Esai

Seni dan Momen Lompatan Manusia

✍ Agam Abimanyu - 📅 25 Mar 2026

Seni dan Momen Lompatan Manusia
Agam Abimanyu

Di tengah perkembangan Psikologi Evolusioner dan Neurosains, saya sering merasa manusia semakin dipahami sebagai sistem yang bekerja melalui pola: kebiasaan, adaptasi, dan proses biologis yang berlangsung terus-menerus. Saya bukan ahli di bidang itu, tetapi beberapa gagasannya cukup mengusik cara saya memahami “pilihan”.

Eksperimen Benjamin Libet menunjukkan bahwa aktivitas otak yang mengarah pada tindakan muncul lebih dahulu sebelum seseorang merasa telah memutuskan. Dengan kata lain, keputusan seperti sudah berjalan, lalu kesadaran datang belakangan untuk mengakuinya.

Dari sini muncul pertanyaan yang sulit dihindari: kalau semuanya sudah dimulai sebelumnya, apa sebenarnya peran “saya” dalam memilih?

Kalau dibayangkan secara sederhana, manusia bisa dianalogikan seperti pesawat dengan autopilot. Sistemnya sudah memiliki arah berdasarkan pengalaman sebelumnya. Kesadaran tetap ada, tetapi sering terasa seperti penumpang yang baru menyadari perubahan setelah pesawat mulai berbelok. Masalahnya, hidup tidak selalu berjalan stabil seperti autopilot. Ada momen ketika arah terasa berubah tanpa peringatan. Kita tidak sepenuhnya mengikuti kebiasaan, tetapi juga tidak benar-benar tahu dasar dari keputusan yang diambil. Di situ saya mulai melihat gagasan Søren Kierkegaard tentang leap dengan lebih serius.

Leap sering dipahami sebagai “lompatan iman”, seolah-olah seseorang memilih tanpa dasar. Pemahaman ini terasa terlalu menyederhanakan. Leap bukan ketiadaan sebab, dan bukan tindakan nekat tanpa pertimbangan. Ia justru terjadi ketika alasan yang kita miliki tidak lagi cukup untuk menuntun kita sampai ke keputusan.

Kita masih punya pertimbangan, pengalaman, dan logika. Kita bisa menimbang risiko, memperkirakan kemungkinan, bahkan mencari pembenaran. Akan tetapi, semua itu tidak pernah benar-benar menutup pilihan. Selalu ada satu celah kecil yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya. Analogi yang paling dekat mungkin seperti berdiri di tepi jurang kecil. Kita bisa mengukur jarak, menghitung kemampuan, dan memperkirakan risiko. Tidak ada perhitungan yang benar-benar menjamin hasilnya. Pada akhirnya tetap ada satu momen ketika kita harus melangkah. Momen itulah yang bisa disebut sebagai leap.

Dalam kerangka Predictive Processing, otak berusaha membuat dunia tetap bisa diprediksi, seperti Google Maps yang terus mencari rute terbaik. Leap muncul ketika sistem prediksi ini tidak lagi memadai. Pola tidak hilang, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan. Pengalaman ini bersifat ganda. Dari luar, keputusan tetap bisa dijelaskan sebagai hasil dari latar belakang, kebiasaan, atau kondisi tertentu. Dari dalam, ia terasa berbeda seperti ada bagian yang tidak sepenuhnya bisa ditarik dari masa lalu.

Seni sering menangkap momen seperti ini.

Dalam The Starry Night karya Vincent van Gogh, dunia tidak lagi tampil stabil. Seolah cara melihat itu sendiri sedang melewati batasnya. Sementara Waiting for Godot oleh Samuel Beckett menunjukkan kondisi sebaliknya: pergeseran tidak pernah terjadi, dan pola terus berulang tanpa perubahan.

Di titik ini, ada hal lain yang mulai terasa: keinginan kita akan kejelasan. Dalam tradisi representasi yang sering diasosiasikan dengan realisme, dunia seolah dapat dihadirkan secara utuh—seakan-akan apa yang terlihat bisa langsung dipercaya sebagai apa yang ada. Tidak ada yang salah dengan dorongan itu. Ia memberi rasa stabil, rasa bisa memahami. Akan tetapi, pengalaman yang kita bicarakan sebelumnya tentang leap, tentang momen ketika pola tidak lagi cukup seperti memperlihatkan batas dari cara melihat yang terlalu bergantung pada kejelasan itu. Ada wilayah pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa ditangkap sebagai representasi yang rapi.

Di sini saya merasa pendekatan Susan Sontag menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa terlalu sibuk menafsirkan atau “menerjemahkan” seni ke dalam makna yang jelas justru bisa menjauhkan kita dari pengalaman langsungnya. Yang dibutuhkan bukan tambahan penjelasan, melainkan kepekaan untuk merasakan intensitas. Jika ditarik lebih jauh, ini seperti menggeser cara kita melihat seni: bukan sebagai cermin dunia yang harus jelas, tetapi sebagai ruang pengalaman yang kadang justru bekerja melalui ketidakjelasan, melalui gangguan, bahkan melalui hal-hal yang sulit dirangkum.

Doc Rananggana - Barongan Ndas Papat.

Dalam konteks Indonesia, pendekatan Leo Katarsis melalui gagasan Rananggana memberi arah yang berbeda. Dalam penjelajahanya di ruang mitologi dan falsafah Jawa. Leap tidak selalu berarti keluar dari tradisi. Ia bisa terjadi dengan masuk lebih dalam ke dalamnya, seperti menggali sumur yang sama hingga menemukan lapisan baru. Kebaruan muncul bukan karena meninggalkan yang lama, tetapi karena yang lama didorong hingga membuka kemungkinan lain. Dalam ruang seperti itu, mitologi dan falsafah tidak hadir sebagai sesuatu yang harus dijelaskan secara tuntas, melainkan sebagai medan pengalaman yang terus bergerak. Ia tidak selalu menawarkan kejelasan, tetapi justru membuka kemungkinan lain dalam cara merasakan dan memahami.

Doc Rananggana - Luh Maura

Pada akhirnya, saya tidak sampai pada kesimpulan yang sepenuhnya pasti. Saya melihat manusia hidup di antara pola dan momen ketika pola itu tidak lagi cukup. Leap tidak harus dipahami sebagai kebebasan mutlak, melainkan sebagai pengalaman berada di batas, ketika kita tetap harus bergerak meski penjelasan tidak pernah benar-benar lengkap. Mungkin di sana seni bekerja dengan cara yang berbeda: bukan dengan menjelaskan dunia hingga selesai, tetapi dengan menjaga agar sebagian pengalaman tetap terbuka.

Ketika berhadapan dengan momen seperti itu, ketika semua alasan sudah dipertimbangkan tetapi tidak ada yang benar-benar menutup pilihan, dan ketika pengalaman tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan menjadi sesuatu yang jelas, apakah kita akan terus memaksa semuanya menjadi terang, atau membiarkan sebagian tetap berada dalam wilayah yang belum sepenuhnya terjelaskan ?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar