Esai

Realisme Absurdis dalam Drama Coblong

✍ Agam Abimanyu - 📅 26 Oct 2025

Realisme Absurdis dalam Drama Coblong
Agam Abimanyu

Sri, seorang sinden tua, duduk di balik kelir wayang. Di depannya, gamelan berderak perlahan, seperti napas panjang dunia yang sudah letih. Ia sudah hafal setiap tembang, setiap nada yang harus jatuh pada detik yang tepat.

Ketika dalang menggerakkan wayang, suaranya mengalun—lembut, pasti, nyaris otomatis. Begitulah selama bertahun-tahun.

Penonton datang dan pergi, tertawa, menangis, bertepuk tangan.

Tapi bagi Sri, semuanya terasa sama. Di setiap lakon, ksatria selalu menang, raksasa selalu tumbang, cinta selalu berakhir dalam tembang. Dan setelah tirai turun, dunia tetap gelap tanpa makna yang baru.

Suatu malam, di tengah lakon “Coblong” Sri tiba-tiba lupa baitnya sendiri. Bukan karena pikun, tapi karena ia merasa tak ada lagi yang perlu dinyanyikan. Dalang menoleh, gamelan berhenti sekejap penonton menunggu. Tapi Sri hanya menatap kosong ke arah wayang yang berdiri kaku di depan lampu minyak, seolah mereka juga sedang menunggu arti hidupnya sendiri.

Setelah pertunjukan usai, ia tidak pulang. Ia duduk sendirian di panggung yang kini sepi, memandangi kelir yang masih bergetar oleh bayangan yang baru saja mati.

Lalu ia bersenandung pelan, bukan tembang apa pun, hanya gumaman lirih yang tak punya nada, seolah mengisi ruang kosong di antara dirinya dan malam.

Esoknya, ketika rombongan gamelan datang, Sari sudah ada di tempat duduknya lagi. Ia memakai sanggul, kebaya, selendang, semua seperti biasa. Hanya saja malam itu, tak ada pertunjukan, tak ada dalang, tak ada penonton.

Namun ia tetap menyanyi untuk wayang yang tak dimainkan, untuk dunia yang tak lagi mendengar. Suara sinden itu melayang di udara kosong, menyentuh gamelan yang tak dipukul siapa pun, dan mengisi panggung yang tak butuh tepuk tangan.

Barangkali, dalam setiap tembang yang kita nyanyikan kepada dunia, kita sebenarnya sedang berbicara kepada keheningan yang paling setia, keheningan yang tak pernah menjawab, tapi selalu mendengarkan.

Sejak pertama kali mata kita terbuka, kita disodori sebuah peta. Peta itu lengkap, dihiasi tinta emas dengan nama-nama yang sudah ditahbiskan, nilai-nilai yang harus kita sandang, dan jalur yang konon akan membawa kita ke “Tujuan Akhir” yang mulia. Kita, seolah, telah dibekali sebuah naskah drama sebelum tirai panggung dibuka.

Kita memeluk peta ini dengan erat. Ia terasa aman, memberi kehangatan yang manis, sebuah ilusi yang sempurna. Kita percaya bahwa ketiadaan hanya ada di luar garis-garis yang diukir para pendahulu kita. Inilah kebohongan kecil yang paling indah: bahwa hidup adalah sebuah teka-teki dengan kunci jawaban yang tersedia.

Namun, suatu hari, kabut ilusi itu menipis. Kita mendongak, bukan ke peta, tapi ke cakrawala yang tak bertepi.

Di momen itu, kita menyadari kebenaran yang paling sunyi: kita tidak pernah memesan tiket untuk perjalanan ini. Kita ‘dilempar’ ke atas sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra yang tak bernama. Pelayaran ini dimulai tanpa sambutan dan akan berakhir di dermaga yang sunyi, sebuah konsekuensi biologis tanpa resolusi filosofis.

Inilah realitas absurditas: bahwa kita adalah penumpang di kapal yang tidak memiliki pelabuhan tujuan, karena alam semesta sendiri tidak pernah menyediakan label makna untuk kita. Kapal ini bergerak bukan karena tujuan, melainkan karena inersia kehidupan. Kita merasa asing di rumah kita sendiri.

Ketakutan terbesar kita adalah kehampaan. Kita takut bahwa peta yang robek itu berarti kita tersesat. Kita takut bahwa tanpa tujuan yang dipaksakan, kita hanyalah debu yang berjalan. Tapi, di tengah kekosongan itu, ada mukjizat yang tak terduga. Kita, sebagai manusia, dilengkapi dengan Pikiran. Bukan sekadar alat navigasi, melainkan sebuah kompas batin yang mampu melihat fakta, menembus kabut, dan menunjuk pada satu-satunya realitas yang benar: kebebasan kita.


Mengapa terus mencari arti yang hilang, jika kita bisa menerima fakta bahwa ketiadaan arti yang diwariskan adalah kanvas kosong terbesar yang pernah diberikan kepada kita?


Cukuplah sudah hidup dalam pelarian. Saatnya kita berhenti berlari kembali ke kenyamanan ilusi. Menerima absurditas bukan berarti menyerah pada keputusasaan; itu adalah tindakan revolusioner yang paling sadar. Itu berarti berdiri di tengah ombak, merobek peta lama, dan memegang kuas sendiri.

Sebab jika alam semesta tidak memberikan lukisan, maka kita harus menjadi pelukisnya. Kebebasan ini terasa berat karena menuntut Keautentikan Kita. Ia menuntut kita untuk menentukan sendiri: apa yang bernilai, apa yang layak diperjuangkan, dan apa arti dari hari ini.

Kita hidup di antara dua kehampaan: kelahiran tanpa tujuan yang diminta dan kematian tanpa jawaban.

Dalam selang waktu yang singkat inilah di tengah segala ketidakberartian kosmik kita memiliki kemampuan untuk menciptakan gairah, cinta, keberanian, dan nilai. Kehidupan kita, keberadaan kita, adalah tindakan berani. Ia adalah penolakan terhadap takdir yang hampa.

Maka, jadilah Realis yang Absurd, seseorang yang melihat kenyataan tanpa pemanis, menerima bahwa hidup adalah lukisan yang tidak pernah selesai, namun justru karena itu, setiap goresan kuas, setiap pilihan dan tindakan menjadi otentik, menjadi milik kita sepenuhnya.

Di tengah keheningan kosmik, hanya satu hal yang berteriak lantang: “KITA HIDUP.”

Dan keberanian untuk menjalani teriakan ini dengan penuh kesadaran dan keautentikan, di atas kanvas kosong absurditas, mungkin adalah satu-satunya makna yang benar-benar layak kita ciptakan. Saatnya terbangun dan mulai melukis.

Dan jika hidup kita sehari – hari begitu realistis, dari kerja, makan, tidur, bertahan dan semua terasa tanpa arah, apakah itu bukan juga bentuk realisme absurd dalam hidup kita?

Lalu Apakah hidup ini sebuah drama tempat kita terus bernyanyi tanpa tahu siapa yang mendengarkan, atau justru keheningan itu sendiri yang menjadi penonton sejati kita?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar