Alunan musik latar terdengar sebagai tanda pementasan telah dimulai, mengiringi anak – anak masuk ke dalam panggung membuka lakon ‘ Majiro ‘ di desa Rejosari Kudus, 27 Januari 2023.
Penonton diajak mengalami peristiwa kegembiraan padang bulan bersama anak – anak yang asyik bermain di atas panggung. Babak pertama dari lakon “Majiro” mulai masuk ke dalam dialog – dialog jawa ngoko sebagai bahasa untuk menyampaikan gagasan – gagasan atau isu yang coba dikemukaan dari komunitas Teater Anak Kali Rahtawu ” AKAR “.
Mereka dengan gaya yang sederhana bercerita tentang sudut pandang mereka terhadap nilai ” Malem Siji Suro ” sebagai anak muda sekaligus masyarakat Rahtawu itu sendiri.
Untuk diketahui Malem Siji Suro adalah Malam 1 Suro merupakan malam sebagai pertanda awal bulan pertama dalam kalender Jawa. Malam 1 Suro juga bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriah atau kalender Islam. Pada umumnya masyarakat jawa melakukan ritual – ritual seperti kirab dimana masyarakat berjalan bersama-sama atau beriring-iringan secara teratur dan berurutan dari depan sampai ke belakang dalam suatu rangkaian acara. Adapula ritual doa – doa yang dilakukan sebagai pengharapan kesalamatan dan dihindarkan dari marabahaya.
Dengan tutur yang sederhana mereka mengajak penonton ikut merenungkan kembali nilai yang terkandung dalam Malem Siji Suro yang sering kali digelar di desa mereka. Hal itu diceritakan dalam kisah seorang pendatang yang mendapatkan musibah setelah melawan atau menentang adat istiadat daerah yang semestinya memiliki nilai – nilai kearifan lokal.
Teater Akar mengaku baru pertama ” turun gunung ” setelah 6 tahun hanya melakukan pementasan di sekitaran Rahtawu saja. Ha itu dikemukakan oleh Sugiarto sebagai penggarap saat mengisi sambutannya. Hal itu tentu saja menjadi sebuah catatan sekaligus langkah yang besar bagi perjalanan dari kelompok teater yang lahir dari desa Rahtawu tersebut. Sebab mereka (para pemain) juga akan berhadapan dengan penonton yang berbeda. Dengan atmosfir yang berbeda. Yang tentu saja memberikan pengalaman yang berharga bagi keberlangsungan komunitas itu sendiri dan mereka dengan kesederhaannya akan turut mewarnai perhelatan kesenian teater panggung ” kota ” dalam tataran isu atau persoalan yang coba mereka angkat maupun dari bentuk seni pertunjukan itu sendiri.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar