Bangungan pertunjukan teater yang disusun oleh sutradara, aktore, artistik, serta dramaturg berada dalam ranah panggung. Dimana masing-masing saling mengembangkan peristiwa dari teks drama hingga mencapai hasil akhir untuk diungkapkan di hadapan penonton. Pertunjukan teater melibatkan bentuk komunikasi antara peristiwa di atas panggung dan penonton, di mana jenis komunikasi ini dipahami sebagai interaksi estetis dan semiotis.
Doc : Pementasan A M Teater Samar x Sekam Karya Mophet SK di Olah - Olah Padepokan Seni Kudus, 2011
Pengomunikasian tersebut terwujud melalui bahasa, yang merupakan elemen kunci untuk menyampaikan ide dan peristiwa di atas panggung. Kehadiran penonton menjadi krusial, karena tanpa mereka, suatu pertunjukan kehilangan substansi dan maknanya. Interaksi di wilayah ini diperlukan untuk menciptakan peristiwa tontonan. Teater menjadi wadah bagi hasil kreativitas seniman yang kemudian dihadirkan dalam batas waktu yang terbatas. Dalam konteks teater modern dan pascamodern, pertunjukan seni tidak dapat dilepaskan dari sorotan publik, membentuk struktur yang saling mendukung.
Hubungan antara tontonan dan penonton menjadi unsur utama dalam pertunjukan teater. Keterkaitan ini berlaku untuk berbagai gaya pertunjukan teater, mulai dari pramodern (klasik, neoklasik), modern (realisme, surealisme, absurdisme), hingga pascamodern (pascadramatik). Meskipun demikian, pertunjukan teater yang lebih menyoroti elemen tubuh aktor dan didukung oleh beragam materi artistik sebagai idiom penting pertunjukan mulai muncul pada tahun 1920-an. Beberapa pihak, terutama pelaku seni dan kritikus teater, berpendapat bahwa ini merupakan lawan dari praktik pertunjukan teater sebelum tahun 1920-an yang lebih berorientasi pada teks drama, terutama drama realisme.
Dalam kritik terhadap situasi sosial pada masa itu, dua tokoh teater, Vsevelod Meyerhold di Rusia dan Antonin Artaud di Prancis, muncul sebagai pemain kunci. Meyerhold memperkenalkan teatrikalisme sebagai alternatif terhadap arus utama teater realisme dan sistem keaktoran Stanislavski. Dalam praktiknya, Meyerhold mengekspos elemen-elemen artistik teater, bahkan secara terbuka menunjukkan cara kerja mesin panggung, dengan niatan untuk membuat penonton sadar bahwa mereka tengah menyaksikan pertunjukan.
Teatrikalisme, yang mencakup unsur-unsur imajinatif atau mimesis dari kenyataan, menonjolkan perbedaan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penikmat teater diingatkan untuk tidak menganggap teater sebagai representasi langsung dari realitas. Sasaran dari pertunjukan teater adalah untuk menyampaikan pesan sosial, memberikan wawasan agar komunitas penikmat teater dapat mengamati dan mengkritisi realitas itu sendiri. Selain teatrikalisme, Meyerhold juga merumuskan dua konsep lain di dalam dunia teaternya, yaitu biomekanik dan konstruktivisme.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar