Apa yang sesungguhnya tengah diperjuangkan ketika kesenian rakyat didorong naik ke panggung kontemporer? Pertanyaan itu, pada akhirnya, tidak sesederhana yang terkesan.
Pertunjukan "Gembong Kamijoyo Mbabar" yang dipentaskan Komunitas Seniman Barongan Kudus (KSBK) di Taman Budaya Sosrokartono 30 Mei 2026 mendatang menjadi titik pembuka pembicaraan kami. Dian menyebut nama tempat itu bukan dengan bangga, melainkan dengan semacam kegelisahan. "Taman Budaya Sosrokartono itu semestinya menjadi situs budaya, dimana menjadi tempat yang mesti dipikirkan oleh pemangku kebijakan sebagai tempat perjumpaan seni budaya" katanya. "Namun banyak yang melewatinya tanpa benar-benar masuk ke dalamnya."
Pernyataan itu penting untuk tidak ditelan begitu saja. Sebab klaim bahwa ruang publik "kehilangan fungsi sosialnya" adalah kalimat yang perlu diperiksa motifnya. Apakah betul ruang itu mati? Atau mungkin fungsi sosialnya sudah bergeser ke tempat lain. Warung kopi, media sosial, grup WhatsApp RT dan kita yang bekerja di lapangan terlambat menyadarinya?
Dian tidak mengelak dari pertanyaan itu. "Bergeser, iya. Tapi bukan berarti kebutuhan berkumpul secara fisik hilang. Yang hilang itu adalah alasan untuk berkumpul."
Argumen yang layak dipertimbangkan. Kesenian rakyat, dalam sejarahnya, memang bukan pertunjukan yang membutuhkan tiket dan gedung. Tumbuh dari halaman kampung, tanah lapang, pinggir jalan. Ada karena orang sudah ada di sana, bukan sebaliknya. Pertunjukan barongan di Taman Budaya, dalam logika itu, bukan sekadar mengisi panggung kosong. Mencoba menciptakan kembali kondisi yang memungkinkan kesenian dan kehidupan sehari-hari saling bersentuhan.
Apakah berhasil nantinya ? Sebagian, mungkin. Remaja, pedagang, mahasiswa, pekerja mereka datang dan duduk bersama. Tapi pertanyaan yang saya simpan untuk kemudian adalah: apakah mereka akan kembali esok hari ke ruang yang sama?
Yang lebih menarik adalah argumen estetik di balik pilihan itu: Gembong Kamijoyo Mbabar sebagai metafora hasrat kuasa yang tidak terasa seperti ceramah. Dikemas dalam bentuk konflik dramatik, gerak, bunyi, ritme. Penonton tidak dihakimi; mereka diajak melihat diri sendiri.
Dalam tradisi kesenian rakyat Jawa, figur antagonis sering kali menjadi ruang katarsis sosial tempat masyarakat melampiaskan apa yang tidak bisa diucapkan secara langsung. Yang dilakukan KSBK bersama Serah adalah memperbarui fungsi katarsis itu dalam bahasa yang bisa dibaca oleh generasi dengan referensi dan pendekatan yang mngkin berbeda. Bukan menghapus kosmologi lama, tapi mencari jembatan menuju kesadaran baru.
Apakah jembatan itu cukup kuat? Itu tergantung pada seberapa dalam akar yang menyangga jembatannya. Dian berbicara dengan antusias tentang kemungkinan tafsir baru yang dibuka oleh panggung kontemporer: tata cahaya, komposisi bunyi, penataan ruang, dramaturgi. Semua itu adalah kosakata yang perlu dibaca dalam kesenian barongan dalam otoritas modern nantinya.
"Kalau kita tidak hati-hati, kita sedang memoles barongan supaya bisa diterima oleh selera kelas tertentu. Bukan menghidupkannya untuk orang-orang yang memang milik barongan sejak awal." Kejujuran semacam ini jarang muncul dalam diskusi, yang sering kali lebih suka berbicara dalam bahasa pelestarian yang terasa aman dan hangat.
"Ada dimensi ruwatan dalam apa yang kami coba lakukan," katanya. "Ruangnya, masyarakatnya, dan mungkin juga diri kita sendiri." tambah Dian. Ruwatan, dalam kebudayaan Jawa, dianggap sebagai ritus pembebasan dari keadaan terbeban secara spiritual yang mengundang malapetaka. Bukan pertunjukan dalam pengertian hiburan. Melainkan upacara yang mensyaratkan kehadiran komunitas sebagai saksi, seorang dhalang sebagai pelaksana, dan sebuah niat yang terumuskan dengan jelas: memutus lilitan nasib buruk dari diri atau tempat yang perlu dibersihkan. Dalam tradisi ini, barongan memang memiliki akar kosmologis yang dipercaya memiliki kekuatan yang mampu menangkal, mengusir, memurnikan.
Dalam tradisi ruwatan, tempat juga bisa menjadi objek yang diruwat bukan hanya manusia. Tanah, bangunan, kampung yang pernah dilanda kesialan atau kekerasan bisa menjalani ritus pembersihan. Jika kita mau menggunakan kerangka ini, maka Taman Budaya Sosrokartono yang perlahan kehilangan fungsi sosialnya adalah ruang yang dalam pengertian kosmologis tertentu sedang dalam kondisi sukerta: terbeban oleh kesunyian yang bukan pilihannya sendiri, ditinggalkan tanpa alasan yang cukup dihormati.
Pertunjukan barongan yang mengisi ruang itu kembali, yang menarik kembali orang-orang untuk hadir sebagai komunitas bukan sebagai konsumen tontonan semata bisa dibaca sebagai tindakan yang strukturnya menyerupai ruwatan, bahkan jika mantranya berganti menjadi tata cahaya dan komposisi bunyi.
Ada ironi yang tidak bisa diabaikan dalam percakapan ini. Dian adalah Ketua Dewan Kesenian Kudus sebuah posisi yang berada dalam struktur negara, atau setidaknya diakui oleh negara. Sementara barongan, dalam banyak babak sejarahnya, justru tumbuh di luar atau bahkan di pinggir struktur itu. Saya bertanya: apakah posisi institusional itu memudahkan atau justru mempersulit pekerjaan memajukan kesenian rakyat?
"Dua-duanya," jawabnya singkat. "Dengan posisi ini saya bisa mengetuk pintu yang sebelumnya tertutup. Tapi saya juga harus sadar bahwa tidak semua seniman rakyat merasa terwakili.
Candaan itu—jika memang bisa disebut candaan—mengandung pengakuan yang jujur. Di banyak kota, lebih sering menjadi tempat seniman yang sudah punya nama bertemu dengan birokrat yang punya anggaran. Seniman kampung yang membawa barongan dari satu hajatan ke hajatan lain, yang hidup dari amplop yang kadang kurang, sering kali tidak masuk dalam peta kebijakan kesenian yang disusun dengan bahasa formal dan indikator kinerja.
Dian tidak membantah gambaran itu. Tapi ia menunjukkan bahwa SERAH 5 setidaknya adalah upaya untuk menutup jarak itu dengan praktik: mengundang barongan ke ruang yang biasanya hanya menampilkan kesenian yang sudah "jadi". Di ujung percakapan, saya mengajukan pertanyaan yang paling sederhana. Setelah pertunjukan selesai nantinya, setelah penonton pulang, apa yang betul-betul berubah?
Dian tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah yang tidak saya ikuti. "Mungkin tidak banyak yang berubah secara kasat mata," katanya akhirnya. "Tapi saya percaya bahwa ada sesuatu yang bekerja perlahan. Ketika seseorang yang tidak pernah melihat barongan tiba-tiba duduk dua jam dan ikut dalam pengalaman itu, ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Tidak harus langsung jadi seniman. Tidak harus langsung jadi aktivis budaya. Tapi mungkin, lain kali, ia tidak akan lewat begitu saja di depan pertunjukan seperti ini."
Sebab dalam dunia kesenian rakyat yang tidak pernah benar-benar bisa diukur dampaknya dengan angka kuartalan oleh karena itu sangat perlu dukungan negara, keyakinan semacam itu mungkin memang satu-satunya cara untuk terus bekerja. Pertanyaan yang tersisa bagi saya bukan apakah barongan akan bertahan. Barongan, dalam berbagai bentuk dan metamorfosisnya, sudah terbukti liat. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan terus memikul tubuhnya? Diantara jenis kesenian tradisi yang hilang di Kudus. Dan apakah mereka, negara, dan masyarakat yang mengklaim peduli benar-benar siap menanggung beban itu tanpa buru-buru mencari panggung berikutnya?
Saya tidak tahu jawabannya. Dian pun, saya kira, belum sepenuhnya tahu. Dan mungkin justru di dalam ketidaktahuan itulah pertunjukan sesungguhnya masih terus berlangsung.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar