Esai

Meraba Gaya Teater SAMAR Sebagai Upacara

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 01 Nov 2023

Meraba Gaya Teater SAMAR Sebagai Upacara
Melly Fardiani Tasmara

Oleh Melly Fardiani Tasmara , Melly Fardiani Tasmara adalah pribadi yang aktif dalam bidang sastra dan kesenian. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan seni serta aktif...

Teater sering dianggap sebagai bentuk seni yang paling komprehensif karena menggabungkan berbagai cabang seni, termasuk musik, seni rupa, tari, dan sastra. Seperti drama, teater adalah pertunjukan yang dilakukan di atas panggung dan melibatkan elemen-elemen seperti naskah, latar belakang, tata rias, tata panggung, dan banyak aspek lainnya.

Menurut Tato Nuryanto dalam bukunya yang berjudul “Apresiasi Drama” (2017), seni teater adalah medium ekspresi yang mencerminkan beragam aspek kehidupan masyarakat, mulai dari konflik hingga percintaan. Seringkali, teater dan drama dianggap sinonim, tetapi sebenarnya istilah “teater” memiliki makna yang lebih luas daripada “drama.” Sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia Britannica, teater atau teater adalah seni yang terkait dengan pertunjukan langsung di mana segala aspeknya telah direncanakan dengan cermat.

Pada awalnya, teater muncul sebagai bentuk upacara yang diadakan sebagai persembahan kepada Dewa Dionisos atau sebagai bagian dari perayaan untuk Dewa Apollo. Dalam konteks ini, teater tidak membutuhkan penonton eksternal karena penontonnya adalah peserta dalam upacara tersebut.

Dalam perkembangannya, di Indonesia hari ini memiliki berbagai macam khasanah konsepsi seni pertunjukan teater. Didukung pandangan – pandangan kritis dari akademis dan arah pendidikan dengan kurikulum STEAM sebuah pendekatan pembelajaran yang mengkolaborasikan seperangkat ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika.

Komunitas Seni Samar yang lahir pada tahun 1998 beralamat di Jl. Anggrek, Panjang Kidul, Panjang, Kec. Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah yang hari ini dibina oleh Gunadi Siswo Nugroho atau yang sering dikenal dengan nama Leo Katarsis seringkali memberikan sajian pertunjukan yang eksploratif. Dengan latar belakang komunitas, beranggotakan masyarakat yang bermacam -macam, dari akademisi hingga non-akademisi disiplin ilmu seni teater membuat gaya Samar menjadi unik dan khas.

Mereka meyakini bahwa unsur yang paling penting dari karya – karya karyanya adalah tentang pijakan persoalaan sosial budaya yang diketengahkan dalam garapannya.


Dalam ruang SAMAR, mengedepankan eksplorasi gagasannya untuk menjadi sebuah bentuk artistik yang khas. Kadang menjadi bentuk yang termaknai sebagai upacara, hiburan, absurditas hingga realisme. Semua itu mereka kembalikan kepada keterlibatan masyarakat dalam pertunjukan SAMAR sebagai salah satu unsur dalam peristiwa teater itu sendiri. Meragukan mengapa teater Barat begitu bergantung pada kata-kata (dialog). Menitikberatkan suasana, gerakan, dan ruang daripada dialog. Ia berusaha menghapus dominasi teks dan mencoba menciptakan bahasa alternatif yang lebih berfokus pada tanda-tanda fisik daripada kata-kata, menciptakan apa yang ia sebut sebagai “bahasa fisik” yang membebaskan teater dari belenggu teater literer.

Sebab peran teater seharusnya adalah untuk mengguncang manusia keluar dari kenyamanan mereka dan membuat mereka merasakan kekejaman yang mengancam. Ingin membalikkan semiotika konvensional teater, menolak baik bahasa maupun makna “ilusi.” Dengan cara ini, berupaya menghapuskan beban makna dan mendesak untuk perubahan radikal dalam budaya yang telah lama dikuasai oleh kepura-puraan dan ilusi.

Garapan lakon Rananggana yang dikampanyekan oleh Teater SAMAR. Yang seringkali hadir dalam peristiwa kebudayaan ditengah masyarakat sebagai bentuk karnaval yang kadang menggiring masyarakat untuk terlibat dalam hukum panggung didalamnya. Mereka memaknai panggung sebagai sebuah upacara yang tak berjarak dari penontonnya. Dilihat dari bentuk artistiknya salah satunya kostum yang menitik beratkan kepada bahan – bahan alam yang serasa mengkapanyekan kepada masyarakat untuk melihat kembali peran alam dan manusia sebagai bagiannya. Yang pada hakikatnya kita sebagai manusia tidak akan bisa lepas dari alam itu sendiri. Sehingga kita harus menyadari tanggung jawab terhadap alam sebagai sumber kebutuhan hidup manusia.

Kemudian pada konsepsi artistiknya semua pemain menggunakan topeng dari bahan tradisonal yang acap kali digunakan oleh masyarakat lampau sebagai perkakas rumah tangga. Perkakas yang menjadi topeng itu biasa digunakan untuk saringan untuk memasak. Dalam konteks itu termaknai bahwa mereka seringkali mencoba menyajikan sebuah lakon dengan kemasan artistik terdekat dengan kebiasaan masyarakat sehari – hari sebagai cara hidup mereka.

Topeng – topeng itu seperti berbicara tentang keadaan kita hari ini yang secara moral kesulitan untuk membedakan kemunafikan, keshalihan manusia hari ini tak ubahnya kedok belaka yang sering dipakai sebagai pemuas nafsu purba semata, sekaligus respon terhadap gelombang industri yang menggerus relevansi dan eksitensi manusia tentang pergeseran nilai kemanusian yang menjadi komoditas ekonomis semata yang prakteknya menjadikan manusia itu sebagai mesin atau robot itu sendiri, manusia mulai kehilangan wajahnya sebagai manusia yang agung akan kemuliaannya.

Sedangkan ide yang diambil adalah cerita lampau tentang pertempuran Rananggana beserta pasukan Bregada, sebuah idiom yang tertuang dalam fragmen cerita epik dari tanah Muria (lingkar Muria : Kudus, Pati, Jepara). Seperti episode epik Bregada Merudhandha, Rananggana – Pertempuran Manusia Mencari Swargaloka, Luh Maura, Rananggana – Merti Bumi, Rananggana – Sedulur Papat Gugat, Rananggana – Tundhung, hingga Barongan Ndas Papat episode Ampak – Ampak Jaran Upet.


Hal itu mungkin berdasarkan keinginan penggarap untuk kembali menengok ruang kebijaksanan timur yang kaya bersifat universal untuk menjadi bentuk garap yang relevan dengan persoalan hari ini sebagai kebijaksanan bersikap terhadap gagasan barat yang terlalu banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat yang pada akhirnya hanya memberikan mimpi – mimpi yang tidak pernah sampai.

Diranah mitologis kita dihantarkan kepada pertempuran purba manusia seperti kebijaksaan masyarakat lampau tentang falsafah Sedulur Papat Limo Pancer yang termanifestasikan dalam pertempuran Rananggana dan Barongan Ndas Papat. Pertempuran abadi itu dihadirkan sebagai ungkapan esensi hidup manusia secara mendalam yang hari ini tidak sempat terpedomani sehingga mengkaburkan cita – cita kemanusian.

Dari abstraksi dan kompleksitas itu dikemas dalam berbagai rupa bentuk konsepsi kesenian eksploratif yang salah satunya merupakan sebuah upacara.

Pandangan tentang teater menjadi semacam gerakan perlawanan terhadap realitas manusia, yang tidak selalu dihadirkan dalam kesadaran sehari-hari. Teater ini menekankan spontanitas, asli, primitif, dan kehidupan yang liar di atas panggung, memicu emosi yang kuat dan memperkuat pengalaman penonton.

Pada intinya, teater menurut pandangan ini adalah kehidupan itu sendiri, tidak sekadar sebuah cermin. Tidak seperti pandangan romantisme, teater ini menyoroti spontanitas, orisinalitas, primitivisme, dan ekspresi yang liar, menghidupkan emosi di atas panggung.

Upaya untuk menghadirkan teater yang menyentuh esensi kehidupan manusia secara mendalam. Itu adalah ungkapan dari keinginan untuk mengungkapkan realitas yang penuh makna dalam masyarakat yang semakin terjebak dalam dunia digital dan informasi. Teater ini mengajak kita untuk mengeksplorasi realitas yang sebenarnya, tanpa jarak atau topeng.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar