Saya duduk di baris tengah, menyaksikan sebuah pertunjukan dari Teater Prada yang dengan sadar mempertemukan dua dunia: disiplin teater modern yang rapi dan serius, terukur, dengan komposisi cahaya yang diupayakan presisi dan kelugasan teater rakyat yang liar, riuh, hampir sembrono. Di tangan penggarapnya, keduanya bukan disatukan untuk harmoni, tetapi untuk saling mengejek. Yang terjadi di panggung bukan lakon, melainkan peristiwa moral yang dipermainkan.
Saya teringat pada gagasan “Bad Faith” dari Jean-Paul Sartre tentang manusia yang bersembunyi di balik peran sosialnya. Untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang membohongi dirinya sendiri agar tidak perlu menghadapi kebebasan dan tanggung jawabnya. Dalam pengertian ini manusia itu bebas. Dan kebebasan itu menakutkan.
Karena kalau kita bebas, berarti kita bertanggung jawab atas pilihan kita. Dan Bad faith itu terjadi ketika kita pura-pura tidak bebas. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan nasib, struktur, atau orang lain.
Dalam pertunjukan di sore itu, para tokoh barangkali tidak sedang memainkan karakter; mereka memainkan kepura-puraan moral. Dan yang menarik, kepura-puraan itu tidak disembunyikan. Melainkan dipertontonkan. Ia diejek dan ditertawakan. Mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan peran, agar tidak perlu menghadapi kemungkinan lain.
Di satu sisi, estetika modern menghadirkan jarak: blocking yang presisi, ritme yang disusun seperti partitur. Di sisi lain, nuansa teater rakyat dengan improvisasi, interupsi langsung dalam peran dan kadang seolah ke pononton, tawa yang kadang terasa “terlalu kasar” menghancurkan jarak itu.
Seolah-olah penggarap ingin berkata: moralitas yang terlalu rapi justru mencurigakan.
Saya melihat kesombongan di sana. Kesombongan atas kesadaran estetik.
Penggarap seperti berkata:
“Aku tahu perangkat teater formal atau teater tertentu. Aku tahu bagaimana membangun ilusi. Tapi aku juga tahu bagaimana merusaknya.”
Kesombongan dalam arti itu adalah sikap untuk tidak netral. Tidak menyembunyikan posisinya. Mengatur tempo ejekan. Membiarkan adegan-adegan serius tiba-tiba runtuh oleh gestur aktor. Dan justru di situlah kita bisa membaca moral sebagai peristiwa yang dipertentangkan.
Moral tidak lagi berdiri sebagai nilai luhur yang suci. Menjadi bahan olok-olok, digugat, dipertanyakan, ditelanjangi seperti dalam absurditas yang pernah kita baca atau lihat pada karya-karya absurd dimana tindakan manusia sering tampak agung tapi sekaligus konyol.
Bedanya, di sini absurditas itu beraroma kerinduan lokal, bersentuhan dengan tubuh kolektif penonton yang sebenarnya ada kerinduan dengan humor keseharian mereka, dari tontonan di sosmed, televisi hingga drama cina yang menggantung tak selesai akibat komodifikasi resolusi.
Saya membaca ini sebagai strategi eksistensial: moral bukan doktrin, tetapi pilihan yang disikapi sebagi pertaruhan atu keputusan etis. Dan panggung menjadi tempat untuk memperlihatkan betapa rapuhnya ia. Yang paling menarik adalah momen ketika aktor-aktor (pelajar) yang biasanya menjaga “kesakralan” akting, dipaksa masuk ke energi yang cair.
Misal satu lapisan yang membuat pertunjukan ini tidak berhenti pada satire moral semata: metafisis jalangkung dipanggil ke panggung bukan untuk dipercaya, melainkan untuk dipertanyakan.
Biasanya, jalangkung hadir sebagai medium pemanggil roh, sebuah permainan antara iman dan ketakutan kolektif. Dalam struktur ritual atau upacara, ia sering menjadi perangkat dramatik yang efektif: memanggil yang tak terlihat, menghadirkan yang gaib sebagai spektakel.
Namun disitu, jalangkung tidak berfungsi sebagai horor. Memungkinkan bisa dibaca sebagai alat interogasi metafisis. Ketika boneka itu diangkat, ketika mantra diperdengarkan, penonton mungkin saja mengira akan ada “kehadiran.” Tetapi yang hadir justru gelak tawa.
Roh yang dipanggil tidak benar-benar tiba. Atau lebih tepat: yang datang adalah kesadaran bahwa kita sedang memanggil sesuatu yang kita sendiri konstruksikan. Seperti manusia yang memanggil makna ke dalam dunia yang tidak menjawab.
Jalangkungan menjadi metafora dari kondisi itu. Kita ingin dunia berbicara, tapi dunia tetap bisu. Tawa muncul di tengah mantra.
Cahaya modern yang dingin menyinari boneka dengan presisi klinis, seolah berkata: lihat, ini hanya properti panggung. Tapi justru karena ia dipreteli, berpotensi membuka pertanyaan,
- Apakah roh itu tidak ada, atau kita yang kehilangan cara untuk percaya?
- Apakah ritual adalah bentuk keimanan, atau sekadar mekanisme kolektif untuk menenangkan kecemasan eksistensial?
- Atau yang lebih penting, siapakah Idham Ardi ?
Kesombongan itu kembali tampak di sini. Tidak serta merta memuliakan metafisis, tapi juga tidak menolaknya secara vulgar. Seperti membiarkannya tergantung seperti boneka yang diikat tali, bergerak bukan oleh roh, melainkan oleh tangan manusia.
Di situ terlihat kegamangan. Apakah mereka masih aktor? Atau sudah menjadi manusia yang sedang ketahuan bermain peran?
Dalam pengertian tersebut peristiwa moral itu memungkinkan untuk mencapai puncaknya: bukan pada adegan klimaks, tetapi pada pertemuan antara gaya dan kesadaran.
Saya juga tidak melihat pertunjukan ini sebagai kompromi antara dua bentuk teater. Saya melihatnya sebagai duel. Dan penggarapnya berdiri di tengah arena, dengan keyakinan yang hampir arogan, mengatur keduanya seperti dua kutub listrik yang sengaja dibiarkan bersentuhan agar memercik.
Bagi saya, kesombongan adalah kejujuran konseptual. Ia tahu apa yang sedang ia lakukan dan tidak meminta maaf atas ledekan dari ledakannya.
Sebagai pembaca teater, saya mencatat satu hal:
Saya merasa pertunjukan ini tidak ingin kita pulang dengan rasa haru. Ia ingin kita pulang dengan rasa “ tersinggung ”.
Dan mungkin, justru di situlah teater seperti ini bekerja secara moral. Bukan ketika tokoh-tokoh berbicara tentang benar dan salah.
Melainkan ketika sebuah ritual yang biasanya dipercaya, dipertontonkan sebagai panggung dan kita sadar bahwa mungkin selama ini kita juga sedang memainkan ritual-ritual dalam hidup kita tanpa benar-benar yakin siapa yang menggerakkannya.
Seperti saat kita memanggil roh, tapi sebenarnya kita sedang memanggil diri kita sendiri.
Akhirnya, jika roh itu benar datang, apakah itu berarti tidak ada yang menjawab atau justru kita yang tidak sanggup mendengar?
Dan apakah mempertanyakan jalangkung berarti meruntuhkan kepercayaan, atau justru memperkaya tafsirnya?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar