Folks

NGANGSU BANYU 2025 Pameran Puisi Rupa TEKS meRUPA meRUPA TEKS

✍ Djauharudin - 📅 08 Sep 2025

NGANGSU BANYU 2025 Pameran Puisi Rupa TEKS meRUPA meRUPA TEKS
Djauharudin

 ini, gagasan ekologi acapkali dipandang sebagai produk pemikiran modern yang rasional dan saintifik. Namun, jauh sebelum itu, peradaban-peradaban lampau telah merumuskan pemahaman tentang hubungan manusia dengan alam dan semesta. Pertanyaannya, mengapa gagasan ekologis ini—yang sejatinya telah berurat-berakar—justru menghadapi tantangan signifikan di era modern ?


Sikap spiritualitas, khususnya dalam tradisi lampau kita, tidak sekadar mengelola alam, tetapi juga memandang alam sebagai manifestasi dari yang Ilahi. Alam bukan objek eksploitasi, melainkan entitas suci yang harus dihormati. Sebab Pelanggaran terhadap harmoni ini akan menyebabkan ketidakseimbangan, baik pada alam maupun pada diri manusia.



Pendidikan modern seringkali mengajarkan ilmu pengetahuan menjadi bagian-bagian yang dapat diukur dan dianalisis, tanpa memandang keterhubungan holistiknya. Akibatnya, nilai-nilai spiritual dan etis yang terkandung dalam kosmologi tradisional diabaikan. Keberadaan roh alam, yang dipahami oleh masyarakat adat sebagai bagian dari ekosistem, dianggap sebagai mitos belaka.

Praktik-praktik seperti ritual persembahan kepada alam, menjaga hutan keramat, atau menolak pembangunan di area tertentu, dicap sebagai “primitif” atau “ketinggalan zaman”. Cara pandang telah digantikan oleh mentalitas “manusia sebagai penakluk alam.”.



Upaya seniman memasukkan kembali nilai-nilai ekologis yang tidak sekadar pelajaran sejarah, melainkan sebagai fondasi etika dan moral. Sebab krisis ekologi bukan hanya masalah teknis, tetapi juga krisis spiritual. Bukanlah karena gagasan itu tidak ada, melainkan karena ia terlupakan, terkubur di bawah derasnya arus paradoks kemajuan.



Kisah Gagasan Hybrid Art dari Arif Khliwa, Aloeth Pati, Putut Pasopati serta Asa Jatmiko dan Siwi Agustin bersama seniman – seniman lainya mengingatkan jalan keluar tidak terletak pada penolakan total terhadap kemajuan, atau cara pandang baru, tetapi pada kemampuan kita untuk kembali ke akar, menemukan keselarasan di dalamnya. Dengan demikian diharapkan menjadi mercusuar ekologi, menawarkan jalan menuju keseimbangan.

Memahami bahwa kita adalah bagian dari ekosistem. Yang tidak hanya menjelaskan fenomena, tetapi juga mentransformasi masyarakat masyarakat kembali kepada alamnya.


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar