Folks

Teater Minatani dalam MARTIR, Pertunjukan Interaktif di Auditorium UMK

✍ Djauharudin - 📅 04 Dec 2025

Teater Minatani dalam MARTIR, Pertunjukan Interaktif di Auditorium UMK
Djauharudin

Kudus, 3 Desember 2025 — Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) malam dihadiri mahasiswa, aktivis, masyarakat, dan pegiat seni yang hadir menyaksikan pementasan teater interaktif bergaya Theatre of the Oppressed, Augusto Boal. Pertunjukan yang diselenggarakan oleh komunitas Teater Minatani tersebut mengangkat beberapa fragmen interaktik terkait tema feminis hingga membaca latar pahlawan seperti Samin Sentiko hingga Roro Mendut dalam pemberontakanya dengan penindasan.

Alih-alih menjadi pertunjukan konvensional, pementasan ini menghadirkan bentuk panggung yang terfragmentasi dalam Karya Martir yang digarap oleh Teater Minatani Pati, memungkinkan penonton untuk masuk ke panggung dan potensi untuk mengintervensi adegan. Format tersebut menolak penonton pasif dan memberi ruang bagi “spect-actor”, penonton yang sekaligus pelaku.

Dalam salah satu fragmen, ditampilkan tokoh Roro Mendut bergaya punk yang diperankan oleh Siwigustin untuk memberontak, berteriak mengungkapkan interpesentasi feminisme dalam pandangan kontemporer. Ketika konflik memuncak, adegan dihentikan dan berganti slide panggung menawarkan latar alternatif pilihan. Sejumlah penonton memberikan solusi kolektif, seperti melapor ke unit perlindungan perempuan, mencari dukungan teman dekat, hingga membangun jejaring komunitas.

“Dalam forum pementasan ini saya mendapati dua dimensi respon penonton, dimensi resepsi dan kritik, yang keduanya merupakan suatu yang menyenangkan untuk dilihat sebagai cara pandang penonton ” ujar salah penggarap Yudi Dodok.

Penonton lain mengaitkan peristiwa di panggung dengan situasi pasca digital modern saat ini. Dimana keprihatinan tentang ketidak mauan masyarakat untuk memiliki daya belajar dan melihat studi latar tokoh dalam sejarah panjang Indonesia. Mereka menyoroti bagaimana kekuasaan hadir bukan hanya lewat fisik, tetapi melalui kontrol non-fisik, tekanan sosial, hegemoni budaya dari opini publik sebagai resepsi.

Pertunjukan ini juga memberikan otokrikit terhadap budaya masif doomscrolling, atau kebiasaan yang disebut sebagai “katarsis pasif baru” bentuk pelariandan membentuk budaya populer saat ini yang meredakan kecemasan tanpa memberi kesadaran atau aksi sosial sebagai manusia yang nyata. Dalam diskusi penutup, fasilitator mengajak penonton melihat kembali peran mereka sebagai warga, bukan sekadar konsumen, melainkan sebagai pembangun makna.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar