Esai

Realisme dalam Teater Indonesia

✍ Agam Abimanyu - 📅 07 Feb 2024

Realisme dalam Teater Indonesia
Agam Abimanyu

Realisme dalam dunia teater membawa penonton pada perjalanan yang mendebarkan, di mana panggung menjadi tempat di mana “kenyataan” dihidupkan menciptakan ilusi di atas panggung. Melalui akting para aktor, membawa karakter-karakter realis ke dalam kehidupan, dengan gerakan, gestur, dan ekspresi yang natural, seolah-olah penonton menyaksikan kehidupan sehari-hari di depan mata mereka.

Perkembangan realisme dalam teater tidak hanya sekedar menciptakan ilusi, tetapi juga sebuah gerakan dinamis yang terus berkembang sejak awal abad ke-19 di Perancis. Pada mulanya, ide realisme dalam teater ingin menciptakan ilusi di mana penonton lupa bahwa mereka sedang menonton sebuah pertunjukan. Hal ini tercermin dalam konsep “convention of the fourth wall,” seperti dengan membayangkan adanya tembok besar di depan panggung, seakan-akan memisahkan pelaku seni dengan penonton, mengajak kita untuk melibatkan diri dalam dunia khayalan yang murni.


Sebagaimana yang dikemukakan oleh Denis Diderot menciptakan suasana di mana seniman bisa sepenuhnya terlibat dalam karyanya, tanpa terganggu oleh kehadiran fisik penonton. Tirai penutup, dalam pikiran mereka, tidak pernah diangkat. Pemisahan visual antara aktor dan penonton menciptakan ruang di mana kreativitas dapat mekar tanpa batasan. Ini bukan sekadar menghilangkan kontak visual, tetapi lebih pada menciptakan zona di mana penulis dan aktor dapat mengeksplorasi ide-ide mereka dengan kebebasan tanpa adanya pengaruh atau ekspektasi dari luar. Dimana panggung tidak lagi hanya menampilkan gambar-gambar, tetapi menciptakan ruang yang sebenarnya.

Di tengah-tengah gerakan ini, realisme barat lahir sebagai bentuk perlawanan abad ke-17 era teater Elizabethan, terutama yang dipopulerkan oleh maestro Inggris, William Shakespeare. Pada masa itu, kekuatan terpusat di tangan kaum bangsawan, dan penonton utamanya berasal dari kalangan elit. Namun, perubahan terjadi ketika pedagang, politikus dan wirausahawan merasa perlu menggambarkan kehidupan mereka sendiri di atas panggung.


George Lillo dengan naskahnya, “Saudagar London,” memainkan peran penting dalam mengubah arah realisme dalam teater. Panggung tidak lagi hanya dihiasi oleh tokoh bangsawan, melainkan juga oleh pelacur, saudagar, dan orang-orang biasa. Ini memberikan kesan bahwa penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan kehidupan mereka sendiri di atas panggung.

Realisme berkembang sebagai reaksi terhadap teater tradisional / klasik yang dipenuhi dengan cerita tentang raja, ratu, peri, dan kekuatan supranatural. Realisme mengubah fokusnya pada kehidupan sehari-hari masyarakat, memotretnya dengan detail dan objektivitas tanpa distorsi (apa adanya). Penulis drama realisme harus mengamati masyarakat dengan seksama untuk menciptakan gambaran yang akurat.


Perkembangan ilmu pengetahuan menjadi pendorong kuat dalam evolusi teater realisme. Evolusi, psikologi, sosiologi, dan antropologi memberikan landasan yang kuat untuk menyajikan tokoh-tokoh yang “benar-benar nyata” di panggung. Penggambaran objektif menggantikan elemen-elemen tidak objektif seperti kekuatan supranatural dan peri, semakin mengakar dalam preferensi penonton.

Menurut catatan Jakob Sumardjo tentang realisme dalam jagat teater, meskipun realisme teater awalnya perlawanan atas gagasan romantisisme, perkembangannya kemudian melibatkan penggabungan konsep tersebut. Realisme dalam teater tidak hanya menampilkan objektivitas, tetapi juga menggabungkannya dengan elemen dramatisasi yang terpilih. Gagasan seperti “realisme timur” dan “realisme epik” menciptakan dimensi baru dalam teater, menggambarkan bahwa realisme teater tidak berhenti berkembang seiring waktu. 


Akhirnya, seperti apakah wajah realisme Indonesia hingga hari ini ? Apoakah gerakan teater realisme kontemporer Indonesia itu seperti kita mempertontonkan gerak dan lagu “ Gundul Gundul Pacul “ di atas panggung proscenium dengan suasana Pasar Rakyat disamping brand Internasional seperti Calvin Klein, Adidas, Heineken ?


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar