Surealisme dalam teater kerap disalahpahami sebagai estetika keanehan atau absurditas bentuk semata. Padahal, sejak awal kemunculannya, justru merupakan strategi artistik untuk menembus batas rasionalitas dan membuka jalan bagi pengalaman mimpi, trauma, serta alam bawah sadar baik individual maupun kolektif.
Dalam konteks ini, Tengul karya Arifin C. Noer dapat dibaca dengan kultur Indonesia, yang berdialog secara implisit. Kalau dalam kaca mata absurdis, keanehan datang dari realitas itu sendiri yang sudah tidak masuk akal. Dunia tidak memberi makna, meski manusia terus mencarinya. Bahasa verbal dianggap gagal; gestur, teriakan, bunyi, dan ritus menjadi pusat ekspresi untuk menunjukkan bahwa tubuh yang sudah terlanjur menjadi korban peradaban dan kekuasaan sistemik, lahir dari pengalaman manusia modern pasca Perang Dunia.
Dialog Yudi Dodok dan Mimpi Sosial
Jika Tengul kemudian terasa tidak masuk akal, itu bukan melulu sebagai gaya atau bentuk. Muncul sebagai akibat dari situasi represif. Ketika bahasa tidak lagi bisa dipakai secara lurus, ketika identitas tidak aman untuk ditegaskan, maka realitas berpindah ke bentuk mimpi, simbol, dan pengulangan. Di titik itu bisa dimaknai bukan pada teror tubuhnya, tetapi pada keyakinan bahwa teater harus menyentuh wilayah pra-rasional. Berbeda dengan pandangan Artaud yang memberontak terhadap peradaban Barat. Tetapi memperlihatkan masyarakat yang sudah hidup dalam tekanan, sehingga mimpi bukan alat pemberontakan, melainkan mekanisme bertahan.
Perbedaan paling mendasar terletak pada konteks. Artaud dan Ionesco menulis dalam masyarakat yang relatif memungkinkan kritik terbuka. Surealisme mereka adalah pemberontakan estetis terhadap rasionalitas Barat. Sebaliknya, Tengul lahir dalam konteks Indonesia yang ditandai oleh trauma politik, kemunafikan, kekerasan struktural, dan budaya diam. Dalam situasi semacam ini, mimpi bukan lagi pilihan estetik, melainkan kebutuhan eksistensial. Ketika realitas terlalu berbahaya untuk dibicarakan secara langsung, bermigrasi ke alam mimpi. Surealisme Tengul bukan pelarian dari kenyataan, tetapi cara paling jujur untuk mengungkapkannya. Mencerminkan pengalaman kolektif masyarakat yang hidup dalam kondisi di mana pelaku, korban, dan saksi sering kali saling bertumpuk dalam satu tubuh sosial.
Dengan demikian, Tengul dapat dipahami sebagai teater yang mempolitisasi mimpi. Jika Artaud melihat mimpi sebagai jalan menuju kebenaran tubuh, dan Ionesco melihat absurditas sebagai gejala runtuhnya bahasa modern, maka dalam kultur sosial kita memungkinkan menggunakan mimpi sebagai arsip trauma sosial. Mimpi buruk bersama yang terus berulang karena tidak pernah diselesaikan. Kekuasaan tidak hadir sebagai tokoh antagonis yang jelas, tetapi sebagai atmosfer yang menekan, mengaburkan, dan membuat kekerasan terasa normal.
Dan jika berpijak pada teks, Tengul juga dapat dipahami sebagai drama tentang bahasa yang menguasai tubuh, tentang individu yang dipaksa hadir dalam definisi orang lain. Sebagai konsekuensi dari tekanan sosial yang membuat kenyataan tak lagi bisa dituturkan secara langsung. Dari mekanisme itu, pengalaman sosial dan kemudian mimpi muncul, bukan sebagai gaya, melainkan sebagai kebutuhan. Yang dalam ceritanya seperti terperangkap dalam definisi yang diproduksi oleh bahasa orang lain. Berputar seperti mimpi. Tepatnya, mimpi buruk sosial dari kondisi sehari-hari yang dinormalisasi.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi seperti apakah bentuknya, melainkan:
Mengapa dalam konteks hari ini, kebenaran justru paling jujur ketika ia muncul sebagai mimpi?
Dimana mimpi bukanlah perkara irasional semata, melainkan sesuatu yang harus patuh terhadap logika sosial. Disebut demikian bukan karena tokohnya bodoh, melainkan karena berada dalam kondisi “freeze” sebuah respons biologis dan sosial terhadap tekanan yang terus-menerus.
Menandai apa yang dilakukan kekuasaan terhadap tubuh dan kesadaran seseorang dimana kekuasaan yang tidak melarang bicara, tapi menentukan makna sebelum kata itu selesai diucapkan.
Catatan Pinggir
- Jika kenyataan terlalu berbahaya untuk diucapkan, ke mana ia bersembunyi sastra, mimpi, atau diam kolektif?
- Apakah absurditas adalah kegagalan nalar, atau justru bentuk nalar yang paling jujur di masyarakat masuk dalam ruang mimpi yang takut bicara?
- Siapa yang sebenarnya “gila”: tokoh di panggung, atau tatanan sosial yang memaksa mereka bermimpi buruk?
- Apakah pengulangan dramatik di panggung mencerminkan trauma yang belum pernah benar-benar diselesaikan di luar panggung?
- Ketika bahasa menjadi berputar-putar dan tidak langsung, apakah itu estetika atau mekanisme bertahan hidup?
- Dalam masyarakat yang terbiasa diam, apakah mimpi menjadi satu-satunya ruang aman untuk berkata jujur?
- Mengapa tokoh dalam drama modern Indonesia sering terasa tanpa identitas jelas apakah karena identitas sosial memang mudah dihapus?
- Apakah gaya di Indonesia lahir dari kebebasan artistik, atau dari ketidakbebasan politik?
- Apakah kita menonton Tengul sebagai penonton yang aman, atau sebagai bagian dari mimpi buruk itu sendiri?
- Jika mimpi adalah arsip trauma, trauma apa yang terus kita wariskan tanpa pernah kita akui?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar