Komposisi musik dengan segala bentuk dan gayanya pada dasarnya membutuhkan pemikiran yang matang dari seorang komponis. Penting bagi kita untuk menghargai usaha mereka, terlepas dari kualitas musik yang dihasilkan. Karya musik mencerminkan aktivitas dan proses kreativitas seni. Terdapat beberapa tantangan dan perbedaan pendapat mengenai gaya musik itu sendiri, termasuk dalam hal penilaian kualitas antara satu musik dengan musik lainnya, serta tujuan dari penciptaan musik tersebut. Komposisi musik, apa pun bentuknya, merupakan salah satu bentuk perkembangan musik yang tidak perlu diperdebatkan, melainkan didengarkan serta perlu dijelaskan.
Musik merupakan salah satu bentuk seni yang memanipulasi bunyi dan hening sebagai materi dasarnya. Selain mengolah harmoni dan melodi, musik juga melibatkan ritme, tempo, ekspresi, serta hening atau ketiadaan bunyi sebagai unsur pengolahan musik. Ketika diam, tetap ada “rasa yang berbunyi” yang dihadirkan. Dalam keheningan itu, kita masih bisa merasakan tempo, ritme, dan dinamika secara intuitif.
Selain itu, musik tidak hanya menjadi komposisi yang mandiri atau diciptakan khusus untuk kepentingan musik itu sendiri, tetapi juga bisa berkolaborasi dengan cabang seni lainnya. Salah satu bentuk kolaborasinya adalah dengan seni pertunjukan atau teater, yang merupakan bentuk pertunjukan panggung yang sudah ada sejak zaman pertengahan.
Tentang sejarah dan asal-usul pertunjukan teater, belum ada kepastian yang pasti karena setiap negara dan daerah memiliki sejarah dan hak untuk mengklaim diri mereka sebagai pelopor seni teater. Setiap negara atau daerah memiliki bentuk, cerita, dan karakteristik seni yang unik. Namun, beberapa teori tentang asal-usul teater telah diketahui melalui bukti arkeologis dan catatan sejarah. Drama yang berkembang saat ini berasal dari zaman Yunani Kuno, sekitar tahun 600 SM.
Pada waktu itu, dalam rangkaian upacara keagamaan, masyarakat Yunani mengadakan festival tari dan nyanyian sebagai penghormatan kepada Dewa Dionysius, Dewa Anggur dan kesuburan. Selanjutnya, mereka juga menggelar sayembara drama untuk menghormatinya. Sayembara tersebut melibatkan pertunjukan drama tragedi, dan salah satu pemenangnya adalah “Thespis”, seorang aktor dan penulis naskah tragedi yang pertama kali dikenal di dunia. Salah satu ciri khas drama tersebut adalah dialog yang diselingi dengan paduan suara.
Pada abad ke-19 (1813-1883), terdapat seorang komposer musik teater terkenal, Wilhelm Richard Wagner merevolusi opera melalui konsepnya tentang Gesamtkunstwerk (“karya seni total”), yang bertujuan untuk menyintesis seni puisi, visual, musik, dan drama, dengan musik sebagai bagian pendukung dari drama, dan konsep ini diumumkan dalam serangkaian esai antara tahun 1849 dan 1852. Wagner mewujudkan gagasan-gagasan ini secara penuh dalam setengah pertama dari siklus empat opera Der Ring des Nibelungen (The Ring of the Nibelung). Memperkenalkan unsur musik sebagai elemen utama dalam drama dengan tujuan menciptakan “jarak” dengan kehidupan nyata. Musik digabungkan dengan elemen panggung lainnya, seperti penyesuaian naskah, pengaturan set, kostum, tata cahaya, dan unsur-unsur teater lainnya. Menurutnya, penonton harus terlepas dari kegaduhan kehidupan sehari-hari dan dibawa masuk ke dalam dunia “musik gaib”.
Ada kebutuhan untuk menjaga jarak antara seni dan kehidupan sehari-hari, prinsip yang dipegang oleh Wagner dalam pengembangan gagasannya. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika dalam pertunjukan ini, keberhasilan pemahaman bergantung pada intuisi semata. Karena kenyataan tidak dapat dipahami secara logis, kebenaran pun tidak dapat diungkapkan secara logis. Menurut gagasannya, kenyataan harus diungkapkan dalam bentuk simbol-simbol, dan begitupun dengan peran musik dalam teater, yang menggunakan pengolahan musik aksentuasi sebagai simbol pendukung dalam pertunjukan teater.
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, musik tidak hanya diolah untuk kepentingan musik itu sendiri. Artinya, komposisi musik tidak hanya ditujukan untuk pertunjukan musik semata, tetapi juga seringkali digunakan dalam bidang seni lainnya. Salah satu contohnya adalah kolaborasi antara musik dengan tarian, musik dengan teater, musik untuk pameran seni rupa, dan bahkan kolaborasi dengan penyair yang membacakan puisi. Setiap kolaborasi tersebut memiliki cara, ketentuan, dan tujuan yang berbeda sesuai dengan tema yang akan digarap.
Peran musik dalam pertunjukan teater telah menjadi polemik sejak awal kemunculannya hingga sekarang. Polemik ini terjadi karena ketika membicarakan tentang teater, jarang sekali orang yang membahas tentang kehadiran musik dalam teater. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa pertunjukan teater hanya melibatkan seni peran yang menceritakan satu alur cerita saja. Pandangan semacam itu sangat membatasi makna teater itu sendiri, karena pada dasarnya pertunjukan teater melibatkan kombinasi semua unsur seni (seni peran, musik, tari, seni rupa, sastra) yang semuanya memerlukan pemikiran dan keselarasan dalam naskah yang akan dipentaskan.
Ada beberapa fungsi yang terkait dengan peran musik sebagai ilustrasi dalam pertunjukan teater, antara lain:
Overture
Fungsi utamanya adalah untuk memusatkan perhatian penonton pada awal pertunjukan dan memberi tahu bahwa pertunjukan akan dimulai. Musik awal harus mampu menarik perhatian penonton.
Musik Penutup
Musik ini digunakan untuk memberitahu penonton bahwa pertunjukan telah berakhir. Kadang-kadang, komposisi musik penutup memiliki kesamaan dengan musik pembuka atau musik lainnya.
Musik Transisi Antara Babak
Setiap pergantian babak pada pertunjukan teater memerlukan komposisi musik yang relatif pendek. Musik ini berfungsi menjaga stabilitas emosi penonton dan mempersiapkan aktor dan kru panggung untuk babak berikutnya.
Musik Ilustratif
Fungsi musik ini adalah membantu mengungkapkan perasaan dalam karakter yang diperankan oleh aktor pada babak atau adegan tertentu. Komposisi musik harus mampu mendukung aktor dalam mengungkapkan emosi karakter tersebut, dan kerjasama antara aktor dan penata musik sangat penting.
Musik Soundtrack
Ini adalah komposisi musik berbentuk lagu atau nyanyian dengan lirik yang menjadi tema utama dalam cerita.
Musik Tema
Musik tema terinspirasi dari tema-tema penting dalam cerita. Musik ini dapat menggambarkan karakter-karakter yang berbeda sesuai dengan tema adegan dalam cerita dan kadang-kadang disajikan dalam bentuk instrumental.
Musik Karakterisasi
Komposisi musik ini dirancang khusus untuk menggambarkan ciri khas seorang tokoh yang muncul dalam pertunjukan. Musik ini harus mampu menjelaskan dan menggambarkan karakter tokoh tersebut sehingga penonton dapat mengidentifikasinya ketika musik dimainkan.
Musik Aksentuasi
Fungsinya adalah untuk memperjelas makna gerakan aktor. Meskipun dalam kehidupan nyata gerakan manusia tidak menghasilkan suara yang jelas, dalam teater, musik aksentuasi digunakan untuk memperjelas gerakan tersebut.
Musik Latar
Musik ini digunakan untuk menciptakan atmosfer tempat dan waktu suatu peristiwa terjadi. Sebagai contoh, ketika adegan malam di hutan atau di desa, musik memiliki peran penting dalam menciptakan suasana tersebut melalui suara-suara asosiatif atau kreatif. Secara teknis, musik ini harus memiliki kesinambungan dengan suasana, gerakan, dan musik yang ada.
Musik Pelebur Emosi
Tujuannya adalah menghilangkan atau memecah emosi yang terbangun dari adegan-adegan sebelumnya, sehingga penonton menyadari bahwa mereka hanya menyaksikan sandiwara.
Dalam buku berjudul “Sejarah Musik Jilid IV” karya Dieter Mack, Komposer Helmut Lachenmann mengungkapkan : “Menggarap sebuah komposisi berarti memikirkan proses bagaimana informasi manusia disampaikan kepada manusia lain. Oleh karena itu, materi musik harus diselaraskan secara jelas, dan semua konsekuensinya dilihat dari segi ekspresi” (1995: 13). Komposisi musik harus didasarkan pada konsep yang matang, dengan mengacu pada naskah atau konsep penggarap yang akan dipentaskan, sehingga tercipta keselarasan dari semua unsur seni yang ada menjadi satu kesatuan dalam pertunjukan teater.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar