Panggung III

Menyimak Karya dan Ruang dalam Pameran Seni Plat K

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 21 Jun 2026

Menyimak Karya dan Ruang dalam Pameran Seni Plat K
Melly Fardiani Tasmara

Sebagai bagian dari rangkaian Gelar Budaya Bareng Plat K yang berlangsung di Omah Sumber, sebuah pameran seni rupa turut menghadirkan ruang apresiasi bagi para perupa dengan beragam latar dan pendekatan berkarya. Pameran ini menjadi salah satu titik pertemuan antara seni, budaya, dan masyarakat yang hadir dalam perhelatan tersebut.

Berbeda dengan pameran yang umumnya berlangsung di galeri modern, pameran ini menempati rumah bernuansa Jawa yang masih mempertahankan karakter aslinya. Begitu memasuki area, pengunjung disambut suasana rumah yang hangat dengan pintu-pintu kayu, dinding anyaman bambu, serta ruang-ruang yang tetap menyimpan jejak kehidupan sehari-hari. Rumah itu sendiri tidak sekadar menjadi wadah, tetapi juga bagian dari pengalaman visual yang turut membentuk pemaknaan karya.

Salah satu sudut yang paling kuat menghadirkan kesan adalah pawon tradisional dengan tungku-tungku lama yang masih terjaga. Dahulu, api di tungku tersebut menjadi sumber kehidupan penghuni rumah. Dalam konteks pameran, ruang yang sama kini berubah menjadi tempat pertemuan gagasan, percakapan, dan pengalaman estetik. Api yang dulu bersifat fungsional, kini hadir dalam bentuk lain sebagai energi simbolik yang menghangatkan ruang seni.

Beragam karya dipamerkan dalam bentuk lukisan, patung, hingga karya tiga dimensi. Beberapa lukisan menghadirkan bahasa visual yang sarat simbol, seperti figur manusia yang di dalam tubuhnya terbentang jalan dan lanskap kehidupan, menggambarkan perjalanan eksistensial setiap individu.

Karya lain menampilkan tubuh manusia yang terhubung dengan pusaran angka dan simbol, membuka tafsir tentang pikiran, pengetahuan, serta tekanan kehidupan modern yang terus bergerak.

Di sisi lain, terdapat karya yang merespons realitas sosial secara langsung. Sebuah lukisan yang menampilkan kendaraan angkutan dengan narasi bernada kritik sosial memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium kegelisahan terhadap kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, karya potret manusia menunjukkan ketelitian perupa dalam menangkap ekspresi, karakter, dan emosi melalui detail warna dan gestur.

Selain lukisan, patung-patung kayu turut memperkaya pengalaman ruang. Bentuk-bentuk figuratif yang muncul dari karakter alami material kayu menghadirkan kesan kedekatan antara manusia dan alam. Retakan, serat, dan lekukan kayu tidak disembunyikan, melainkan dijadikan bagian dari ekspresi artistik yang utuh.

Di dekat pintu masuk, sebuah karya tiga dimensi berupa figur manusia yang duduk tenang dengan respirator menutupi wajah menjadi penyambut pertama bagi pengunjung. Bunga-bunga yang tumbuh pada bagian dada figur tersebut menghadirkan kontras antara kehidupan, harapan, dan tekanan yang menyertainya. Penempatannya menjadikan karya ini seperti penjaga simbolik yang membuka pengalaman memasuki ruang pameran.

Yang membuat pameran ini terasa kuat bukan hanya karya yang dipajang, tetapi juga relasi yang terbentuk antara karya dan ruang. Dinding bambu, perabot rumah, pawon tradisional, serta sudut-sudut bangunan tidak dipisahkan dari karya, melainkan ikut menjadi bagian dari keseluruhan pengalaman estetika. Tidak ada ruang yang steril, semuanya saling berkelindan dengan jejak kehidupan yang nyata.

Melalui pameran ini, seni tidak tampil sebagai sesuatu yang jauh, melainkan hadir dekat dengan keseharian. Di dalam rumah Jawa yang sederhana ini, karya-karya menemukan ruang untuk berbicara, sementara pengunjung menemukan cara baru untuk melihat bagaimana seni tumbuh dari ingatan, lingkungan, dan kehidupan yang terus bergerak di sekitarnya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar