduli pada Tengul, atau hanya peduli agar lukanya tetap menghibur kita? Ini adalah sebuah panggilan keras bagi audiens modern untuk memeriksa kontradiksi antara idealisme dan realitas, antara tawa dan luka, yang terus dimainkan di panggung kehidupan kita sehari-hari.

Terpisah, Dian Puspita Sari yang juga merupakan pelaku seni mengapresiasi munculnya konsepsi panggung seperti ini. Dimana penonton diajak untuk bersama melihat keadaan Indonesia dalam sebuah panggung tapal kuda.

” Kita diajak menjadi pengamat peristiwa dalam panggung, untuk melihat para aktor yang bermain dan bergulat dengan kegelisahannya, hal itu menarik dalam dunia yang sudah lagi tidak nampak seperti apa adanya. Artinya, kita dituntut oleh zaman yang serba cepet untuk bisa melihat peristiwa lebih objektif ” ujar Dian.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar