PADA 17 Mei 1986, Majalah TEMPO memuat sebuah resensi penting karya Sapardi Djoko Damono berjudul “Mencari Sastra yang Berpijak di Bumi.” Resensi itu membahas buku Perdebatan Sastra Kontekstual yang dieditori Ariel Heryanto, terbitan CV Rajawali tahun 1985. Buku setebal 501 halaman itu merekam perdebatan pemikiran antara Arief Budiman, Ariel Heryanto, Umar Kayam, dan sejumlah tokoh lain tentang pertanyaan yang sebenarnya masih relevan sampai hari ini: untuk siapa sastra ditulis, dari tanah mana sastra tumbuh, dan kepada siapa ia harus kembali.
Empat puluh tahun setelah perdebatan itu, pertanyaan yang sama terasa menggema di Kota Kudus. Sebuah kota yang riuh oleh industri, tetapi diam dalam percakapan sastra. Kota yang hidup oleh ekonomi kretek, tetapi perlahan kehilangan keberanian untuk menjadikan pengalaman manusianya sebagai pusat kesusastraan.
Kudus hari ini seperti kota yang berjalan terlalu cepat untuk sempat mendengarkan dirinya sendiri. Dan Kudus hari ini adalah kota yang sibuk bekerja tetapi pelan-pelan kehilangan percakapan kebudayaannya. Pabrik berdiri, jalan ramai, dan pusat perdagangan terus bergerak tanpa henti. Namun di balik itu semua, sastra sering tumbuh dalam ruang yang sunyi dan terpencil. Banyak penulis menulis sendirian tanpa ruang dialog yang sehat. Kritik sastra berjalan pelan, bahkan kadang dianggap tidak penting. Dalam situasi seperti itu, tulisan “Mencari Sastra yang Berpijak di Bumi” karya Sapardi Djoko Damono menjadi penting untuk dibaca ulang sebagai cermin bagi kehidupan sastra di Kudus hari ini.
Dalam resensinya atas buku Perdebatan Sastra Kontekstual yang dieditori Ariel Heryanto, Sapardi sebenarnya tidak sekadar membicarakan perdebatan teori sastra. Ia sedang memperlihatkan bagaimana sastra bergerak dalam ruang sosial yang rumit. Sastra bukan benda steril yang hidup di ruang kosong. Ia lahir dari masyarakat, dari kegelisahan, dari pertentangan, dan dari sejarah yang terus berubah. Karena itu sastra membutuhkan pijakan pada kenyataan hidup manusia. Sapardi mengingatkan bahwa sastra akan kehilangan daya hidup ketika terlalu jauh dari bumi tempat manusia berdiri.
Gagasan tentang sastra kontekstual yang dipicu oleh Arief Budiman sesungguhnya adalah ajakan agar sastra kembali melihat masyarakatnya sendiri. Sastra tidak cukup hanya indah secara bahasa. Ia juga harus mampu membaca keadaan sosial yang melingkupinya. Dalam perdebatan itu muncul banyak istilah besar seperti universal, elite, Barat, borjuis, dan rakyat. Namun yang paling penting sebenarnya adalah pertanyaan sederhana tentang untuk siapa sastra ditulis. Pertanyaan itu terasa sangat relevan bagi Kudus hari ini. Sebab banyak karya sastra lokal justru kehilangan hubungan dengan denyut kehidupan masyarakatnya sendiri.
Kudus adalah kota dengan sejarah sosial dan budaya yang kaya. Ada tradisi kretek, pesantren, pasar rakyat, buruh pabrik, desa-desa lereng Muria, sampai cerita rakyat yang nyaris terlupakan. Semua itu adalah ladang besar bagi sastra. Namun anehnya, sebagian sastra di Kudus justru terasa jauh dari kehidupan itu sendiri. Banyak karya terjebak pada romantisme bahasa tanpa keberanian menyentuh kenyataan sosial. Ada puisi yang indah tetapi tidak menyentuh luka masyarakatnya. Ada cerpen yang rapi tetapi tidak memiliki keberanian membaca zaman.
Kesunyian sastra di Kudus bukan berarti tidak ada penulis. Penulis di Kudus justru cukup banyak dan terus bermunculan. Komunitas sastra hidup meski sering berjalan sendiri-sendiri. Masalahnya terletak pada minimnya ruang kritik yang jujur dan sehat. Banyak karya dipuji karena kedekatan pertemanan, bukan karena kualitas pemikiran dan keberanian estetiknya. Akibatnya sastra bergerak di tempat dan kehilangan daya gugahnya. Situasi seperti ini pernah disinggung Sapardi ketika melihat bagaimana “perdebatan” sastra sering berubah menjadi salah paham dan saling sindir tanpa pendalaman gagasan.
Kudus membutuhkan kritik sastra yang berpijak pada pembacaan sosial, bukan sekadar pujian seremonial. Kritik sastra tidak boleh hanya menjadi catatan basa-basi dalam peluncuran buku atau unggahan media sosial. Kritik harus berani membaca kelemahan sekaligus kemungkinan sebuah karya. Kritik juga harus mampu menghubungkan sastra dengan perubahan masyarakat. Tanpa kritik yang hidup, sastra hanya menjadi kerajinan bahasa yang aman dan jinak. Padahal sastra seharusnya menjadi ruang kegelisahan dan kesadaran.
Dalam konteks itu, pemikiran Arief Budiman tentang sastra kontekstual sebenarnya sangat dekat dengan kondisi Kudus sekarang. Sastra perlu melihat konteks sosial-historis tempat ia lahir. Penulis Kudus tidak bisa terus-menerus meminjam lanskap kota besar sambil melupakan Muria dan kota sendiri. Mereka perlu membaca kehidupan buruh rokok, petani, tukang becak, santri, perempuan desa, dan anak-anak pinggiran kota. Dari situlah sastra menemukan napasnya. Sastra yang kehilangan tanah sosialnya hanya akan menjadi gema kosong di ruang tertutup.
Sapardi dalam resensinya juga memperlihatkan bahwa perdebatan sastra sering menjadi meriah karena tokoh, bukan karena gagasan. Sosok Arief Budiman menjadi pusat perhatian sehingga gagasannya cepat menyebar. Hal semacam ini juga terjadi di Kudus dalam skala kecil. Kadang karya dianggap penting hanya karena ditulis nama tertentu. Sementara penulis muda yang lebih segar sering diabaikan karena tidak memiliki jaringan sosial kuat. Akibatnya kehidupan sastra menjadi hierarkis dan tidak sehat.
Kudus sebenarnya memiliki peluang besar membangun sastra yang berakar pada masyarakat. Kota ini menyimpan sejarah panjang tentang perdagangan, agama, industri, dan perubahan sosial. Konflik antara tradisi dan modernitas terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kudus. Ada perubahan gaya hidup, perubahan bahasa, dan perubahan cara pandang generasi muda. Semua itu adalah bahan sastra yang sangat kaya. Tetapi bahan itu hanya akan menjadi catatan sosial biasa jika tidak diolah dengan keberanian artistik.
Sastra kontekstual bukan berarti sastra propaganda. Ini sering menjadi salah paham dalam banyak diskusi sastra. Sastra tetap membutuhkan kekuatan estetik dan kebebasan imajinasi. Namun estetika tidak boleh dipisahkan dari kenyataan hidup manusia. Keindahan bahasa tanpa pengalaman sosial hanya akan menjadi ornamen kosong. Karena itu sastra harus mampu menjaga keseimbangan antara bentuk dan kenyataan. Di titik inilah kritik Sapardi terasa sangat tajam dan tetap relevan hingga hari ini.
Kudus hari ini membutuhkan penulis yang berani turun ke jalan kehidupan. Penulis tidak cukup hanya membaca buku di ruang sunyi lalu menulis puisi tentang kesepian abstrak. Mereka perlu mendengar suara pasar, suara buruh pabrik, suara petani, dan suara anak-anak desa. Dari situ sastra memperoleh tubuh sosialnya. Sastra tidak lahir dari menara gading yang steril. Ia tumbuh dari pengalaman manusia yang nyata dan kadang menyakitkan.
Salah satu persoalan sastra di Kudus adalah kecenderungan menjadikan komunitas sebagai ruang nyaman tanpa pertarungan gagasan. Diskusi sastra sering berhenti pada apresiasi dangkal. Jarang ada pembacaan serius terhadap struktur karya, ideologi bahasa, atau posisi sosial pengarang. Padahal tanpa perdebatan yang sehat, sastra akan kehilangan dinamika intelektualnya. Perdebatan dalam buku Perdebatan Sastra Kontekstual justru memperlihatkan pentingnya benturan gagasan. Sastra tumbuh bukan hanya dari pujian tetapi juga dari pertanyaan dan kritik.
Sapardi sebenarnya menunjukkan sikap yang menarik dalam resensinya. Ia tidak sepenuhnya menolak gagasan sastra kontekstual. Tetapi ia juga tidak menerimanya secara membabi buta. Ia melihat adanya kerumitan, salah tafsir, bahkan kebingungan dalam perdebatan itu. Sikap seperti ini penting dicontoh dalam kehidupan sastra Kudus. Kritik tidak perlu berubah menjadi permusuhan pribadi. Kritik harus tetap menjadi ruang berpikir bersama.
Kudus terlalu lama hidup sebagai kota ekonomi tanpa cukup perhatian pada pembangunan kebudayaan. Sastra sering dianggap aktivitas sampingan yang tidak penting. Pemerintah lebih sibuk membangun infrastruktur fisik daripada infrastruktur pemikiran. Akibatnya ruang sastra tumbuh secara mandiri dan sering kekurangan dukungan. Padahal sastra bisa menjadi cara penting membaca perubahan sosial di masyarakat. Kota tanpa sastra yang hidup akan kehilangan kemampuan bercermin.
Di tengah situasi itu, komunitas sastra di Kudus sebenarnya memiliki peran penting. Mereka bisa menjadi ruang alternatif bagi lahirnya kritik dan percakapan budaya. Namun komunitas harus berani keluar dari kenyamanan lingkaran kecilnya sendiri. Mereka perlu membuka diri terhadap pembacaan lintas disiplin dan lintas generasi. Sastra tidak bisa terus-menerus hanya berbicara dengan dirinya sendiri. Ia harus berhubungan dengan masyarakat luas.
Perdebatan sastra kontekstual pada 1980-an juga memperlihatkan pentingnya media massa dalam membentuk wacana sastra. Ariel Heryanto menyebut media sebagai salah satu faktor yang membuat perdebatan itu menjadi meriah. Hari ini, media sosial sebenarnya bisa menjadi ruang baru bagi sastra Kudus. Tetapi yang terjadi justru banjir promosi karya tanpa pembacaan mendalam. Sastra berubah menjadi etalase publikasi, bukan ruang pemikiran. Hal ini membuat sastra semakin cepat dilupakan.
Kudus membutuhkan kritik sastra yang tidak takut dianggap mengganggu kenyamanan. Kritik harus mampu mengatakan bahwa sebuah karya lemah jika memang lemah. Kritik juga harus mampu menunjukkan potensi baru yang sering tidak diperhatikan. Dalam hal ini, keberanian intelektual menjadi penting. Tanpa keberanian itu, sastra hanya akan menjadi kegiatan seremonial yang berulang-ulang. Dan kota akan semakin sunyi secara kebudayaan.
Kesunyian Kudus bukan hanya soal sedikitnya acara sastra. Kesunyian itu juga terlihat pada hilangnya percakapan mendalam tentang kehidupan manusia. Banyak karya sastra gagal menghadirkan kegelisahan zamannya sendiri. Padahal Kudus sedang mengalami perubahan sosial yang besar. Ada urbanisasi, krisis lingkungan, tekanan ekonomi, dan perubahan budaya anak muda. Semua itu membutuhkan pembacaan sastra yang serius dan mendalam.
Sastra yang berpijak di bumi berarti sastra yang berani menyentuh kenyataan paling dekat. Ia tidak malu berbicara tentang gang kecil, pasar desa, sungai kotor, atau buruh yang pulang malam. Justru dari pengalaman sehari-hari itulah sastra menemukan kekuatan universalnya. Sapardi memahami bahwa pengalaman lokal bukan hambatan bagi sastra besar. Sebaliknya, pengalaman lokal adalah pintu masuk menuju kemanusiaan yang lebih luas. Karena itu sastra Kudus tidak perlu minder menjadi dirinya sendiri.
Ada kecenderungan sebagian penulis muda ingin cepat terlihat modern dengan meniru gaya sastra kota besar. Bahasa dibuat rumit dan penuh simbol agar terlihat intelektual. Tetapi sering kali yang hilang justru kedalaman pengalaman hidupnya. Sastra akhirnya terasa dingin dan jauh dari pembaca. Padahal pembaca membutuhkan karya yang hidup dan dekat dengan kenyataan mereka. Sastra yang terlalu sibuk tampil pintar sering kehilangan jiwa manusianya.
Dalam resensinya, Sapardi juga memperlihatkan bahwa perdebatan sastra sebenarnya tidak pernah selesai. Setiap zaman memiliki konteks sosial dan pertanyaan baru. Karena itu sastra harus terus bergerak dan membuka diri terhadap perubahan. Kudus hari ini memerlukan keberanian semacam itu. Sastra tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumentasi nostalgia Muria dan romantisme masa lalu. Ia harus mampu membaca luka dan kecemasan masyarakat hari ini.
Kritik sastra di Kudus juga perlu melibatkan pembacaan terhadap kekuasaan. Sastra tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu berhubungan dengan posisi sosial, ekonomi, dan budaya tertentu. Karena itu penting melihat siapa yang diberi suara dan siapa yang disenyapkan dalam karya sastra. Pertanyaan seperti ini jarang muncul dalam diskusi sastra lokal. Padahal justru di situlah sastra bisa menjadi alat kesadaran sosial.
Sastra Kudus akan berkembang jika berani menciptakan perdebatan yang sehat. Perdebatan bukan untuk menjatuhkan orang lain. Perdebatan adalah cara memperluas kemungkinan berpikir. Buku Perdebatan Sastra Kontekstual memperlihatkan bahwa kesalahpahaman pun bisa melahirkan energi intelektual baru. Yang penting adalah keberanian untuk terus berbicara dan membaca ulang gagasan. Tanpa itu, sastra hanya akan berjalan di lorong yang sempit.
Kudus memerlukan generasi penulis yang tidak hanya mahir menulis tetapi juga mampu membaca masyarakatnya sendiri. Mereka harus memahami sejarah kota, perubahan budaya, dan problem sosial di sekitarnya. Penulis perlu menjadi saksi sekaligus pengolah pengalaman sosial. Dari situlah lahir karya yang benar-benar memiliki akar. Sastra yang kuat bukan hanya indah dibaca tetapi juga mampu meninggalkan jejak kesadaran. Dan kesadaran itu lahir dari kedekatan dengan kehidupan nyata.
Tulisan Sapardi yang dimuat di TEMPO tahun 1986 sebenarnya masih terasa sangat hidup untuk dibaca hari ini. Ia mengingatkan bahwa sastra selalu bergerak di antara gagasan, salah paham, dan pergulatan sosial. Namun di balik semua kerumitan teori itu, ada satu pertanyaan sederhana yang tetap penting: apakah sastra masih berpijak di bumi tempat manusia hidup. Pertanyaan itu seharusnya menjadi cermin bagi sastra Kudus hari ini. Sebab kota yang kehilangan sastra yang berpijak di bumi lambat laun akan kehilangan suara kemanusiaannya sendiri. Semoga bermanfaat. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar