Folks

SMP Masehi Kudus Legenda Lentog Dalam Karnaval Budaya HUT Kudus 474

✍ Djauharudin - 📅 10 Sep 2023

SMP Masehi Kudus Legenda Lentog Dalam Karnaval Budaya HUT Kudus 474
Djauharudin

Keberadaan lentog tanjung atau yang biasanya kita kenal sebagai lontong memiliki sejarah awal mula yang khas. Sejarah keberadaan kuliner tradisional ini berkaitan dengan masa awal penyebaran Islam di Kudus oleh para Wali Songo. Lentog tanjung terletak di Desa Tanjung Kecamatan Jati yang berada di area jalan lingkar Kabupaten Kudus. 

Konon, masyarakat Desa Tanjung dilarang menjual nasi. Saat masih zaman kerajaan, datang beberapa wali untuk menyebarkan agama Islam di area Kudus. Sebuah masjid sebagai pusat dakwah Islam di Kota Kudus dibangun pada malam hari hingga menjelang subuh, di saat semua orang terlelap tidur. Hal ini dilakukan supay tidak ketahuan pihak kerajaan.

Namun, pada suatu hari, terdengar suara ketukan saringan kelapa dari seorang ibu penjual nasi. Suara ketukan tersebut mirip dengan suara bedug subuh sehingga para murid Wali berhenti bekerja dan segera melaksanakan sholat subuh.


Sang Wali mengeluarkan peringatan “nek ana rejo-rejone zaman, wong tanjung aja ana sing dodolan sega merga ngganggu pembangunan”. Untuk menyiasati, para warga mengganti makanan pokok warung mereka dengan lentog. Lentog atau lontong terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang. Lentog disajikan di atas piring kecil yang dialasi daun pisang berbentuk lingkaran, dinikmati dengan menggunakan suru (sendok yang dibuat dari daun pisang).

Sejarah ini menjadi kenangan mendalam bagi warga Tanjung dan sampai sekarang pun warga asli Tanjung masih memegang teguh tradisi tersebut.

Cerita itu akan dipertunjukan oleh SMP MASEHI KUDUS dalam Karnaval Budaya HUT Kudus 474.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar