Esai

Seperti Bulan Yang Rela Dilahap Raksasa

✍ Djauharudin - 📅 01 Nov 2023

Djauharudin

Di era saat ini, Indonesia, sebuah negara demokratis dengan populasi mencapai 278,70 juta jiwa, menghadapi fenomena yang menarik perhatian. Masyarakat sepertinya telah terperangkap dalam permainan kompleks pasar periklanan, mendorong perilaku konsumtif tanpa makna yang mendalam. Generasi baru tumbuh sebagai pasar yang diperdagangkan oleh entitas korporasi melalui pengaruhnya di dunia teknologi informasi. Apa yang awalnya berupa konsep jaringan sosial kini telah berubah menjadi fenomena perdagangan sosial, di dalamnya, algoritma mengendalikan perilaku manusia, mendorong konsumerisme berlebihan.


Kemajuan teknologi informasi membawa kita ke tahap analisis data besar-besaran, yang digunakan untuk kepentingan bisnis tertentu. Sayangnya, seringkali kita hanya melihatnya sebagai peluang ekonomi, tanpa mempertimbangkan nilai pendidikan dan moral manusia. Data menunjukkan bahwa kita adalah salah satu pengguna media sosial teratas, dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 197 menit atau sekitar 3,2 jam per hari, tanpa memperhitungkan penggunaan lainnya di dunia maya yang menggiurkan. Kekhusyukan dalam berselancar di dunia maya telah mengaburkan realitas kehidupan kita dan mengubah cara hidup masyarakat secara signifikan.

Dengan jumlah pengguna yang besar dan waktu yang dihabiskan di platform ini, kita telah menjadi pasar utama yang menjadi target besar bagi raksasa teknologi informasi. Pendidikan pun terpaksa bergantung pada platform berbasis internet, tanpa mempertimbangkan bagaimana gadget tersebut memengaruhi perilaku pelajar yang belum memiliki kebijaksanaan. Mereka seperti terjebak dalam dunia maya yang memanjakan dengan beragam informasi.

Banyak literatur yang memaparkan sisi gelap dari dunia maya, terutama dalam platform sosial media dan sosial commerce. Salah satunya fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan cemas atau takut kehilangan pengalaman penting, terutama yang terjadi di lingkungan sosial atau di media sosial, telah menjadi masalah yang meresahkan. FOMO berdampak negatif pada kesehatan mental kita, mendorong perilaku tidak sehat seperti penggunaan berlebihan media sosial, berbelanja impulsif, dan mengikuti tren viral hanya untuk merasa tidak ketinggalan. Namun, di sisi lain, FOMO juga dapat memberikan motivasi untuk mencoba pengalaman baru.


Dalam dunia konsumerisme, kita saat ini berada dalam era pemasaran relasional 4.0, di mana komunikasi antara merek dan konsumen tidak lagi satu arah, melainkan interaktif. Teknologi baru telah mengubah cara periklanan dan interaksi berlangsung, dengan konsekuensi yang tidak selalu positif. Pesan-pesan agresif yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan melalui media sosial dapat merangsang perilaku konsumtif yang negatif, berdampak pada masalah hutang, gangguan mental, kecanduan, depresi, dan harga diri yang rendah.

Dari perspektif makro, masalah konsumtif dapat memicu krisis keuangan, menyebabkan polusi dan penipisan sumber daya alam, serta mengarah pada eksploitasi tenaga kerja. Ini hanya beberapa dari konsekuensi buruk yang muncul dari perilaku konsumtif tersebut. Platform media sosial dan e-commerce sering menggunakan iklan berbayar yang sangat disesuaikan dengan data pengguna, yang kemudian digunakan untuk menargetkan ulang iklan. Hal ini memiliki dampak negatif pada konsumsi dan kesejahteraan mental pengguna media sosial.


Kaum materialis, yang menghargai pencapaian duniawi lebih daripada pencapaian spiritual, mengembangkan teori post-materialisme. Materialisme manusia dapat diukur melalui tiga ciri kepribadian: keserakahan, ketidakmurahan hati, dan iri hati. Materialisme dapat mengarah pada keinginan untuk memiliki harta milik pribadi, ketidakmampuan untuk berbagi, dan hasrat terhadap kekayaan orang lain. Materialisme dapat memengaruhi pandangan hidup seseorang, meningkatkan ketidakpuasan ketika ekspektasi berdasarkan fantasi. Konsumsi materialistik seringkali mengaburkan pandangan terhadap realitas hidup.

Literatur yang membahas materialisme dalam konteks media sosial dan perilaku konsumsi online menunjukkan bahwa jejaring sosial menyediakan sarana bagi konsumen untuk mengakses informasi produk dan pengalaman, dan pemasar memanfaatkannya untuk berkomunikasi dengan calon konsumen mereka. Media sosial memungkinkan interaksi personal, berbeda dengan televisi yang lebih bersifat pasif. Dengan pelanggan yang memiliki akses terus-menerus ke media sosial, pesan merek dapat mencapai mereka kapan saja, menciptakan hasrat materialistis dan mendorong pola konsumsi yang meningkat.


Perilaku belanja kompulsif, yang melibatkan pembelian berlebihan dan tidak terkendali, dipengaruhi secara signifikan oleh penggunaan platform media sosial. Situs media sosial memungkinkan pengguna untuk membandingkan hidup mereka dengan rekan-rekan mereka, yang dapat memicu pembelian impulsif. Identitas sosial juga dipengaruhi oleh interaksi dengan influencer media sosial dan komunitas yang diinginkan. Perbandingan sosial adalah mekanisme utama yang memengaruhi kesejahteraan subjektif pengguna media sosial.

Banyak konsumen lebih memilih berbelanja di platform media sosial karena kenyamanan dan kemudahan penggunaannya. Mereka dapat menjelajahi produk dengan mudah tanpa harus pergi ke toko fisik. E-commerce yang berkembang pesat menyediakan saluran pembelian yang lebih efisien bagi perusahaan dan pelanggan. Konsumen tertarik pada bagaimana media sosial meningkatkan pengalaman berbelanja mereka dan membantu mereka membuat keputusan pembelian yang lebih baik.

Dalam lingkungan online, terdapat stimulus yang merangsang pembelian impulsif, seperti fitur-fitur dengan keterlibatan tinggi dan iklan yang disesuaikan dengan preferensi pengguna. Praktik pemasaran media sosial menargetkan pengguna secara langsung, menciptakan hasrat materialistis dan mendorong peningkatan konsumsi. Akhirnya, kita seringkali menjadi produk sampingan dari obsesi akan gaya hidup, memilih produk berdasarkan identitas yang ingin kita proyeksikan daripada kebutuhan sejati kita.

Pada akhirnya, kita hanyalah sekadar produk tambahan dari obsesi terhadap gaya hidup. Banyak di antara kita cenderung membuka katalog merek tertentu untuk mencari produk yang mencerminkan diri kita, daripada membeli berdasarkan kebutuhan sebenarnya. Sifat alami kita yakni keserakahan seperti diberikan ruang lebih untuk menampakkan wajahnya. Kita seperti rembulan yang siap dan secara suka rela menjadi hidangan para raksasa.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar