Bahwasanya peradaban sudah melangkah jauh sekali perkembangan ini semua dimulai dari revolusi industri yang dimulai dari Perancis dimana awal mula mesin-mesin industri memulai kiprah operasional,kemudian dalam perkembangan selanjutnya membagi masyarakat menjadi kelas buruh dan borjuis atau majikan yang menjadi pemilik dan menguasai alat produksi.
Tetapi kami tidak sedang membicarakan kemurungan, kesengsaraan dan banyak hal studi sosial soal kapitalisme. Memang kapitalis harus terus berkerja, mesin harus berputar, factory harus tetap hidup, memupuk keuntungan dan berkembang, maka diciptakanlah barang baru, mempropagandakan kemudahan-kemudahan baru, merangsang minat dan keinginan banyak orang sehingga kebutuhan-kebutuhan baru seperti lahir tak habis-habisnya karena dari sinilah roda peradaban ini bisa tumbuh dan bergerak dengan bertambahnya barang-barang dan timbunan sampah sebagai konsekuensi konsumerisme.
Bahkan rasa haus akan tawaran-tawaran iklan dan keinginan keinginan semakin membiak tak karuan. Manusia semakin “KEMARUK” dengan keinginan keingian yang melampui batas-batas kebutuhan mereka yang sebenarnya. Dari potret kemaruknya manusia untuk melayani keinginan-keinginan inilah judul pameran ini dibuat.
Ada dorongan besar kami, yaitu tiga seniman yang mempunyai keakraban khusus di wilayah seni budaya khususnya Pati yang terdiri dari Putut Pasopati, Imam tohari dan Imam Bucah. Sehingga dari kedekatan ini banyak peristiwa seni budaya dari ketiga orang ini terlibat atau dilibatkan, bahkan pernah pameran bersama Dalam “EMBRIO 5” di Semarang. Pameran “KEMARUK” ini bisa dikatakan sebagai ajang reunian bagi ketiganya untuk bergulat bersama untuk mewujudkanya.
Kemudian pameran bersama ini semacam titik etape, atau pemberhentian proses sejenak sebagai bentuk tanggung jawab sebagai seniman dengan karya yang dihadirkan.Dengan istilah dalam bahasa jawa sebagai “unjal ambegan” untuk kemudian melajutkan proses berkesenian lagi.
Konsumerisme Warisan Masa Lalu
Manusia modern dapat dikenali melalui perjalanan gelombang revolusi industri, yang berlanjut ke gelombang ketiga. Menariknya, ketiganya masih berdampingan, terutama di negara-negara berkembang. Gelombang ini mencirikan dominasi manusia atas alam, dimana sumber daya alam tak terbarukan seperti energi digunakan dengan mesin raksasa menggantikan tenaga manusia.
Cara produksi telah berubah menjadi massal dan besar, menciptakan jurang tajam antara produsen dan konsumen, bahkan menjadikan pola perdagangan sebagai bentuk penjajahan ekonomi. Dampaknya termasuk pertumbuhan tanpa batas (growth mania) dan megalomania.
Masyarakat terbagi, jurang antara kaya dan miskin semakin lebar, bahkan memisahkan bangsa dan negara menjadi Utara dan Selatan serta Timur dan Barat. Hasilnya adalah gelombang masalah seperti polusi, korupsi, inflasi, rasisme, alienasi, birokratisme, dan konsumerisme.
Konsumerisme bukan sekadar muncul begitu saja, tetapi memiliki akar dalam warisan abad ke-19 yang memengaruhi pemikiran dan teknologi. Ini menciptakan iklim sekularisme di abad modern, dengan paham seperti hedonisme yang menekankan kesenangan dan kekuasaan sebagai etika.
Ekonomi adalah variabel utama yang terkait dengan konsumerisme. Nilai dasar dan teknologi telah menjadi dasar bagi aktivitas individu dan sosial. Konsumerisme berkembang menjadi gejala psikologis dan sosiologis selain ekonomi. Nilai ekonomi saat ini semakin menekankan aspek materialistik, yang mengarah pada penerapan pendekatan kuantitatif. Ini berhubungan dengan kemajuan ilmu ekonomi yang semakin canggih, yang kadang meninggalkan ilmu sosial dan humaniora. Mandirinya ilmu ekonomi telah mendorong perkembangan sistem ekonomi liberalisme, yang menekankan persaingan bebas dan mitos pertumbuhan.
Menurut tahapan perkembangan ekonomi, tahap terakhir dalam pertumbuhan akan menghasilkan tingkat konsumsi yang tinggi (high mass consumption). Pada tahap ini, minat dan hasrat masyarakat berfokus pada isu-isu konsumsi dan kesejahteraan. Dalam tahap ini, masyarakat bersaing untuk memperoleh sumber daya dengan dukungan politik.
Hasrat meningkat untuk konsumsi yang tinggi telah mengakibatkan konsumsi yang berlebihan atau boros (wasteful consumption). Dalam situasi seperti ini, penggunaan barang-barang ekonomi dilihat sebagai cara yang kurang efisien dalam mencapai kepuasan sosial yang optimal.
Awalnya, gerakan konsumerisme fokus pada perlindungan dan pendidikan melalui lembaga konsumen. Namun, gerakan ini tak bisa mengikuti hasrat konsumen yang berlebihan, dan produsen terus memproduksi lebih banyak. Seperti yang diungkapkan Adam Smith, konsumsi adalah tujuan utama dari produksi.
Istilah “konsumerisme” yang bersifat negatif diperkenalkan oleh jurnalis sebagai reaksi sosial terhadap perilaku konsumtif yang boros. Persepsi ini relevan, menggambarkan perilaku boros dan konsumtif yang merugikan.
Hedonisme, yang menjadi bagian dari warisan etika masa lalu, memainkan peran penting dalam pembentukan konsumerisme berdasarkan pandangan individualistik-materialistik. Awalnya sebagai gerakan perlindungan, konsumerisme sekarang berarti konsumsi yang boros, dipengaruhi oleh teknologi modern yang didasari oleh materialisme-positivisme.
Konsumerisme berdampak serius pada masa depan, karena fokusnya hanya pada diri sendiri, mengabaikan manusia, alam, dan waktu. Ini adalah akibat dari kesalahan dari pergeseran nilai yang disebabkan oleh perkembangan ilmu dan teknologi.. Keinginan manusia telah terbentuk dan dipengaruhi oleh lingkungannya.
Manusia tidak sepenuhnya bebas dalam memilih, karena pengaruh teknologi telah meresap ke dalam diri manusia, sehingga batas antara keinginan yang dipengaruhi teknologi dan pilihan pribadi semakin kabur. Ini adalah akibat dari kesalahan metafisika dan pergeseran nilai. Ini adalah persoalan bersama yang sudah dan akan terus dihadapi oleh lintas generasi. Penting bagi masyarakat untuk menjalankan pemikiran kritis dan introspeksi, apakah konsumsi tersebut memiliki nilai fungsional atau hanya mengikuti tren budaya tahunan.
Khusunya terhadap media – media jejaring iklan yang bekerjasama menjadi sebuah konten pemasaran yang dikendalikan oleh pihak korporasi tertentu dalam platform digital. Menjadi sebuah mesin algoritma yang memiliki kemampuan propaganda, mendikte kesadaran, prilaku sosial hingga potensi untuk memprediksi atas apa – apa yang akan kita lakukan dalam konteks komoditas ekonomi.
Demikianlah sekilas dasar pemikiran pameran senirupa “KEMARUK”. Semoga Joglo Sawah yang terencanakan sebagai tempat pameran berkenan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar