Senin malam, 30 Maret 2026, panggung Auditorium Universitas Muria Kudus menjadi ruang pertemuan antara seni dan realitas sosial. Difasilitasi oleh Dewan Kesenian Kudus, Teater Songo Koma Songo mementaskan lakon “RT 0 RW 0”, sebuah judul yang sejak awal sudah terasa ganjil sekaligus menggugah.
“RT 0 RW 0” bukan sekedar alamat fiktif. Ia adalah simbol dari mereka yang hidup, tetapi seperti tidak tercatat. Mereka yang ada, namun kerap luput dari perhatian.
Sejak awal pertunjukan, penonton langsung dihadapkan pada setting panggung yang kuat yakni hamparan pasir, gubuk-gubuk dari material bekas, karung-karung menumpuk, dan sebuah tiang berdiri di tengah. Ruang ini terasa dekat, bahkan terlalu dekat, dengan realitas pinggiran kota. Bukan ruang yang nyaman, melainkan ruang yang rapuh.
Pasir yang menghampar bukan sekedar elemen visual. Ia menghadirkan kesan ketidakpastian, tanah yang tidak benar-benar bisa dipijak dengan tenang. Sementara tiang di tengah panggung seperti menjadi penanda: ada struktur besar yang kokoh berdiri, tetapi tidak selalu berpihak pada mereka yang hidup di sekitarnya.
Di atas ruang yang goyah itu, tubuh para aktor berbicara.
Kakek dan Pincang tampil dengan pakaian lusuh, kotor, tanpa alas kaki. Tubuh mereka seolah menyatu dengan tanah, keras, rentan, dan tanpa perlindungan. Ada kesan bahwa hidup telah terlalu lama menekan mereka, hingga tubuh pun menjadi saksi bisu.
Berbeda tipis, tokoh Bopeng hadir dengan sepatu dan lapisan pakaian. Ia tampak sedikit lebih rapi, tetapi tetap berada dalam lingkar yang sama. Di sinilah muncul lapisan sosial kecil: bahkan dalam kemiskinan, tetap ada jarak dan posisi.
Sementara itu, tokoh-tokoh perempuan membawa tafsir yang lain. Ati, dengan jarik batik, jilbab, dan totebag, memancarkan sosok yang berusaha menjaga nilai sekaligus beradaptasi dengan dunia luar. Di sisi lain, Ina dan Ani tampil dengan dress yang dililit kain pantai, setengah tertutup, setengah terbuka. Visual ini terasa jujur: tentang keterbatasan, tentang tubuh yang harus bernegosiasi dengan keadaan.
Tidak ada yang berlebihan, tetapi justru disitulah kekuatannya. Semua terasa dekat, bahkan mungkin terlalu nyata.
Pertunjukan ini tidak berhenti di panggung. Selepas pementasan, diskusi terbuka digelar dan diikuti penonton. Momen ini menjadi penting, karena karya seperti "RT 0 RW 0” memang tidak cukup hanya ditonton, tapi perlu dibicarakan. Disinilah seni berubah menjadi ruang dialog.
Dalam diskusi tersebut, sang sutradara, Danang Ahda Abdillah menyampaikan "Kami ingin menghadirkan ruang yang terasa ‘tidak dimiliki’, seperti RT dan RW yang seharusnya menjadi identitas administratif, tetapi di sini justru kosong/nol. Itu menggambarkan orang-orang yang hidup, tetapi tidak benar-benar dianggap ada.”
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pilihan artistik berupa pasir, material bekas, hingga kostum yang cenderung apa adanya merupakan upaya untuk mendekatkan tubuh aktor dengan realitas yang dihadirkan.
“Kami tidak ingin menciptakan jarak antara panggung dan kehidupan. Justru kami ingin penonton merasa tidak nyaman, karena realitas yang dibicarakan memang tidak nyaman,” Tambahnya.
Baginya, teater bukan hanya soal penyajian cerita, tetapi juga tentang membuka kesadaran. Diskusi setelah pementasan pun menjadi bagian dari karya itu sendiri, ruang di mana tafsir tidak berhenti di tangan kreator, melainkan berkembang bersama penonton.
Peran Dewan Kesenian Kudus terasa signifikan. Mereka tidak hanya menyediakan panggung, tetapi juga membuka ruang pertemuan antara karya dan publik. Memberi tempat bagi cerita-cerita yang jarang terdengar untuk hadir dan diperbincangkan.
Pada akhirnya, “RT 0 RW 0” bukan hanya tentang kehidupan di pinggiran. Ia adalah cermin tentang bagaimana kita melihat, atau mungkin mengabaikan, realitas di sekitar. Dan di atas panggung yang berlapis pasir itu, teater menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia menjadi kesaksian.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar