Panggung III

Tafsir Barongan Ndas Papat Karya Leo Katarsis di Gelar Budaya Bareng Plat K

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 21 Jun 2026

Tafsir Barongan Ndas Papat Karya Leo Katarsis di Gelar Budaya Bareng Plat K
Melly Fardiani Tasmara

Pada Sabtu, 20 Juni 2026, pelataran Omah Sumber, Soneyan, Margoyoso, Pati, menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi seni dalam Gelar Budaya Bareng Plat K. Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, pertunjukan Barongan Ndas Papat karya Leo Katarsis hadir sebagai sajian yang memadukan teater, ritual, tembang Jawa, dan tradisi barongan dalam sebuah perenungan tentang perjalanan manusia mengendalikan dirinya sendiri.

Tata panggung pertunjukan turut memperkuat lapisan simbolik yang dibangun sepanjang pementasan. Arena dibuat terbuka di bawah langit malam tanpa batas ruang yang tegas, seolah menempatkan seluruh peristiwa dalam lingkup kehidupan manusia yang sesungguhnya. Di sekeliling arena berdiri rangkaian anyaman bambu yang menjadi penyangga obor-obor menyala. Nyala api yang mengitari ruang pertunjukan membentuk lingkar cahaya di tengah gelapnya malam, menghadirkan suasana ritual yang kuat sejak awal pementasan. Dalam konteks simbolik pertunjukan, api dapat dimaknai sebagai kesadaran yang terus hidup dalam diri manusia. Di tengah berbagai godaan, amarah, kesombongan, keserakahan, dan keinginan akan pujian, selalu ada cahaya batin yang menjadi penuntun agar manusia tidak kehilangan arah.

Pada salah satu sisi arena tampak wajah raksasa dari anyaman bambu yang berdiri mengawasi jalannya pertunjukan. Kehadirannya menjadi simbol sisi liar dan naluriah yang selalu hidup dalam diri manusia. Tatapannya yang tajam mengingatkan bahwa amarah, kesombongan, keserakahan, dan keinginan akan pujian senantiasa hadir sebagai bagian dari kehidupan yang harus dikenali dan dikendalikan. Penempatannya di tepi arena seolah menunjukkan bahwa sisi-sisi tersebut selalu mengintai perjalanan manusia, bahkan ketika seseorang sedang berusaha menempuh jalan kebajikan.

Sementara itu, latar kain putih yang membentang di belakang arena menghadirkan ruang yang bersih dan netral, melambangkan kesadaran manusia pada keadaan asalnya sebelum dipengaruhi berbagai dorongan, pengalaman, dan pilihan hidup. Warna putih tersebut menjadi kontras dengan gelapnya malam serta nyala api yang mengelilingi arena, sehingga memperkuat gambaran tentang perjalanan manusia mencari terang di tengah berbagai godaan kehidupan. Perpaduan antara api, bambu, kain putih, dan ruang terbuka menciptakan suasana yang sederhana namun sarat makna, mempertegas nuansa ritual sekaligus perenungan yang menjadi ruh utama pertunjukan Barongan Ndas Papat.

Pertunjukan dibuka dengan kemunculan Rananggana, tokoh utama yang membawa sapu lidi raksasa bernama Sada Manggala. Ia duduk di tengah arena, kemudian sekumpulan manusia memasuki ruang pertunjukan dan membentuk lingkaran di sekelilingnya. Dengan gerak lambat yang diiringi musik dan lantunan suling, suasana ritual pun terbangun, menghadirkan kesan khusyuk dan penuh penghayatan.

Kekuatan simbolik pertunjukan ini tampak melalui tata busana dan penggunaan topeng. Seluruh aktor mengenakan kostum berwarna putih. Pemeran laki-laki tampil bertelanjang dada, sementara pemeran perempuan mengenakan kemben, dengan seluruh kaki tertutup celana panjang putih. Warna putih melambangkan kesucian dan kemurnian manusia sebelum berhadapan dengan berbagai godaan kehidupan. Wajah para pemain tidak diperlihatkan karena seluruh tokoh menggunakan topeng anyaman bambu. Sebagian besar tokoh memakai topeng pincuk berbentuk segitiga terbalik yang dapat dimaknai sebagai simbol wadah kehidupan manusia yang senantiasa menerima berbagai pengalaman dan pengaruh. Alap-alap menggunakan topeng ekrak, sedangkan Dewi Laras mengenakan topeng kalo berbentuk lingkaran yang melambangkan keutuhan, keseimbangan, dan harmoni.

Ketika sosok Dewi Laras memasuki arena dengan membawa bokor dan menyan, seluruh musik dan suara suling berhenti seketika. Keheningan total menyelimuti ruang pertunjukan, menciptakan suasana yang sakral dan penuh wibawa. Nama Laras sendiri berasal dari konsep Jawa yang berarti selaras, seimbang, dan harmonis. Karena itu, Dewi Laras hadir sebagai simbol tuntunan sekaligus keseimbangan hidup yang menjadi tujuan perjalanan manusia.

Saat Dewi Laras menyampaikan titah kepada Rananggana, dilantunkan tembang Sinom dengan lirik “Lumiyating Kang Bolo Lumaris.” Dalam tradisi Jawa, Sinom melambangkan pertumbuhan, pembelajaran, dan pencarian arah hidup. Lantunan tersebut mempertegas bahwa titah Dewi Laras merupakan tuntunan agar manusia menempuh jalan kebajikan menuju kemuliaan hidup. Setelah menyampaikan titah, Dewi Laras meninggalkan arena. Rananggana kemudian memagari lingkaran manusia dengan Sada Manggala sebagai simbol upaya menjaga keteguhan hati dan kesadaran.

Konflik dimulai ketika Alap-alap memasuki arena. Dengan topeng ekrak yang dikenakannya, tokoh ini tampil sebagai simbol berbagai sifat buruk dan kecenderungan negatif dalam diri manusia. Perlahan ia memengaruhi jalannya upacara hingga para manusia yang semula khusyuk mulai meninggalkan ritual dan larut dalam kegembiraan semu. Sebagian dari mereka bahkan memilih mengikuti Alap-alap dan menjadi pasukannya. Adegan ini menggambarkan betapa mudahnya manusia tergoda oleh kenikmatan duniawi hingga melupakan nilai-nilai yang sebelumnya dijaga.

Setelah itu muncul empat saudara diri manusia yang diwujudkan melalui simbol binatang. Macan melambangkan kemarahan, banteng melambangkan kesombongan, merak melambangkan hasrat untuk dipuji dan memamerkan diri, sedangkan kera melambangkan keserakahan. Keempat simbol tersebut merupakan representasi Sedulur Papat yang hidup dalam diri setiap manusia. Mereka tampil satu per satu sebelum akhirnya menarik seluruh pasukan Alap-alap semakin jauh ke dalam pengaruh hawa nafsu.

Ketika Rananggana kembali ke tempat pertapaan, ia mendapati seluruh tatanan yang dijaganya telah runtuh. Para manusia telah terbuai dan mengikuti jalan Alap-alap. Pada adegan ini dilantunkan tembang Maskumambang dengan lirik “Kelek-kelek biyung sira ana ngendi". Tembang ini menghadirkan suasana kehilangan, kegelisahan, dan kerinduan akan tuntunan yang telah ditinggalkan. Melalui lantunan tersebut, penonton diajak merasakan kegundahan manusia yang kehilangan arah hidupnya.

Usai tembang Maskumambang dilantunkan, empat simbol binatang yang sebelumnya hadir secara terpisah menjelma menjadi satu sosok besar bernama Barongan Ndas Papat. Barongan berkepala macan, banteng, merak, dan kera itu menjadi personifikasi dari amarah, kesombongan, hasrat akan pujian, dan keserakahan yang telah bersatu menguasai kesadaran manusia.

Menyaksikan keadaan tersebut, Rananggana murka karena titah Dewi Laras telah diabaikan. Pertarungan antara Rananggana dan Barongan Ndas Papat pun terjadi sebagai simbol pergulatan manusia melawan sisi gelap dalam dirinya sendiri. Dengan kekuatan Sada Manggala, Rananggana akhirnya berhasil menundukkan Barongan Ndas Papat. Namun barongan itu tidak dimusnahkan. Ia justru duduk bersujud di hadapan Rananggana. Adegan ini menegaskan bahwa nafsu dan berbagai kecenderungan buruk tidak dapat dihapus sepenuhnya dari diri manusia, melainkan harus dikendalikan dan ditempatkan pada posisi yang seimbang.

Sebagai penutup, Dewi Laras kembali memasuki arena untuk melakukan ruwatan. Pada saat itu dilantunkan "Singgah-Singgah Kolo Singgah" atau Kidung Tolak Bala, sebuah doa perlindungan dalam tradisi Jawa yang bertujuan membersihkan energi buruk serta memohon keselamatan. Kehadiran kidung tersebut menjadi simbol penyempurnaan proses penyucian setelah manusia berhasil mengendalikan empat saudara dirinya.

Melalui Barongan Ndas Papat, Leo Katarsis menghadirkan sebuah pertunjukan yang sarat simbol dan refleksi. Struktur pertunjukan bergerak dari tuntunan melalui tembang Sinom, jatuh ke dalam kehilangan arah melalui Maskumambang, lalu berakhir pada pemulihan melalui Kidung Tolak Bala. Tata panggung, obor-obor yang mengelilingi arena, topeng, kostum, tembang, dan seluruh rangkaian adegan saling mendukung untuk membangun satu gagasan yang utuh tentang perjalanan manusia mengenali dirinya sendiri. Pada akhirnya, pertunjukan ini mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah kekuatan dari luar dirinya, melainkan amarah, kesombongan, keinginan untuk dipuji, dan keserakahan yang hidup di dalam dirinya sendiri. Ketika keempatnya mampu dikendalikan, manusia akan mencapai keadaan laras, hidup yang selaras, seimbang, dan harmonis.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar