Esai

Panggung Media Sosial dalam Perspektif Dramaturgi Erving Goffman

✍ Mentas - 📅 06 Jul 2023

Panggung Media Sosial dalam Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
Mentas

Oleh Mentas

Di zaman sekarang, media sosial telah menjadi panggung di mana manusia dapat saling berhubungan dan berinteraksi. Jika dulu orang harus bertemu secara langsung atau berada dalam satu tempat untuk berkomunikasi, kini hanya dengan membuka smartphone dan membuka aplikasi media sosial, manusia dapat dengan mudah melakukan interaksi sosial. Platform seperti Facebook dan WhatsApp bahkan menyediakan fitur panggilan video yang memudahkan manusia dalam berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Dengan begitu, jarak dan batasan fisik tidak lagi menjadi halangan untuk terhubung dengan orang lain. Tanpa disadari,perlahan hal tersebut juga berdampak pada ruang panggung teater. Sebagian orang mengamini dan sepakat untuk menawarkan konsep atau bentuk gaya baru dengan tajuk pertunjukan virtual dll, sebagian lagi menolak konsep – konsep tersebut dengan dalih perspektif panggung hingga nilai yang berbeda. Namun, dalam artikel ini tidak membahas lebih jauh tentang perdebatan tersebut. Melainkan kepada kehidupan manusia yang terkait interaksi sosial manusia dengan media sosial dalam perspektif Erving Goffman yang menjelaskan bahwa dalam berinteraksi satu sama lain sama halnya dengan pertunjukan sebuah drama. Dimana Manusia berperan sebagai aktor yang memainkan peran dalam setiap tindakan yang dilakukannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui drama kehidupannya.


Dramaturgi

Dramaturgi adalah hasil pendalaman jiwa manusia dalam menjalin interaksi sosial, yang menjadi pijakan bagi perubahan sosial yang terjadi. Teori dramaturgi muncul sebagai respons terhadap konflik sosial dan rasial di tengah masyarakat. Dramaturgi berada di persimpangan antara interaksi sosial dan pengamatan fenomenologi. Dalam pandangan Erving Goffman, bahwa pertunjukan teater dan drama mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia yang dikemukakan dalam bukunya ” Presentation of Self in Everyday Life “.

Paradigma konstruktivisme terhadap teori dramaturgi Erving Goffman kemudian dianalisis oleh sejumlah peneliti untuk melihat dan menganalisis dengan sistematis tindakan yang dilakukan individu untuk memberikan “makna” pada dirinya sendiri di mata masyarakat. Bahkan, tidak hanya dalam “kehidupan nyata,” beberapa peneliti menggunakan dramaturgi Goffman untuk menganalisis kehidupan di media sosial, seperti di Twitter (Girnanfa, F & Susilo A, 2022). Hasilnya, ditemukan beberapa “akun alter” yang digunakan seseorang untuk menampilkan atau mengungkapkan sisi lain dari dirinya yang biasanya tersembunyi. Akun alter ini merupakan bentuk backstage lainnya, meskipun terlihat oleh publik, tetapi subjeknya tetap tidak terlihat. Sementara itu, kesan terbaik akan ditampilkan oleh akun asli. Akun asli mungkin mempublikasikan foto-foto terbaik, kutipan bijak, dan hal-hal positif lainnya. Sedangkan akun alter akan lebih banyak berisi kisah kesedihan, perselingkuhan, situs dewasa, judi, dan sebagainya.

Hal yang sama dapat ditemukan juga dalam media sosial lain seperti Facebook, Instagram, dan sebagainya. Motifnya sama dengan di Twitter, di mana akun asli akan tetap menjaga reputasi, nama baik, dan kesan yang diharapkan dari pengikutnya. Sedangkan akun alter adalah tempat di mana pemilik akun dapat mengekspresikan sisi lain dari dirinya.

Perbandingan dibuat antara interaksi dalam kehidupan sosial dengan “kehidupan” di atas panggung. Model dramaturgi Erving Goffman didasarkan pada penerapan gagasan evaluasi sosial dalam masyarakat saat ini. Pendekatan dramaturgi Goffman lebih fokus pada ekspresi dan komunikasi, yang dapat berupa lisan, tulisan, perilaku, benda, atau peristiwa tertentu (Lono, 2013).

Goffman mengemukakan bahwa seseorang akan menampilkan dirinya sebagai citra dari versi terbaiknya. Seperti halnya seorang aktor yang memerankan karakter dengan sangat baik di atas panggung untuk ditonton oleh penonton. Begitu pula dalam “panggung kehidupan,” seseorang akan berusaha memberikan gambaran terbaik dari dirinya, dengan tujuan agar gambaran dari dirinya itu diterima oleh orang lain. Goffman menyebutnya sebagai Pengelolaan Impresi atau pengelolaan kesan. Aktor menggunakan teknik Pengelolaan Impresi untuk menciptakan kesan tertentu dalam situasi tertentu, dengan tujuan tertentu pula (D. Mulyana & Rahmat, 2010).

Dengan perspektif ini, seseorang akan berusaha untuk menampilkan dirinya dalam “bentuk terbaik” demi menjaga reputasinya. Ketika berinteraksi dengan orang lain, seseorang hanya menunjukkan “alter ego” yang mengurangi hal-hal negatif dalam pandangan masyarakat, dan hanya menampilkan hal-hal positif. Goffman juga berasumsi bahwa kehidupan di atas panggung mirip dengan kehidupan sosial, di mana terdapat wilayah depan (front region) di dunia nyata (front stage di teater) yang terlihat oleh penonton, dan terdapat wilayah belakang (back region) atau backstage di teater, di mana aktor menjadi dirinya sendiri karena tidak terlihat oleh penonton.

Di wilayah belakang (back region), seorang aktor akan merapikan penampilannya, bersantai, mungkin makan camilan, minum, beristirahat, dan sebagainya. Namun, di wilayah depan (front region), ia akan menjadi karakter yang kemudian akan dikagumi atau mencapai tujuan tertentu oleh penontonnya. Pengelolaan kesan diatur dengan baik, sehingga aktor dapat beristirahat dan menjadi dirinya sendiri di panggung belakang, sementara di panggung depan, ia menjadi seseorang yang meninggalkan kesan yang kuat. Inti dari pengelolaan kesan ini adalah tidak menampilkan apa yang ada di wilayah belakang di wilayah depan, dan sebaliknya (Glaskov, 2016).


Dapat disimpulkan bahwa seseorang melakukan sebuah pertunjukan saat berinteraksi dengan orang lain. Terlebih lagi, jika individu tersebut memiliki tujuan tertentu. Keberhasilan “pertunjukan” ini terlihat dari pencapaian tujuan individu yang dimaksud. Sebagai contoh, seorang calon legislator yang ingin memperoleh suara akan menampilkan sisi terbaik dari dirinya di hadapan masyarakat. Bahkan, meskipun ia menampilkan citra negatif, itu pun memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai melalui penampilan tersebut.

Dalam konteks interaksi manusia dengan media sosial, pembagian wilayah “depan dan belakang” dari Goffman masih terasa gradasi yang juga mempunyai andil mempengaruhi pergerakan teater di Indonesia. Perbedaan mendasar hanyalah bahwa wilayah belakang saat ini juga merupakan panggung yang terlihat oleh publik lainnya, sama seperti wilayah depan. Namun, di panggung belakang, individu yang bersangkutan akan menggunakan topeng atau riasan untuk sepenuhnya menyembunyikan dirinya. Justru dalam kondisi ini, individu tersebut merasa bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Sedangkan di wilayah depan, ia menjadi seseorang yang terikat oleh norma-norma tertentu atau ingin memberikan kesan tertentu melalui penampilan yang sangat berbeda dengan alter ego-nya.


Self exposure yang terlalu melampaui batas menimbulkan beberapa persoalan tersendiri. Persoalan kewajaran dalam dunia panggung yang sering kali menjadi perdebatan panjang mesti ditambah dengan persoalan baru dalam adaptasi di dunia maya, yakni media sosial hingga teknologi kecerdasan buatan. Kata privasi pun perlahan-lahan memudar. Dalam beberapa kasus, privasi seseorang seperti kegiatan sehari-harinya yang dibagikan ke sosial media kerap sekali direkayasa. Sekali lagi hal ini dilakukan untuk menghasilkan image yang sempurna dan jika hal ini tidak dapat diraih maka beberapa akan mengalami sebuah mental state yang dikenal dengan anxiety. Salah satu contoh dalam hal rekayasa tersebut yakni konsep diva psycho yang disajikan dalam format video pendek mengusung komedi sarkastik yang secara kontinu diunggah oleh akun tiktok bernama Genit Semestaku. Dimana dalam beberapa narasinya dalam konteks merobek wilayah “depan dan belakang” manusia dalam kegagapanya menghadapi pesatnya teknologi informasi. Masalah privasi dan bukan privasi yang pada perkembangan bisa dikatakan menjadi semakin tidak jelas ini dapat dikaji melalui teori Dramaturgi yang cetuskan oleh Erving Goffman.

Munculnya fenomena Anonymous seperti yang tergambar di media sosial sebagai akun alter telah memunculkan persoalan yang kompleks dan menantang. Pertanyaan seputar anonimitas, pertanggungjawaban, dan dampaknya terhadap masyarakat dan politik telah menjadi perhatian utama. Tantangan dalam mengatasi keberadaan Anonymous mencakup identifikasi, persoalan moral dan etis, penegakan hukum, hingga persoalan estetis. Selain itu, dampaknya termasuk perubahan pola pikir, kebebasan berbicara, dan efek psikologis pada pengguna media sosial. Masyarakat perlu terus berdiskusi dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan yang muncul seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial di era digital.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar