Kudus, Keluarga Segitiga Teater di usianya yang ke-15, kembali berpentas mengangkat lakon “Sandiwara Salah Kejadian” naskah karya Idham Ardhi Nurcahyo sebagai produksinya yang ke – 21, pada Sabtu (9/3), di Lapangan Basket Universitas Muria Kudus (UMK), pukul 19:30 WIB.
Hadi S. (Kadal) sebagai sutradara menyatakan, mengangkat naskah ini karena selain merupakan naskah yang bagus tentu saja, juga karena membiasakan untuk berdialog dengan naskah-naskah “lokal” karya teman-teman sendiri. “Ini bukan berarti kami menolak naskah-naskah besar karya penulis-penulis top, tidak. Naskah-naskah yang ditulis teman-teman ini menurut kami jernih dan genuine memotret realitas sosial di sekitar kita.”
Pementasan dibuka dengan persoalan dalam rumah tangga Gono (dimainkan Buseng) dan Gini (Siwi Agustin). Suami istri tersebut mempunyai dua anak, Nina (Arum) dan Ujang (Yakin). “Realitas sosial yang khas, keluarga adalah komunitas terkecil dalam masyarakat kita yang penuh renik-renik konflik dan segala macam persoalan masing-masing yang kadang sepele tapi bikin pusing,” ujar Hadi S. Kadal.
Bangunan dramatik yang coba disuguhkan oleh garapan kali ini dengan menampilkan dua ruang adegan yang terpisah yang saling berhubungan.
“Rumitnya konflik-konflik dalam cerita tersebut tersebut kami siasati dengan membentuk dua ruang adegan yang terpisah namun menyatu. Dua panggung. Konsep ini seperti memaksa kami untuk terlibat dalam kerumitan konflik dalam naskah itu sendiri,” lanjutnya.
Sementara menurut salah satu pemeran Gini (Siwi Agustin) yang dalam keputusaanya menghantarkan kepada guru spiritual yang diperankan oleh Cipo NH, ” Menurutku salah satu korban patriarki. Pembungkaman yang akhirnya memutar balikan sudut pandangnya untuk tetap bertahan hidup. Melihat Gini yang kemudian tidak lagi seimbang psikisnya setelah dihamili Gono, dengan sisa pemikiran dan dirinya sebelum diperkosa, mungkin ada bentuk protesnya pada dunia/pada pemilik dunia dengan cara menantang dan mencari jawaban dari titik terendah dalam hidupnya, kemudian melihat dan mempertanyakan kembali kebenaran dan kesalahan. Benarkah benar itu kebenaran, begitu sebaliknya, betulkah kesalahan benar suatu yang patut disalahkan ? ” ungkap Siwi Agustin.
Diakhir pementasan digelar diskusi tentang bagaiamana pementasan itu dihadirkan, hingga tentang isu sosial budaya yang telah diketengahkan. Dipimpin oleh Zaki yang merupakan Ketua sekaligus dramaturg dalam lakon tersebut. Hadir pula beberapa dramawan seperti Dhani Azra dari Kudus, Arif Khilwa penyair asal Pati serta komunitas teater lainnya untuk berdialog, mengapresiasi, berdiskusi tentang garapan karya dari teater keset tersebut.
Banyak hal sebenarnya yang diungkapkan dalam pementasan sabtu kemarin, misalkan potret ironisme realitas sosial yang mengantarkan kita kepada kepada pertanyaan – pertanyaan soal manusia. Seperti kisah seorang pelacur yang terus melaju menghidupi keluarganya. Namun disatu sisi ia tidak diterima keberadaannya di dalam keluarganya.
Rencananya, setelah dari Kudus, pentas ini akan dikelilingkan ke sejumlah kota di Jawa Tengah, seperti di Semarang (25/4) di Auditotium UIN dan Temanggung (4/5) di Pendapa Pengayoman.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar