Esai

Semiotika Luka dan Tubuh Pascatrauma dalam Tahun-Tahun Setelah Itu karya Idham Ardi N.

✍ Imam Khanafi - 📅 18 May 2026

Semiotika Luka dan Tubuh Pascatrauma dalam Tahun-Tahun Setelah Itu karya Idham Ardi N.
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

DALAM lanskap teater Indonesia mutakhir, banyak naskah mencoba menghadirkan persoalan sosial melalui metafora besar, simbol politik, atau tragedi yang monumental. Namun naskah “Tahun-Tahun Setelah Itu” karya Idham Ardi N. justru bergerak dari arah yang sebaliknya: kecil, dekat, dan nyaris sehari-hari. Di situlah kekuatannya bekerja. Naskah yang termuat dalam buku Jalan Lain: Antologi Naskah Teater Jawa Tengah ini tidak menghadirkan perang, ledakan, atau panggung politik yang riuh. Ia hanya memperlihatkan dua remaja yang persahabatannya retak oleh satu kata: tentara. Akan tetapi, dari kata yang tampak sederhana itu, Idham membuka lapisan trauma sosial, ingatan kolektif, dan luka yang menetap dalam tubuh sosial masyarakat.

Sebagai pembaca yang menekuni antropologi sastra dan dokumentasi budaya, saya melihat naskah ini menarik bukan semata karena tema yang diangkat, melainkan karena cara ia merekam bagaimana masyarakat menyimpan luka. Dalam kajian antropologi memori, ingatan sosial tidak selalu hadir dalam bentuk arsip resmi atau catatan sejarah negara. Ia sering hidup justru di ruang paling intim: dalam percakapan keluarga, dalam nada suara yang berubah ketika menyebut profesi tertentu, dalam larangan kecil, atau dalam kecemasan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Tahun-Tahun Setelah Itu” bekerja di wilayah tersebut. Ia memperlihatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai ketika peristiwa usai; sejarah terus hidup dalam tubuh, bahasa, dan relasi antarmanusia.

Judul tulisan ini menjadi penting karena naskah tersebut sesungguhnya berbicara tentang tubuh pascatrauma. Trauma di sini tidak tampil sebagai luka fisik yang kasatmata, melainkan sebagai respons tubuh terhadap ingatan sosial: diam mendadak, jarak emosional, perubahan sikap, hingga kegagapan dalam menghadapi simbol tertentu. Ketika salah satu tokoh menyatakan keinginannya menjadi tentara, tubuh tokoh lain bereaksi melalui penolakan dan kecanggungan. Dengan demikian, tubuh dalam naskah ini menjadi medium tempat trauma bekerja secara diam-diam.

Kurator antologi menyebut bahwa naskah ini berangkat dari kasus viral seorang penjual es gabus yang difitnah tentara. Pilihan titik tolak ini penting. Sebab Idham tidak mengambil peristiwa itu sebagai sensasi berita, melainkan sebagai residu sosial. Ia tidak tertarik pada kejadian ketika kasus berlangsung, tetapi pada “tahun-tahun setelah itu” yakni masa ketika publik mulai lupa, sementara korban dan keluarganya masih membawa bekasnya. Di sinilah naskah bergerak dari ranah viral menuju ranah memorial. Ia memperlihatkan bagaimana suatu peristiwa media berubah menjadi trauma domestik yang menetap dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam semiotika budaya, simbol tidak pernah hadir secara netral. Kata “tentara” dalam naskah ini bukan sekadar profesi, melainkan tanda yang membawa sejarah pengalaman kolektif. Bagi satu tokoh, tentara berarti cita-cita, kehormatan, dan kemungkinan mobilitas sosial. Namun bagi tokoh lain, tentara menjadi simbol ancaman, penghinaan, dan luka keluarga. Dua makna tersebut bertabrakan dalam ruang persahabatan remaja. Di titik ini, semiotika luka bekerja: satu tanda menghasilkan respons emosional yang berbeda karena masing-masing tubuh menyimpan pengalaman sejarah yang berbeda pula.

Benturan tersebut membuat naskah ini terasa sangat antropologis. Konflik utama lahir bukan sekadar dari perbedaan watak, melainkan dari benturan memori sosial yang diwariskan. Dua anak muda itu hidup di ruang yang sama dan tumbuh di generasi yang sama, tetapi membawa warisan emosi yang berbeda. Yang satu melihat institusi sebagai harapan masa depan, sementara yang lain melihat institusi yang sama sebagai sumber trauma. Idham memperlihatkan bahwa identitas manusia tidak dibentuk hanya oleh pilihan personal, tetapi juga oleh sejarah keluarga dan pengalaman kolektif yang tertanam dalam tubuh sosial.

Kekuatan terbesar naskah ini justru terletak pada kesederhanaannya. Ia tidak berusaha menjadi alegori besar tentang negara atau kekuasaan. Ia tetap tinggal di wilayah hubungan antarmanusia. Dalam dramaturgi realis, kedekatan emosional sering kali lebih efektif dibanding pidato politik yang panjang. Karena itu, persahabatan dua remaja dalam naskah ini menjadi penting. Penonton tidak dipaksa memahami teori kekuasaan; penonton cukup melihat bagaimana satu kata dapat membuat seorang anak menjaga jarak dari sahabatnya sendiri.

Pendekatan seperti ini mengingatkan bahwa teater pada dasarnya adalah ruang tubuh dan emosi. Luka sosial baru terasa nyata ketika ia memasuki relasi sehari-hari. Dalam kehidupan masyarakat, trauma jarang hadir sebagai ledakan besar. Ia lebih sering muncul dalam bentuk diam yang panjang, tatapan yang berubah, tubuh yang menegang, atau percakapan yang mendadak terputus. Naskah ini bekerja dengan logika tersebut: trauma merembes perlahan ke dalam hubungan personal dan mengubah cara manusia saling memandang.

Sebagai teks dokumenter sosial, “Tahun-Tahun Setelah Itu” juga menarik karena merekam atmosfer zaman digital. Peristiwa yang menjadi latarnya adalah “kasus viral.” Ini penting, sebab masyarakat hari ini hidup dalam budaya viralitas yang sangat cepat menciptakan perhatian sekaligus sangat cepat melupakan. Satu kasus bisa menjadi pusat kemarahan publik hari ini, lalu tenggelam beberapa minggu kemudian. Namun korban tidak hidup dalam ritme media sosial. Mereka hidup dalam waktu trauma yang jauh lebih panjang. Dengan demikian, Idham seperti sedang mengkritik budaya ingatan publik yang pendek.

Di sinilah hubungan antara sastra dan dokumentasi menjadi terasa kuat. Banyak orang mengira dokumentasi hanya berarti arsip visual atau catatan faktual. Padahal sastra juga dapat menjadi medium dokumentasi yang penting. Ia mendokumentasikan emosi sosial yang sering tidak tercatat dalam berita. Berita hanya mencatat bahwa suatu kasus terjadi; sastra mencatat bagaimana kasus itu tinggal dalam batin manusia dan menetap dalam tubuh sosial. “Tahun-Tahun Setelah Itu” melakukan kerja dokumenter semacam itu: merekam sisa-sisa psikologis dari sebuah peristiwa sosial.

Karena itulah tokoh anak penjual es gabus menjadi pusat paling kuat dalam naskah ini. Ia bukan sekadar karakter dramatik, melainkan representasi generasi pewaris luka. Dalam antropologi memori, generasi seperti ini adalah mereka yang tidak mengalami langsung kekerasan pertama, tetapi tumbuh di bawah bayangannya. Trauma diwariskan melalui cerita keluarga, gestur tubuh, rasa takut, dan sikap sosial. Tokoh ini membawa seluruh warisan tersebut dalam relasinya dengan sahabatnya.

Pilihan Idham menggunakan tokoh remaja juga membuat tubuh pascatrauma dalam naskah ini terasa semakin rapuh. Masa remaja adalah fase pembentukan identitas. Ketika trauma sosial masuk ke dalam fase tersebut, ia tidak hanya memengaruhi hubungan pertemanan, tetapi juga cara seseorang memahami dunia dan masa depannya. Persahabatan dalam naskah ini akhirnya menjadi medan tarik-menarik antara masa depan dan masa lalu. Yang satu ingin bergerak menuju cita-cita, sementara yang lain masih dibayangi luka keluarga yang belum selesai.

Dalam konteks teater pelajar, naskah ini memiliki potensi besar karena bahasanya dekat dengan pengalaman generasi muda. Banyak naskah sosial gagal menyentuh penonton muda karena terlalu sibuk berbicara dalam bahasa ideologi. “Tahun-Tahun Setelah Itu” justru memilih bahasa relasi. Persahabatan menjadi pintu masuk untuk membicarakan trauma sosial dan tubuh pascatrauma. Ini membuat penonton muda dapat masuk ke konflik tanpa merasa sedang digurui.

Namun justru karena sangat bertumpu pada realisme, naskah seperti ini menghadapi tantangan dramatik yang tidak ringan. Realisme mudah menjadi datar apabila dialog tidak cukup dalam dan eskalasi emosional tidak berkembang. Jika seluruh konflik hanya bertahan pada satu premis “aku ingin jadi tentara” dan “aku trauma pada tentara” maka naskah berisiko cepat terbaca. Penonton mungkin memahami persoalan utamanya sejak awal, tetapi kehilangan kejutan dramatik di tengah pertunjukan. Karena itu, keberhasilan pementasan naskah semacam ini sangat bergantung pada detail emosi, ritme percakapan, dan kemampuan aktor menghadirkan tubuh trauma di atas panggung.

Meski demikian, justru dalam kesederhanaannya itulah saya melihat “Tahun-Tahun Setelah Itu” sebagai salah satu bentuk penting teater sosial hari ini. Ia tidak mencoba menjadi besar, tetapi memilih menjadi dekat. Ia tidak berbicara tentang negara dari podium, melainkan dari ruang pertemanan dua anak muda. Dan kadang-kadang, sejarah memang paling terasa bukan di ruang sidang atau buku pelajaran, melainkan dalam cara seorang anak mendadak diam ketika mendengar cita-cita sahabatnya sendiri.

Pada akhirnya, naskah ini memperlihatkan bahwa masyarakat tidak pernah benar-benar selesai dengan masa lalunya. Luka sosial mungkin berubah bentuk, tetapi tetap hidup dalam bahasa sehari-hari, dalam pilihan hidup, dan terutama dalam tubuh manusia yang membawa ingatan tersebut. “Tahun-Tahun Setelah Itu” menjadi penting karena ia merekam semiotika luka dan tubuh pascatrauma itu dengan cara yang tenang, realis, dan manusiawi. Sebagai karya teater, ia berbicara tentang persahabatan. Namun sebagai teks antropologi sastra, ia sesungguhnya sedang berbicara tentang bagaimana trauma kolektif bekerja diam-diam di dalam tubuh sosial masyarakat. Semoga bermanfaat. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar