Tengul karya Arifin C. Noer bukan sekadar drama tentang perjudian dan kemiskinan. Ia adalah potret telanjang tentang manusia yang kehilangan orientasi moral dan eksistensial, lalu menyerahkan hidupnya pada sesuatu yang paling abstrak sekaligus paling kejam: angka. Teater Tigakoma melalui Pentas Produksi ke-20 seakan menerobos masuk ke dalam nalar, mengacak-acak moral hingga menggugah kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia dihadapan penderitaan. Melalui nasib, perilaku manusia dipandang sebagai medan patologis - dimana trauma kemiskinan, hasrat tertekan, dan dorongan destruktif tersusun rapi dalam ketidaksadaran kolektif hingga melahirkan apa yang disebut sebagai rezim kekalahan.
Secara simbolik, angka menjelma menjadi alat legitimasi. Relasi sosial yang 14 dibangun atas predikat kemapanan akan melahirkan ketimpangan: yang kuat bakal memaksa kehendaknya sebagai aturan, sedangkan yang lemah wajib tunduk kepadanya. Masyarakat bawah direduksi menjadi komoditas - alat yang digunakan untuk “melanggengkan sistem” yang dipercaya kebenarannya. Relasi sosial seringkali disandarkan pada sesuatu yang dingin, tak bernurani, namun dipercaya menentukan hidup: uang.
Keberanian bertaruh, adalah narasi yang terus direproduksi. “Jika ingin kaya, teruslah mencoba. Jika tak punya kesempatan, percayalah pada keajaiban”. Maka, lahirlah permainan sesat - mesin pemutar nasib. Dimana relasi manusia, nilai, dan moral diubahnya menjadi relasi keberuntungan. Teater Tigakoma, membuka pertunjukan dengan irama kebahagiaan semu: para pemain riuh saling menebak angka, berbaris seolah nasibnya telah siap berubah. Dorr, tembakan pertama berhasil mengusik pikiran penonton. Angka yang tampak sederhana nyatanya mampu menjadi libidal kemakmuran. Alih-alih digunakan sebagai alat matematis, manusia justru mempertaruhkan hidupnya pada probabilitas permainan. Sampulung adalah pihak yang menari di atasnya, tidak senang, tidak juga sedih, bertindak selayaknya malaikat yang mengamati dari balik awan. Menyerupai figur deus ex machina, sekaligus simbol kekuasaan anonim yang bekerja bukan melalui wajah, melainkan mekanisme. Ia menggerakkan nasib dengan sesekali memperlihatkan surga.Manusia memiliki kecenderungan memetakan pengalaman menjadi prediksi masa depan. Rusaknya, ketika spekulasi mengarah pada ambisi buta, sehingga tindakan irasional pun jadi hasilnya, seperti halnya yang terjadi pada Korep dan Turah. Setelah melihat hadiah yang ditawarkan, mereka rela memberikan tubuh, jiwa, bahkan nurani demi “menjadi kaya”. Bahkan setelah kalah, mereka masih mengulanginya. Sigmund Freud menyebut kondisi ini sebagai repetition compulsion, dorongan tak sadar untuk mengulangi luka yang sama. Parade absurditas, menjadi representasi Tigakoma dalam menerjemahkan kejatuhan manusia.
Pentas garapan Afif Khoiruddin ini menegaskan keadaan Turah dan Korep bukan semata kesalahan personal, melainkan hasil sistem sosial yang menjerat mereka pada hasrat dan mimpi buta. Sejak awal, mereka tak pernah sadar bahwa ini adalah hasil rekayasa - tentang kematian dan nasib buruk yang terus berulang. Melewati dimensi kegelapan, mencicipi kekayaan, lalu tenggelam dalam kehampaan. Sang sutradara menampilkan Tengul sebagai medium penggugah kesadaran, bukan sekadar hiburan. Ironi yang ditampilkan begitu gemerlap, sekaligus gelap. Ada norma kolektif yang coba digugat: keyakinan. Bukankah Turah dan Korep juga sama seperti kita? memohon pada kekuasaan abstrak demi membalikkan keadaan.
Sutradara tampak hati-hati sekaligus cerdas dalam memproyeksikan “batu hitam”. Ia tampil sebagai entitas negatif yang berfungsi sebagai kambing hitam. Selaras dengan konsep scapegoat mechanism - masyarakat terbiasa melimpahkan kesalahan pada simbol tertentu agar struktur tetap utuh. Ornamen gelap pada aktor memperjelas posisi ini: kejahatan bukan sekadar urusan personal, melainkan struktural. Mulai dari kapital yang menekan, hingga narasi sosio kultural yang menyesatkan. Narasi mistik kerap hadir sebagai alat manipulasi. Ia mengaburkan sebab akibat sosial, yang membuat kemiskinan tampak sebagai kutukan. Tanggung jawab sistem dialihkan pada “takdir” atau “kehendak gaib”. Si Tuli CS adalah posisi yang memperkuat ilusi tersebut. Mereka bukanlah Tuhan ataupun nabi, tetapi berfungsi layaknya mediator mistik yang memberi legitimasi. Kondisi ini menegaskan bagaimana kekuasaan seringkali menyamar sebagai spiritualitas. Ketika segala sesuatu diserahkan pada kepercayaan buta, maka manusia kehilangan daya kritisnya. Tengul mempertontonkan jebakan spiritualitas melalui apa yang disebut sebagai “keajaiban”. Bagi orang yang telah banyak kehilangan, tentu harapan menjadi komoditas yang paling laku di pasaran. Dialog Korep, Turah dan Tuli CS, diperlihatkan negosiasi moral yang jamak terjadi. Dalam konsep social engagement Bandura dijelaskan bahwa manusia kerap membenarkan keburukan dengan cara membandingkannya pada sesuatu yang jauh lebih negatif, seperti halnya melakukan penumbalan jauh lebih mulia daripada melakukan perampokan uang rakyat. Pada titik ini, lagi dan lagi Tengul menjadi pukulan. Gerakan aktor yang terkesan mekanis menegaskan kondisi yang dikekang. Tubuh menjadi arsip penderitaan sekaligus medan politik bagi para pemilik kepentingan. Pada dasarnya, tidak ada yang benar-benar bebas, selain penyanyi yang unjuk gigi di akhir cerita. Melalui sebuah nyanyian, Tigakoma mengakiri kisah dengan tepuk tangan.
Lalu pertanyaannya: “apakah yang sedang mereka rayakan?” Segera, setelah saya menoleh sekitar, banyak penonton pergi meninggalkan
tempat. Apakah mereka telah menemukan jawaban? dengan pertunjukan seperti ini? Semoga bukan yang kedua. Pertunjukan semacam ini tentu memicu banyak pertanyaan: “Jika ingin menyadarkan, kenapa musti dikemas se-metafore mungkin?” Konsekuensinya, penonton bisa terjebak dalam pertanyaan mendasar: “Apa yang sebenarnya dipentaskan Tigakoma?” Saya hanya bisa mengira.
Jika berusaha menelaah motif, psikoanalisis menerangkannya sebagai mimpi - manifestasi alam bawah sadar. Memori panjang yang menyimpan luka dan hasrat yang belum sempat terselesaikan. Bersifat empiris, naluriah, egois bahkan narsistik, tergantung narasi yang diinternalisasi. Beranjak dari hal tersebut, maka pentas Tengul dapat dibaca sebagai representasi ketakutan simbolik. Di tengah ketidakpastian hidup, penggarap seolah mengungkap kecemasan kolektif: bahwa nasib mereka, juga penonton dapat berakhir seperti Korep, Turah, serta para pemain lotre lainnya. Mereka terperangkap dalam persoalan struktural, terseret pada kuasa gelap, dan akhirnya mati tanpa makna. Korep mengakhiri perjalanan panjangnya bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai manusia yang sadar bahwa perjuangannya tidak pernah benar-benar mengubah apa pun.
Di sisi lain, “parade absurditas” dalam Tengul menjadi idiom yang tak pernah usai. Narasi yang sengaja dibangun untuk menerjemahkan kebuntuan tragedi. Bagi masyarakat lokal, kekalahan mungkin telah menjadi pengalaman sehari-hari, sehingga tragedi kerap beralih rupa menjadi komedi. Namun Tigakoma memilih untuk tidak berhenti pada tawa getir itu. Kehadiran lagu di akhir pertunjukan menunjukkan niat estetik penggarap: bukan menertawakan luka, melainkan meledakkannya sebagai pernyataan sikap. Lagu menjadi katarsis, sebuah perlawanan simbolik terhadap keputusasaan. Pada akhirnya, Tengul tetaplah Tengul - sebuah cermin getir tentang nasib manusia. Tigakoma, dengan keberanian estetiknya, terus membuktikan bahwa mereka tidak mudah ditebak. Pertunjukan ini bukan hanya cerita yang selesai di atas panggung, tetapi soal kegelisahan yang dibawa pulang: tentang hidup, tentang pilihan, dan tentang kapan harus berhenti bertaruh.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar