Esai

Manusia dan Seni

✍ Agam Abimanyu - 📅 12 Dec 2023

Manusia dan Seni
Agam Abimanyu

Semesta raya dengan segala isinya beserta rangkaian pergerakannya merupakan sumber penting segala bentuk pengetahuan sekaligus menjadi pertanyaan terbesar untuk dicari jawabannya sepanjang manusia hidup. Gejala-gejala alam dengan seluruh isi beserta geraknya tersebut disadari mengandung kontinuitas (implikasi berkelanjutan), sebab akibat dan manfaat tertentu bagi manusia yang di saat hidupnya menjadi penentu pemecahannya.



Adanya sesuatu yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lain, yakni kesadaran yang dimiliki manusia, membuat perjalanan kehidupan diri manusia menjadi "duta" terhadap misteri yang menyelubungi semesta agar dapat terkuak. Manusia dianggap menjadi inti atau pusat semesta karena memiliki "ciri pembeda" dengan makhluk yang lain. Siklus kehidupan jagad raya ditandai dengan kehadiran kesadaran manusia yang selalu memberikan pertanyaan pada diri manusia sendiri untuk selalu mencari jawaban dan tiada henti yaitu : “siapakah aku, darimana asalku, dan kemana kembali”.

Aristoteles membuat istilah untuk manusia sebagai animal rationale yakni, makhluk hidup yang rasional (berpikir dan merasa). Kerasionalan manusia tersebut nampak pada hal-hal berupa : situasi problematis, pemecahan masalah dan penciptaan atau pengadaan alat-alat. Oleh Cassires (1976) teori Aristoteles tersebut dikembangkan lagi bahwa kerasionalan manusia termasuk didalamnya penciptaan dan pengungkapan simbol-simbol (animal symbollicum). 

Manusia memiliki kekuatan menata dan menciptakan simbol/tanda/kode yang realisasinya terwujud dalam sistem budaya, yaitu : bahasa, mite, seni, agama, sejarah dan ilmu. Pada tataran ini, manusia makin dipahami dari segala aspeknya baik secara rasional maupun non rasional.

Sebagai keterwakilan atas segala inti kenyataan yang akan disampaikan, maka bentuk penyampaiannya berupa simbol-simbol. Simbol (symbol), secara etimologis berasal dari kata Yunani “sym-ballein” yang berarti melemparkan secara bersama antara benda atau perbuatan dikaitkan dengan suatu ide. Atau juga ada yang menyebutkan “symbolos” yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang.

Simbol-simbol tersebut seringkali dihadirkan dalam bentuk kiasan, metafora atau istilah lain, yang kesemuanya berkaitan dengan sifat-sifat benda yang dijumpai. Bentuk-bentuk kiasan atau alegori semacam ini sudah jamak terdapatkan pada syair-syair pujangga, puisi, naskah drama (teater), epos, maupun sebagian besar ayat-ayat dalam kitab suci agama. Sedangkan metafora (metaphor) memiliki arti pemakaian suatu objek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan. Itu berarti suatu susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna yang lain.

Usaha manusia dengan segala keterbatasannya dalam menangkap makna yang ditampilkan alam semesta dengan segala keluasannya seringkali menemui kendala tatkala harus menterjemahkan secara verbal harfiah. Kenyataan manusia dalam mengungkap realitas semesta yang serba kompleks ini menjadikan kesadaran dalam refleksi diri manusia, yaitu : “ada banyak hal yang tidak mampu diterjemahkan dengan sekedar kata-kata”.

Sebagai bentuk penyiasatan komunikasi, symbol digunakan manusia untuk memberikan penekanan arti atau implikasi makna yang tersirat. Media symbol tidak hanya mengekspresikan hal yang actual (fakta lahiriah) saja, tetapi juga mengungkapkan sesuatu yang bersifat transcendental (fakta batin).

Manusia dan Pengetahuan Intuisi

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia memiliki apa yang disebut dengan “keyakinan”. Keyakinan merupakan persoalan yang melibatkan sebagian atau seluruh kepribadian manusia. Secara psikologis, keyakinan didalam mempercayai sesuatu yang diterima mengandung kepercayaan sepenuhnya terhadap hal yang dipercayai.

Perbedaan manusia dengan makhluk lain terletak dari sumber pengetahuan. Sumber-sumber pengetahuan dimaksud berasal dari indera, akal dan perasaan. Realitas kesemestaan, apa yang ditampilkan dan disajikan oleh “semesta raya”, tak dapat dikonsumsi begitu saja secara sempurna oleh manusia dengan segala keterbatasan kemampuannya yang meliputi kemampuan menangkap secara jasmani (inderawi), kemampuan mengetahui secara akal (pikiran) dan kemampuan memahami dengan rasa (intuisi). Cabang-cabang tertentu mengenai fenomena semesta yang maha luas ini, mengharuskan manusia yang berupaya melakukan pendekatan untuk menterjemahkannya pun melalui cara tertentu pula. Ada yang cukup diukur dengan indera, ada yang harus dilalui dengan pengetahuan pikiran, serta ada segala sesuatunya yang mesti ditempuh dengan jalan penghayatan kalbu (intuisi).

Upaya meneliti lebih dalam tentang pengetahuan Intuisi, mau tidak mau tergiring ke persoalan manusia karena memang hanya manusia yang memiliki Intuisi termasuk bahasanya dibanding dengan makhluk-makhluk lain non manusia. Hanya pada diri manusia saja tumbuh rasa atau hati nurani (conscience), seperti benar dan salah atau arti sebuah nilai. Dengan berlandaskan "apa yang ada", manusia dapat mengatakan "apa yang harus ada".

Para ahli dari berbagai macam cabang ilmu sepakat bahwa ada beberapa sumber pengetahuan yang secara garis besar terbagi dalam tiga kelompok, yaitu : pengetahuan yang bersumber pada persepsi badan (indera), pengetahuan yang bersumber pada pemikiran (akal), dan sumber pengetahuan yang bersumber pada “dalam diri” manusia yang banyak memiliki istilah seperti, hati, rasa, nurani, kalbu atau yang kemudian merujuk ke istilah Intuisi.

Suatu sumber pengetahuan yang bersandar pada intuisi adalah pemahaman langsung atas suatu pengetahuan yang tidak merupakan hasil pemikiran yang sadar atau persepsi rasa secara langsung. Beberapa pengertian mengenai pengetahuan intuisi terangkum diantaranya : rasa yang langsung tentang keyakinan, imajinasi yang tercampur dengan keyakinan, respons total terhadap situasi, serta pandangan langsung kepada kebenaran.

Bertolak dari realitas tingkat pemahaman setiap manusia yang berbeda-beda maka terdapat hal-hal, yaitu :

Mengenai Keadaan Intuisionis :

Dikarenakan pendekatan intuisi adalah pengupayaan mendapatkan pengetahuan dari suatu kebenaran yang bersifat rahasia, tersembunyi atau samar-samar, maka terdapat persoalan, yakni :

Kelemahan atau bahaya intuisi adalah bukan merupakan metode yang aman jika dipakai sendirian. Persoalan ini akan mendorong kepada pengakuan-pengakuan yang tak masuk akal kecuali di cek dengan akal dan indra. “Tak ada intuisi atau pengalaman yang aman sehingga dapat mengelakkan diri dari kritik rasional”.

Intuisi harus meminta bantuan rasa inderawi dan konsep-konsep akal jika berusaha untuk berhubungan dengan pihak lain dan menjelaskannya atau jika mempertahankan diri terhadap intepretasi yang salah atau serangan-serangan.

Intuisi harus membuang jauh-jauh sikap yakin dan tak dapat salah.

Intuisi, intelek dan rasa pengalaman harus dipergunakan bersama dalam mencari pengetahuan.

Mengenai Keadaan Pihak Lain (Awam) :

Bahwa secara realitas pula kelompok masyarakat sebagian besar terdiri dari kelompok awam yang memiliki ciri pokok bertindak dan berpikir, beralih dari generasi ke generasi dengan sarana meniru dan pengajaran (doctrinal). Cara yang umum untuk memandang sesuatu tersebut lazim dinamakan paham orang awam (common sense).

Adapun bentuk-bentuk pemahaman orang awam adalah :

Tindakan orang awam condong bersifat kebiasaan dan meniru yang diwarisi masa sebelumnya.

Pendapat awam seringkali bersifat dangkal. Pendapat ini terjadi akibat percampuran antara fakta dan prasangka serta kebijaksanaan dan kecenderungan emosional.

Pemikiran orang awam cenderung kepercayaan yang tak perlu diuji. Pemikiran ini menimbulkan sikap menganggap pengetahuan telah cukup dan tak ada lagi pengetahuan diatasnya.

Penghayatan orang awam jarang disertai penjelasan mengapa segala sesuatu itu seperti yang dikatakan.

Dari paparan tersebut, maka upaya pendekatan penafsiran mengenai bahasa intuisi yang seringkali bersifat perumpamaan mesti ditempuh dengan berbagai cara yang meliputi wawasan maupun pengetahuan berbagai ilmu yang relevan dengan hal yang dibicarakan.

Bahasa intuisi sebagaimana bahasa religius dalam konteks teologi, memang tidak akan dapat dipahami kalau diperlakukan sebagai pernyataan-pernyataan yang informatif-deskriptif sesuai kriteria kaum logis-positivis. Pengetahuan intuitif tidak dapat diberitahukan karena intuisi berkata tidak dengan bahasa harfiah melainkan dengan menterjemahkan simbol-simbol atau tanda, baik itu secara benda atau bahasa.

Pertanyaan kritis yang paling mungkin terlontar adalah : “ mengingat pengalaman intuitif hanya dapat dialami manusia "teretentu"’, apakah pengalaman tersebut bukan hanya suatu ilusi subyektif saja?”.

Upaya memahami atau menafsirkan ungkapan intuitif, secara garis besar dapat dilakukan dengan cara :

Auto-interpretation. Cara ini adalah penafsiran mengenainya diperoleh melalui penjelasan yang disampaikan oleh pelaku sendiri (Intuisionis).

Hetero-interpretation. Yaitu dilakukan oleh peneliti, penterjemah atau penafsir. Pada taraf ini dibutuhkan orang lain yang sekiranya faham terhadap makna-makna simbolik atau teks-teks alegoris melalui sudut pandang disiplin ilmu lain yang berkaitan, melalui aspek :

Penghayatan Intuitif

Tingkat kesulitan dan kerumitan yang dihadapi manusia dalam menafsirkan pengetahuan intuisi, membuat hanya orang-orang tertentu dengan keinginan kuat untuk belajar dan mempelajarinyalah yang dimungkinkan dapat menangkap gejala-gejala yang ditimbulkan bahasa intuisi. Melakukan pemahaman terhadap bahasa intuisi adalah memandang dunia sebagai misteri yang hanya dapat didekati dengan : merasakan, menjadi bagian, dan masuk ke dalam pengertian dan makna (to feel it, to become part of it, to penetrate its meaning and significance). Dalam hal ini,sumber pengetahuan yang ada (indera, akal, intuisi) sangat ideal untuk dipersatukan guna mendapatkan pengetahuan yang utuh untuh menjadi kebenaran.

Pada persoalan ini, meminjam pernyataan filsuf eksintensialis Karl Jaspers (1883 – 1969), yaitu : bukan “bagaimana dapat mengenal”, tetapi “manusia yang bagaimana yang dapat mengenal”.

Manusia untuk Seni; Seni untuk Manusia

Seni adalah kegiatan manusia untuk mengungkapkan penghayatan emosionalnya yang mendalam mengenai pengalaman-pengalaman manusiawinya. Seni datang membawa anjuran bagi manusia untuk menerima suatu kualitas tertinggi yang diberikan pada saat-saat yang dilaluinya.

Pemahaman manusia terhadap kenyataan alam semesta yang indah, memunculkan rasa untuk mewujudkan atau mencipta bentuk keindahan dalam ruang yang lain. Proses perwujudan keindahan ini, dilakukan dengan jalan kontemplasi dan cara-cara penghayatan yang dimiliki. ‘Kontemplasi’ adalah suatu proses perenungan mendalam atau berfikir penuh untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan suatu hasil penciptaan. Pengertian tersebut bersumber pada berbagai kenyataan dalam kehidupan sehari-hari yang hakikatnya selalu menghendaki perubahan.

Manusia memahami kebutuhan keindahan ini tidak hanya semata – mata bagi dirinya sendiri, namun juga diperuntukkan bagi ‘kekuatan lain’ diluar dirinya. Agar terdapat keselarasan antara ‘alam’ sebagai penyedia bahan kebutuhan dengan manusia yang memanfaatkannya, maka ‘alam’ juga dipandang layak untuk diberikan persembahan akan hal-hal yang bersifat keindahan sebagai rasa timbal balik. Dalam tindakannya, berwujud pada hasil karya atau cipta seni yang diperolehnya melalui persepsi terhadap fenomena kebudayaan. Hasil karya atau cipta seni tersebut berkembang menjadi cabang – cabang kesenian sesuai dengan bentuk yang diciptakan dan media yang dipergunakan.

Beberapa hal yang berkaitan dengan karya seni dan keindahannya, diantaranya :

Untuk dapat menciptakan keindahan dalam hasil karya seni, pelaku kesenian harus menempuhnya melalui perenungan yang mendalam.

Keindahan yang berpadu dalam karya seni harus mampu mengungkapkan nilai-nilai dibalik keindahan formalnya.

Disamping mengekspresikan keindahan dan kebenaran pengalaman, kesenian juga harus menjadi media untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang bermakna bagi masyarakat.

Dalam pandangan theosofis, keindahan meliputi 2 hal sebagaimana berikut :

Instress, Yaitu : pengaruh yang nyata dari Tuhan terhadap karya cipta kreatif

Inscape, Yaitu : pemahaman dan kekuatan melihat segala sesuatu dengan hati dan pikiran sebagai suatu puncak realitas mengenai benda-benda ciptaan Tuhan.

Secara sederhana jika dikerucutkan pada aspek karya seni, konsep tersebut sebanding dengan pengertian bahwa Instress adalah Seniman yang menciptakan karya, dan Inscape adalah penghayat hasil karya.

Pengalaman keindahan bukan tergantung pada senang atau tidak senang dari seseorang atau individu, melainkan terletak pada pemahaman intelektual terhadap subyek artistik. Secara teknis, hasil karya seni dapat dirasakan dengan baik melalui pengenalan karakteristik :

Individuasi (spesifik atau memiliki keunikan tertentu) Yaitu, setiap karya seni dan penciptanya idealnya memiliki ke-khas-an atau keunikan karakter tertentu. Harmoni (keselarasan atau keserasian) Yaitu, adanya proporsi dan hubungan yang tepat dari semua bagian-bagian yang ada. Unsur-unsur yang berhubungan seringkali merupakan bagian-bagian yang berkonflik, karena adanya sifat-sifat yang yang saling bertentangan, namun harus dapat dicapai suatu keseimbangan bagi penghayatnya.

Integritas (kemanunggalan) Yaitu, adanya suatu kesatuan yang utuh dari semua unsur dan bagian-bagian yang menyertainya, yang masing-masing berfungsi membangun wujudnya. Hal ini berarti bukan hanya sekedar kumpulan dari bagian-bagian tanpa hubungan fungsional dalam mewujudkan bentuknya.


Metamorfosa; Konsep Manunggal

Semesta raya dengan segala isinya beserta rangkaian perjalanannya merupakan sumber penting segala bentuk pengetahuan sekaligus menjadi pertanyaan terbesar untuk dicari jawabannya sepanjang manusia hidup. Rangkaian perjalanan itu sendiri adalah siklus kehidupan abadi yang sangat rumit diurai perihal awal dan akhirnya. Dibutuhkan kematangan pengamatan, pemikiran dan penghayatan untuk menuju kesana.

Tatkala suatu makhluk yang kemudian diberi label manusia telah hadir, maka misteri semesta serasa telah terwakili. Manusia dianggap menjadi inti atau pusat semesta. Jika keseluruhan semesta dikategorikan sebagai makrokosmos, maka diri manusia dinobatkan sebagai mikrokosmos. Ini berarti jagad raya yang cukup luas tak terhingga ter-miniatur-kan oleh kehadiran manusia.

Keunikan manusia sebagai makhluk paling unggul dan diunggulkan adalah manusia merupakan makhluk yang berke-Sadar-an yang tercermin dalam perwujudannya sebagai makhluk yang dapat memikirkan (Animal Rational) dan makhluk yang berkemampuan menciptakan tanda-tanda atau simbol-simbol (Animal Symbolicum) dalam mengurai fenemona semesta..

Adanya sesuatu yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lain, yakni kesadaran yang dimiliki manusia, membuat perjalanan kehidupan diri manusia menjadi keterwakilan terhadap misteri yang menyelubungi semesta agar dapat terkuak. Manusia sebagai serpihan dari alam raya dan lewat manusia pula alam raya tercitrakan. Siklus kehidupan jagad raya ditandai dengan kehadiran kesadaran manusia yang selalu memberikan pertanyaan pada diri manusia sendiri untuk selalu mencari jawaban dan tiada henti sepanjang nafas masih berhembus adalah : siapakah aku, darimana asalku, dan kemana kembali. Perjalanan atas tiga pertanyaan besar inilah yang membuahkan metamorphosa kehidupan sekaligus jawaban rahasia alam semesta.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar