Folks

Teater Marjuki dan Dunia Citra

✍ Agam Abimanyu - 📅 26 Jun 2026

Teater Marjuki dan Dunia Citra
Agam Abimanyu

Pertama kali saya membaca konsep kerja Teater Marjuki dalam Kelir, yang paling awal tertangkap bukan premisnya, melainkan pilihannya untuk tidak menghadirkan wayang secara literal. Spirit puppet yang menjadi fondasi dramaturgis pertunjukan ini bekerja justru karena absennya benda itu sendiri. Yang hadir adalah logikanya: ada sesuatu yang menggerakkan, dan ada yang digerakkan. Jarak di antara keduanya adalah tempat pertunjukan ini berpikir.

Kelir, dalam tradisi wayang, adalah layar putih tempat bayangan bergerak. Penonton melihat bayangan, bukan dalang. Melihat bentuk, bukan kayu. Justru dari jarak itulah cerita bekerja. Kelir berdiri di antara penonton dan sumber cahaya, dan di situlah realitas dipilih untuk disepakati bersama. Marjuki tampaknya tidak menggunakan kelir sebagai referensi estetis. Kelir digunakan sebagai pertanyaan: jika manusia hari ini hidup di dalam sistem yang menggerakkannya tanpa terlihat, siapa dalang, dan di mana layarnya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu sedikit kita mundur. Pada 1967, filsuf dan teoretikus budaya Prancis Guy Debord menerbitkan La Société du spectacle yang kemudian diterjemahkan sebagai The Society of the Spectacle. Argumen utamanya yang sederhana, mengakatakan bahwa masyarakat modern tidak lagi hidup dalam pengalaman langsung, melainkan dalam representasi dari pengalaman. Kehidupan sosial, menurut Debord, telah berubah menjadi akumulasi tontonan. Hubungan antar manusia tidak lagi bersifat langsung, melainkan dimediasi oleh citra.

Debord tidak sedang berbicara tentang televisi atau iklan semata. Yang dikritiknya lebih dalam dari itu: bahwa sistem manusia tidak hanya memproduksi barang, melainkan juga memproduksi cara pandang. Dan cara pandang itu bekerja melalui citra yang tampak netral, tampak alami, tampak seperti realitas itu sendiri, padahal merupakan konstruksi yang melayani kepentingan tertentu. Tontonan, bagi Debord, adalah hubungan sosial antar manusia yang dimediasi oleh citra, sampai pada titik di mana citra itu sendiri menjadi lebih nyata dari yang diwakilinya.

Ambil contoh yang dekat: ketika seseorang mengalami pernikahan, momen itu kini hampir tidak bisa dipisahkan dari dokumentasinya. Foto, video, unggahan. Bukan karena orang-orang itu dangkal, melainkan karena sistem sosial kita sudah lama mengukur keabsahan sebuah momen dari kemampuannya untuk direpresentasikan. Pernikahan yang tidak difoto terasa kurang nyata, bahkan bagi yang mengalaminya sendiri. Momen itu ada, tapi eksistensinya butuh konfirmasi dari citra. Debord sudah melihat bibit dari kondisi ini enam dekade lalu. Yang terjadi sekarang adalah kondisi tersebut berakselerasi dengan cara yang bahkan Debord sendiri mungkin tidak sepenuhnya bayangkan.

Kebudayaan citra hari ini memiliki karakter yang berbeda secara kualitatif, melampaui soal skala atau kecepatan.

Dulu, manusia memproduksi citra. Sekarang, citra memproduksi manusia.

Kita tidak lagi hanya memotret momen, kita memilih momen mana yang layak terjadi supaya bisa dipotret. Kita tidak hanya menceritakan pengalaman, kita merancang pengalaman agar layak diceritakan. Yang tampak di permukaan adalah gejala struktural yang lebih dalam: ketika nilai sebuah pengalaman diukur dari kemampuannya menjadi citra, maka pengalaman itu sendiri mulai direkayasa mundur dari titik akhirnya. Di sinilah kecerdasan buatan masuk sebagai dimensi baru yang mengubah segalanya secara lebih mendasar.

Manusia selalu mendefinisikan dirinya lewat narasi. Identitas adalah hasil dari penceritaan yang terus-menerus, kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. Kita adalah makhluk yang bercerita tentang dirinya, dan dari cerita itulah kita memahami siapa kita. Tapi bayangkan kondisi berikut: seseorang yang kehilangan kemampuan bicara akibat stroke kini bisa berkomunikasi melalui AI yang dilatih dari rekaman suara dan tulisannya sebelum sakit. AI itu berbicara dengan intonasi yang sama, pilihan kata yang sama, bahkan humor yang sama. Orang-orang di sekitarnya merasakan kehadiran yang familiar. Tapi pertanyaan yang mengganggu muncul perlahan: apakah yang berbicara itu masih orang yang sama, atau rata-rata statistik dari semua yang pernah dikatakannya?

Kasus semacam itu sudah terjadi dan akan semakin umum. Tapi versi yang lebih halus dan lebih masif sudah berlangsung tanpa kita sadari. Ketika kita membuka platform digital, algoritma tidak hanya merekomendasikan konten, melainkan secara perlahan membentuk selera, membentuk cara pandang, dan akhirnya membentuk cara kita membayangkan kemungkinan hidup. Kita mulai bermimpi dalam format yang sudah disetujui sistem.

Kecerdasan buatan generatif memperparah kondisi tersebut. Persoalan paling serius muncul ketika AI yang dilatih dari output manusia menghasilkan teks, gambar, dan suara yang terasa manusiawi: kita tidak lagi bisa memastikan apakah yang kita konsumsi sebagai ekspresi manusia memang lahir dari pengalaman manusia, atau dari rata-rata statistik seluruh ekspresi manusia yang pernah ada. 

Keduanya terasa sama di permukaan. Dan ketika keduanya terasa sama, pertanyaan tentang dari mana sebuah narasi lahir mulai kehilangan relevansinya bagi kebanyakan orang.

Di sinilah pertanyaan tentang kebermaknaan mulai retak. Bioteknologi menambahkan dimensi lain. Ketika tubuh bisa dirancang, ketika batas antara yang lahir dan yang dibuat semakin kabur, pertanyaan tentang "keaslian" manusia bergeser dari ranah metafisika menuju pertanyaan teknis yang punya jawaban pasar. Tubuh aktor yang bekerja dalam logika spirit puppet menyimpan tegangan yang sangat spesifik: ada kesadaran di dalam tubuh itu, tapi geraknya tampak datang dari tempat lain. Ada jarak antara kehendak dan tindakan. Bayangkan seseorang yang mengangkat tangan, tapi tidak yakin apakah keputusan untuk mengangkat tangan itu lahir dari dirinya atau dari sesuatu yang sudah lama membentuknya dari luar. Jarak itu, dalam konteks pertunjukan Marjuki, saya baca sebagai representasi kinestesis dari kondisi manusia kontemporer: tubuh yang hadir, tapi narasi tentang tubuh itu sudah lebih dulu dibentuk oleh sistem yang tidak terlihat.

Spirit puppet di atas panggung dengan demikian menjadi paradoks yang produktif: logika ketidakhadiran dalang, dijalankan oleh tubuh yang paling hadir. Tubuh tidak bisa diedit setelah kejadian. Waktu berjalan satu arah dan tidak bisa diulang. Kehadiran adalah syarat, bukan ornamen. Di antara semua medium ekspresi yang ada hari ini, panggung adalah salah satu yang masih mempertahankan ketidakmampuannya untuk berbohong tentang kehadiran.

Wacana tentang AI dan bioteknologi sering berakhir di dua kutub yang sama-sama tidak produktif: optimisme teknologis yang merayakan setiap kemungkinan baru tanpa bertanya kemungkinan bagi siapa, atau pesimisme humanis yang meratapi hilangnya sesuatu yang murni, tanpa menyadari bahwa "kemurnian" yang diratapi itu sendiri sudah lama merupakan konstruksi.

Marjuk dalam "Kelir" disutradarai Ahmad Safrudin akan diperankan oleh Davina Shereen, Laili Zakia, Shazie Ramadhani, Fitria Noor Aini, Adinda Fatikhatul, Julia Lifa, Eva S. R., serta Aisyah Rhani. Sejauh yang saya baca dari konsep kerjanya, tidak berdiri di salah satu kutub tersebut. Pertunjukan ini mungkin tampaknya lebih tertarik pada pertanyaan ketimbang pada posisi. Dan spirit puppet, sebagai pilihan dramaturgis, mungkin mendukung itu: puppet tidak memberi tahu kita apa yang harus dirasakan, puppet menunjukkan struktur dari mana perasaan itu datang.

Kelir di panggung berdiri dengan kesadaran penuh bahwa setiap pertunjukan adalah konstruksi. Dan justru dari pengakuan itulah percakapan yang sungguh-sungguh bisa dimulai.

Kelir hadir dengan pertanyaan. Di dalamnya, saya membaca upaya untuk memeriksa, dengan serius dan tanpa kepastian palsu, bagaimana manusia bernegosiasi dengan kondisi yang telah diciptakannya sendiri tapi kini tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Pertanyaan terbesar melampaui soal teknologi. Pertanyaan terbesar adalah tentang apa yang kita rela pertahankan sebagai sesuatu yang tidak bisa dikuantifikasi, tidak bisa direpresentasikan, tidak bisa dijadikan citra, dan mengapa kita masih perlu mempertahankannya.

Meskipun saya tidak tahu apakah pertunjukan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut pada 28 Juni 2026 di Auditorium UMK mendatang. Tapi saya cukup yakin bahwa Marjuki tidak datang untuk menjawab. Marjuki datang untuk memastikan pertanyaannya terasa mendesak, dan itu, dalam hemat saya, sudah merupakan kerja dramaturgis yang serius.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar