Esai

Membaca Gen-Z Memaknai Nilai – Nilai Tradisi

✍ Dhani Azzra - 📅 11 Nov 2023

Membaca Gen-Z Memaknai Nilai – Nilai Tradisi
Dhani Azzra

Oleh Dhani Azzra , Kelahiran 05/07/1975 yang bertempat tinggal di Dk. Pedak Ds. Klumprit Rt01/01. Kec. Gebog, Kudus, Jateng. Pada tahun 1990-1993, Terlibat dalam...

Lakon Sedulur Papat oleh Teater Tigakoma

Dalam khasanah tradisi Jawa, Sedulur Papat Lima Pancer memiliki makna filosofis dan spiritual yang dalam. Filosofi Sedulur Papat Lima Pancer mengajarkan tentang kesatuan wujud manusia ketika lahir ke bumi. Masyarakat Jawa menggunakan istilah Sedulur Papat limo Pancer yang mempengaruhi dalam diri manusia.

Lalu apa yang terjadi ketika persaudaran diantara keempat sang penjaga harmoni dalam diri manusia itu terberai oleh sebab diantara mereka saling berebut kuasa dan ingin mendominasi diri manusia, sebagai sejumput alam kecil (mikro kosmos).


Membaca lakon Sedulur Papat yang digelar oleh Teate Tigakoma (Jumat, 3 – 11-2023) di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), saya menemukan satu pergerakan Gen-Z dalam memaknai spirit tradisi ke dalam konteks realitas kekinian.

Sedulur Papat yang dilambangkan dengan kakang kawah, ari-ari, getih dan puser yang menyertai setiap kelahiran manusia menjadi pusat konflik dalam lakon adaptasi karya Sosiawan Leak.

Sebagai pembuka, konflik Sedulur Papat oleh Teater Tigakom ditandai sebagai konflik sosial yang terjadi hari ini melalu tayangan audio visual (multimedia). Sayang, pada adegan-adegen selanjutnya sampai akhir pementasan eksplorasi multimedia yang menjadi penegas dalam konteks sosial hari ini tak dihadirkan sehingga pertunjukan seolah kehilangan konteks zamannya.

Yang terjadi hanya permainan akrobatik para aktor yang saling melontarkan dialog diruang hampa tafsir terhadap teks dan kelompok penari yang bergerak lamban dengan pola gerak yang nyaris sama dan mengulang. Pertunjukan kedodoran membangun dramatika atau memang Lutfi Hibatul (sutradara) memilih membangun irama pertunjukan seperti tayangan slow motion dalam film atau sutradara memang belum cukup mampu membangun tangga dramatika.

Yang menjadi pembeda dalam pentas malam itu adalah tata panggung,. Kedalaman ruang yang berlapis dengan pemanfaatan hampir seluruh sudut auditorium dengan areal permainan membelah penononton mampu menggiring, mengikat dan mencengkram susana bathin penonton ke dalam peristiwa yang tersaji di hadapannya.

Terlepas dari banyak celah yang masih membutuhkan kematangan dalam mengeksekusi elemen-elemen pertunjukan, Teater Tigakoma adalah satu fenomena Teater kampus yang terus bergerak dengan konsisten melahirkan karya ditengah keterbatasan gedung gelar karya yang representatif di kabupaten Kudus.

Lihat, bagaimana mereka menaklukan auditorium UMK hingga berkesan serupa dengan gedung teater yang ideal meski harus menguras pikiran dan tenaga ekstra.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar