Kesenian Jaran Kepang adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Indonesia yang memiliki tiga fungsi utama dalam masyarakat: ritual, pameran atau festival rakyat, dan tontonan atau hiburan semata. Masing-masing fungsi ini membawa makna yang khusus dalam konteks seni budaya ini.
Dalam peran pertamanya sebagai ritual, Jaran Kepang sarat dengan simbol-simbol berarti. Simbol-simbol ini bisa berwujud fisik, seperti uborampen (alat kelengkapan ritual), pakaian, perhiasan, dan lain-lain, atau bisa juga berupa gagasan, seperti mantra, atau bahkan perilaku, seperti gerakan dan bunyi. Semua ini memiliki makna mendalam dalam konteks ritual dan menguatkan hubungan antara manusia dengan dunia spiritual. Ritual ini bisa berupa permohonan kesuburan, kesejahteraan, atau perlindungan dari bala yang tidak diinginkan.
Kemudian, Jaran Kepang juga berfungsi sebagai sarana pameran atau festival kerakyatan. Di sini, kreativitas manusia mendominasi. Festival ini adalah panggung untuk menunjukkan berbagai bentuk seni dan ekspresi budaya kepada masyarakat. Inilah momen di mana keunikan dan kekayaan seni budaya jaran kepang dapat dinikmati oleh semua orang.
Selanjutnya, dalam perannya sebagai tontonan atau hiburan, Jaran Kepang memberikan kepuasan batin bagi penonton. Ini adalah saat di mana penari menghibur dengan gerakan-gerakan indah mereka dan pertunjukan yang memukau. Penonton dapat menikmati momen hiburan yang membawa sukacita dan kebahagiaan.
Sebagai bagian dari kebudayaan, Jaran Kepang memiliki nilai budaya yang mendalam. Pandangan Kuntjaraningrat (1980) tentang kebudayaan sebagai sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia memandu pemahaman kita tentang kebudayaan. Dalam konteks Jaran Kepang, gagasan dan nilai budaya tercermin dalam setiap gerakan penari, setiap detail kostum, dan setiap elemen pertunjukan.
Kesenian selalu berhubungan erat dengan keindahan. Alexander Baumgarten, seorang filsuf Jerman, memisahkan kesempurnaan dunia menjadi tiga hal: kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dalam konteks seni, fokus utamanya adalah pada keindahan. Seni adalah cara manusia untuk mengkomunikasikan pengalaman subjektif mereka kepada penonton melalui bentuk dan ekspresi visual.
Jaran Kepang, sebagai bentuk seni, juga merupakan sarana komunikasi. Penari dan properti yang digunakan dalam pertunjukan menciptakan pesan yang dapat dipahami oleh penonton. Tarian ini menggambarkan simbolisme yang mendalam yang hanya dimengerti oleh masyarakat yang memahami budayanya. Simbolisme visual dalam Jaran Kepang membawa makna dan pesan tertentu yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal.
Dalam pandangan semiotik, simbol diartikan sebagai tanda yang diterima oleh masyarakat atau budaya tertentu melalui konvensi atau kesepakatan bersama. Hubungan antara penanda dan petanda dalam simbol ini ditentukan oleh budaya yang menggunakannya. Dengan demikian, Jaran Kepang bukan hanya sebagai karya seni visual, tetapi juga sebagai bahasa simbolis yang memadukan makna dan pesan dalam ekspresi budaya yang indah. Seni ini menjadi cerminan kaya akan warisan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dapresiasi.
Komunitas Seni Samar berkolaborasi dengan Grup Tari Kontemporer FAME Crew melalui sentuhan koreografer Frenz Afif melahirkan karya Tari Kreasi yang disebut Jaran Upet. Sebuah konsep tari yang dibawa dalam penjelajahan mitologis yang lahir dari proses dialektika bentuk tradisi. Gagasan Jaran Upet membawa nilai – nilai manusia dalam percepatan industri sebagai upaya manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.
Industrialisasi yang identik dengan corak masyarakat urban di Kabupaten Kudus digambarkan dalam gerak tarinya. Jaran atau kuda dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai tunggangan dalam pemenuhan kebutuhan transportasi manusia. Artinya tunggangan hanya diposisikan sebagai objek alat dalam pemenuhan kebutuhan manusia semata. Namun hari ini, banyak sekali ditemui fenomena manusia yang kehilangan eksitensinya akibat percepatan industri. Manusia terancam relevansinya terhadap tantangan zaman. Dalam literatur tentang peradaban manusia bermunculan kritik terhadap laju perkembangan teknologi industri yang justru mengakibatkan kemrosotan nilai kemanusian.
Dalam perwujudan Jaran Upet nampak manusia dengan ” tunggangannya ” menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bergerak serentak menuju sesuatu yang entah.
Konsep gagasan kesenian jaranan yang merujuk kepada ritual sebagai suatu upacara untuk menjalin hubungan secara transendental dengan sesuatu yang dianggap sebagai “sesuatu yang lebih besar diluar dirinya” dalam rangka keselarasan laku hidup dipertanyakan kembali nilainya yang seolah manusia terperangkap dan dipaksa dalam ruang industri. Menyamarkan nilai kearifan yang hanya selesai menjadi produk komoditas ekonomis semata. Terpapas oleh cepatnya arus mesin industri yang serba mekanis. Memburu sesuatu yang entah. Pertanyaan – pertanyaan tentang cerita peradaban manusia dengan modernitasnya itu diekspresikan dalam bentuk Tarian Jaran Upet yang terus bergerak dan melaju.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar