Folks

Serah 3, Menonton sebagai Praktik Seni dan Budaya

✍ Djauharudin - 📅 29 Mar 2026

Serah 3, Menonton sebagai Praktik Seni dan Budaya
Djauharudin

Kudus — Dalam lanskap kesenian Indonesia, teater kampung menempati posisi yang unik, berdiri di persimpangan antara tradisi lisan, ekspresi kolektif, dan kebutuhan sosial yang nyata. Ia bukan turunan dari teater formal. Adalah cara sebuah komunitas berbicara kepada dirinya sendiri—mengolah konflik, merayakan ingatan, dan menegosiasikan nilai-nilai bersama.

Teater SKS sebagai komunitas seni di tingkat desa beroperasi sebagai ruang produksi sekaligus ruang pembelajaran sosial. Proses kerja di dalamnya bergerak seiring dengan pembentukan disiplin kolektif, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan. Terbentuk pada tahun 2013/2014 atas kebutuhan lomba porseni dalam ruang organisasi IPNU-IPPNU. Salah satu produksi penting SKS adalah pementasan “RT Nol RW Nol” karya Iwan Simatupang dan distutradarai oleh Danang A. A. yang dipentaskan pada 14 Februari 2026.

Selain produksi internal, SKS terhubung dengan ekosistem seni yang lebih luas melalui keterlibatannya dalam program Serah #3 yang akan dipentaskan pada Senin, 30 Maret 2026 jam 20.00 WIB di Auditorium UMK mendatang.

Dalam sebuah pemaparan yang disampaikan, Agam Abimanyu dari Litbang Dewan Kesenian Kudus menyoroti posisi penonton dalam lanskap seni pertunjukan yang kerap dianggap pasif, namun sesungguhnya bekerja secara aktif dan berlapis.

Menurutnya, menonton pertunjukan tidak pernah benar-benar netral, terutama bagi pelaku seni dan budaya. “Tubuh memang hadir duduk di kursi atau lesehan, tetapi pengalaman dan ingatan ikut bekerja,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa apa yang berlangsung di atas panggung teater tidak berhenti pada apa yang terlihat, melainkan segera dibaca, dibandingkan, bahkan dinilai sering kali sebelum pertunjukan itu selesai.

Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa menonton bergerak menjadi proses yang melibatkan dua hal sekaligus: mengalami dan memahami. Keduanya, kata dia, terus saling bersilang dan membentuk cara seseorang berhadapan dengan karya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, ia menyampaikan bahwa Serah dihadirkan sebagai platform literasi seni dan pertunjukan. Ia menegaskan bahwa Serah tidak bertujuan memberikan kesimpulan tunggal atas sebuah karya, melainkan membuka ruang bagi beragam cara melihat bagaimana karya dialami, dibaca, dan kemudian dipertanyakan kembali.

Ia juga memaparkan perjalanan Serah yang sejauh ini berkembang melalui berbagai medium. Serah 1 berfokus pada tari, Serah 2 pada pertunjukan puisi, dan Serah 3 kini mengarah pada teater. “Perbedaan ini bukan soal jenjang, tetapi cara lain untuk melihat bagaimana penonton berhadapan dengan medium yang terus berubah,” jelasnya.

Dalam uraian lebih lanjut, ia membandingkan karakter tiap medium. Pada tari, menurutnya, perhatian penonton cenderung terserap pada tubuh dan gerak yang tidak selalu mudah dijelaskan. Sementara pada pertunjukan puisi, bahasa memberikan semacam pegangan, meskipun tetap bergeser melalui suara dan kehadiran. Adapun dalam teater, berbagai unsur hadir bersamaan tubuh, teks, ruang, dan situasi panggung teater yang membuatnya lebih kompleks sekaligus membuka banyak kemungkinan pembacaan.

Namun, kompleksitas itu juga membawa risiko. Ia mengingatkan, dalam diskursus teater ada kecenderungan penonton untuk membentuk kesan, alih-alih memberi ruang bagi pengalaman untuk berkembang. 

Dalam konteks tersebut, Serah 3 akan menghadirkan Teater Songo Koma Songo, sebuah kelompok yang lahir dari inisiatif pemuda-pemudi Desa Megawon, Kabupaten Kudus. Agam menilai kehadiran kelompok ini penting karena membawa konteks dari dinamika sosial tentang bagaimana teater tumbuh dari lingkungan yang dekat, dari inisiatif bersama, serta dari upaya membangun ekspresi di ruang sendiri.

Ia menambahkan, pertemuan antara pertunjukan dan penonton menjadi titik krusial dalam acara ini. “Apa yang terjadi di panggung akan selalu berhadapan dengan cara melihat yang sudah dibawa masing-masing penonton,” katanya. Di titik inilah, lanjutnya, pengalaman bisa terbuka, atau justru tertutup oleh kesan yang terbentuk.

Serah 3 yang bekerjasama dengan Teater Tigakoma selaku kelompok kajian teater dijadwalkan berlangsung pada 30 Maret 2026 pukul 20.00 WIB di Auditorium UMK.

Menutup pernyataannya, ia menggarisbawahi bahwa yang dipertaruhkan dalam sebuah pertunjukan seperti teater bukan semata bagaimana ia disajikan di atas panggung, tetapi juga sejauh mana penonton memberi ruang bagi sesuatu untuk benar-benar terjadi untuk menjadi praktik budaya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar