Folks

Satu Perahu, Enam Nama Plat K #4

✍ Agam Abimanyu - 📅 21 Jun 2026

Satu  Perahu,  Enam  Nama Plat K #4
Agam Abimanyu

Panggung di Pelataran Omah Sumber, Soneyan, Margoyoso, Pati mungkin bisa dikatan panggung terbuka, dekat dengan tanah, dekat dengan penonton yang berdiri atau duduk lesehan, dekat dengan angin malam dan suara-suara yang tak bisa dikontrol sutradara manapun. Justru karena itulah panggung ini terasa nyata dengan cara yang berbeda. (20/06/2026).

Di luar sana, enam kabupaten sedang mencoba mengingat bahwa mereka pernah satu rumah.

Rumah yang Terlipat dalam Sejarah

Blora. Rembang. Pati. Grobogan. Kudus. Jepara.

Keenam kabupaten ini kini berdiri masing-masing sebagai unit administratif yang terpisah masing-masing dengan kepala daerahnya, dengan APBD-nya, dengan dinamika politiknya sendiri. Namun ada lapisan sejarah yang lebih tua dari struktur administratif itu: mereka pernah tinggal bersama dalam satu rumah bernama Karesidenan Pati.

Rumah itu sudah lama terhapus dari peta pemerintahan. Tapi memori kolektif tidak serta merta bekerja mengikuti Peraturan Pemerintah. Di sinilah senirupa eks-karesidenan Pati membaca sesuatu yang berharga: sedimen kebersamaan itu masih ada, masih bisa digali, masih bisa dijadikan fondasi untuk membangun sesuatu yang relevan hari ini.

"Plat K" — kode kendaraan bermotor yang dipilih menjadi nama mengambil benda paling lumrah dalam kehidupan sehari-hari: selembar pelat nomor kendaraan yang mungkin hampir tak pernah kita pikirkan maknanya. Dan dari sana, sebuah pertanyaan dibangun: bukankah kita, yang berbagi kode yang sama, seharusnya juga berbagi sesuatu yang lebih dari nomor registrasi?

Sebelum berbicara tentang Gelar Budaya Plat K di Soneyan, konteks yang melingkupinya perlu dibaca dengan jujur — tanpa eufemisme.

Menurut Imam Bucah, perupa asal Pati. Masyarakat terkotak-kotak. Landasan pikir persatuan kerap jatuh pada pilihan paling akhir karena orang lebih mendahulukan ikatan emosional yang primordial. Pertikaian antar perguruan silat. Perkelahian antar suporter yang sudah begitu rutin hingga tak lagi mengejutkan.

Pertarungan massal antar kampung atau antar sekolah yang viral di sosmed semuanya cermin betapa tipisnya kesadaran bahwa kita semua hidup bersama dalam satu perahu NKRI yang berbendera merah putih.

Di ruang media sosial, gambarannya tak kalah muram. Debat tak berujung. Adu argumen tanpa habis. Saling hujat. Pamer kritik. Rimba verbal yang terbakar. Pikiran-pikiran sejuk menjadi barang langka yang harus dicari dengan susah payah di antara timbunan konten amarah. Sistem demokrasi memang membawa konsekuensi logisnya: perbedaan adalah niscaya. Tapi ketika perbedaan tak dikelola dengan kesadaran kebersamaan yang cukup kuat, perbedaan itu berubah menjadi perpecahan. Dan perpecahan yang dibiarkan mengeras akan menjadi tembok.

Mereka mencari rasa aman dalam kelompok-kelompok kecil yang eksklusif, bukan dalam identitas cair yang luas dan terbuka.

Kita sedang hidup di dalam skenario yang barangkali dalam khawatirkan itu. Dan komunitas Plat K memilih untuk tidak hanya mengeluhkannya.

Ketika Seni Menjadi Bahasa yang Berbeda

Mengapa seni yang dipilih sebagai wahana? Mengapa bukan olahraga bersama, khotbah akbar, atau proyek infrastruktur gotong royong?

Barangkali jawabanya adalah bahwa seni bekerja pada lapisan pengalaman yang berbeda dari ceramah atau kampanye kesadaran. Seni tidak meminta orang untuk menyetujui sebuah proposisi. Seni mengajak orang untuk merasakan sebuah realitas bersama. Dan dalam momen perasaan bersama itulah ketika dua orang dari dua kabupaten berbeda berdiri di depan satu karya dan sama-sama tergerak — persatuan bukan dideklarasikan, melainkan dialami.

Deklarasi persatuan di atas podium mudah menguap. Pengalaman persatuan yang masuk melalui mata, telinga, dan dada meninggalkan bekas yang berbeda.

Ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh kritik seni manapun tentang pengalaman berada di dalam sebuah peristiwa menjadi bagian dari tubuh peristiwa itu sendiri. Dari atas panggung di Soneyan malam itu, yang tertangkap mata saya adalah wajah-wajah. Wajah orang Pati yang tertawa bersama orang Grobogan. Anak-anak lain yang berdiri di pinggir, belum menemukan tempat duduk, tapi tak beranjak pergi.

Mereka tak semata - mata datang karena disuruh. Tak ada daftar hadir untuk laporan pertanggungjawaban anggaran. Mereka datang mungkin karena ada sesuatu di sini yang menarik mereka — sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam dari undangan resmi: rasa ingin tahu tentang sesama, rasa ingin berbagi momen dengan orang-orang yang berbeda tapi tak asing.

Sebagai deskripsi atas apa yang sedang terjadi. Seni dan daya hidup, adalah seni yang lahir dari dalam masyarakat bukan seni yang diturunkan dari atas kepada masyarakat sebagai proyek pencerdasan yang sudah selesai dirancang sebelum penonton tiba.

Enam Hari, Enam Nama

Gelar budaya ini berlangsung dari 19 hingga 24 Juni 2026 — enam hari, secara kebetulan atau kesengajaan berjumlah sama dengan enam kabupaten yang diwakilinya.

Selama enam hari itu, Soneyan menjadi ruang yang tak biasa. Pameran senirupa menampilkan karya-karya dari perupa lintas kabupaten. Percakapan terbuka lebih lambat dan lebih dalam dari perdebatan media sosial yang terbakar. Generasi muda diberi panggung untuk menunjukkan bahwa mereka pun punya sesuatu untuk disumbangkan pada bangunan kebudayaan bersama ini.

Bahasa yang terlukis dan di atas panggung yang bergerak, berbicara, diam, lalu bergerak lagi di hadapan penonton yang memilih hadir, yang memilih menyaksikan, dan yang dengan kehadirannya itu sudah menyatakan sesuatu.

Enam hari pameran, musik, teater, film, puisi, dan berbagai medium bahasa seni tentu tak cukup untuk mengubah polarisasi Indonesia. Romantisme semacam itu perlu diurai sejak awal.

Kebudayaan itu bekerja dalam waktu panjang. Perubahan tak diproduksi dalam siklus berita dua puluh empat jam. Kebudayaan menyemai dengan sabar, dengan tekun, dengan keyakinan bahwa benih yang jatuh hari ini akan tumbuh di waktu yang tak bisa kita jadwalkan.

Gelar budaya bareng Plat K di eks-karesidenan Pati mungkin sedang menyemai. Di Soneyan, selama enam hari antara 19 hingga 24 Juni 2026, benih itu sudah jatuh ke tanah.

Yang kini menjadi pertanyaan bagi kita semua, bukan hanya bagi komunitas ini, melainkan bagi siapapun yang peduli pada keutuhan adalah: adakah cukup orang yang mau bersabar, merawat, dan menunggu tumbuhnya?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar