Sebelumnya, teori serupa telah diajukan oleh Earl of Shaftesbury, seorang bangsawan dan ilmuwan asal Inggris, yang mengeksplorasi estetika dalam bukunya yang berjudul ” The Moralist: A Philosophical Rhapsody “. Namun, Hutcheson membawa perspektif yang berbeda. Ia menjelaskan bahwa indra dalam berfungsi untuk mempersepsi keindahan dan kebaikan dalam sebuah karya seni. Berbeda dengan Shaftesbury yang lebih menekankan pada “indra seni” khususnya panca indra dan rasio, Hutcheson justru memberikan perhatian yang lebih besar pada persepsi estetis.
Hutcheson memulai penjelasannya dengan mempertanyakan, ” Proses apa yang terjadi saat seseorang mengalami persepsi estetis terhadap objek yang indah?” Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sumber perasaan ini bersifat subjektif atau objektif? Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan ini, Hutcheson mulai menganalisis dan memeriksa perasaan (persepsi estetis) yang dirasakan oleh seseorang ketika ia melihat (atau menyaksikan) sebuah objek estetis.
Hasil analisis Hutcheson menunjukkan bahwa ada dua jenis perasaan “senang” yang dialami manusia. Pertama, Hutcheson menyebutnya sebagai senang indrawi. Kedua, ia menyebutnya sebagai senang rasional. Apa perbedaan antara keduanya?
Senang indrawi merujuk pada senang yang diperoleh melalui panca indra. Baik itu melalui penglihatan, pendengaran, perasaan (melalui kulit atau lidah), penciuman, dan sebagainya. Hutcheson menyebutnya sebagai senang “indra luar”. Senang rasional, di sisi lain, diperoleh melalui proses pemikiran intelektual (kontemplasi) atau pengejaran kepentingan diri. Namun, ternyata kedua jenis kessenangan ini menurut Francis Hutcheson berbeda dengan senang yang dialami ketika melihat karya seni atau objek keindahan. Ini yang disebut “persepsi estetis”.
Persepsi estetis menurut Hutcheson merupakan jenis senang yang berbeda dari senang indrawi dan senang rasional. Persepsi estetis adalah jenis senang yang berdiri sendiri, tidak hanya sekadar hasil tangkapan panca indra maupun rasio. Oleh karena itu, Hutcheson berpendapat bahwa terdapat jenis “indra dalam” yang digunakan untuk mengapresiasi karya seni.
Menurut Hutcheson, seseorang yang panca indranya berfungsi dengan baik belum tentu dapat merasakan senang ketika berhadapan dengan objek estetis. Selain itu, ada jenis keindahan yang membutuhkan kontemplasi, tetapi tetap melibatkan panca indra. Jenis senang ini muncul secara alami dari dalam diri manusia, sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya.
Tidak hanya itu, jenis senang ini juga dapat membuat seseorang yang sebelumnya bahagia tiba-tiba meneteskan air mata. Sebaliknya, seseorang yang bahagia bisa tiba-tiba tertawa bahagia setelah berhadapan atau menyaksikan objek keindahan. senang ini juga bersifat “langsung”, meskipun mungkin bertentangan dengan rasio atau logika. Ada juga senang yang didapatkan tanpa melibatkan pengetahuan, seperti mendengarkan musik yang dapat membuat seseorang lebih semangat, dan sebagainya.
Maka, jenis senang ini disebut sebagai pengalaman estetis. Ini merupakan jenis senang yang berbeda dari senang rasional dan senang indrawi. Pemikiran Hutcheson memberikan kontribusi yang berarti dalam perkembangan filsafat estetika.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar