Folktival

Malam Jabrik di Kedai Kang Putu Semarang

✍ Arif Khilwa - 📅 01 Nov 2025

Malam Jabrik di Kedai Kang Putu Semarang
Arif Khilwa

Semarang, 30 Oktober 2025 – Malam Kamis (30/10) di Kedai Kang Putu, Patemon, Gunungpati, Semarang, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra yang berbeda dari biasanya. Acara bertajuk “Malam Jabrik di Kedai Kang Putu” yang merupakan bagian dari agenda “Gandrung Sastra Dolan ke Semarang” ini, sukses menyajikan diskusi buku Jabrik – kumpulan cerpen karya penulis, dengan balutan seni pertunjukan yang segar dan jenaka.

Suasana malam mulai dihangatkan oleh penampilan musik dari Dapoer Ngebul, digawangi oleh Haikal Aslikh Rosyada, Putut Pasopati, dan Aloeth Pathi II. Mereka membawakan lagu-lagu reggae dalam versi jenaka yang berhasil mengundang tawa. Kehangatan berlanjut dengan pembacaan puisi yang memukau dari Faiz Urhanul Hilal (Toples) dan Aloeth Pati.

Pementasan monolog berjudul “Jabrik” yang dibawakan dengan sangat apik oleh Khoirun Nadhif (Nadhif Mondol). Dalam pementasan ini, sosok Jabrik tampil dengan interpretasi baru: rapi, religius, namun tetap mempertahankan “kegilaan” dalam arti yang khas dan unik. Kolaborasi Mondol, Haikal, Aloeth, dan Putut berhasil menyuguhkan tontonan yang tidak hanya segar dan jenaka, tetapi juga sarat makna.

Setelah pementasan, sesi diskusi buku Jabrik dimulai. Dipandu oleh Toples, diskusi berlangsung cair, hangat, dan bermakna. Dua tokoh yang menjadi penyejuk dan pencerah malam itu adalah Kang Saroni Asikin dan Kang Putu Gunawan Budi Susanto.

“ Kritik, menunjukkan kekurangan yang disertai masukan adalah bentuk kepedulian dan rasa sayang.”

Kedua penulis berpengalaman ini mengulas buku Jabrik secara bijak, jujur, dan mendidik. Mereka tidak ragu membedah kekurangan buku, mulai dari aspek teknis penulisan, alur cerita, hingga logika cerpen.

Bahkan, gaya penulisan yang “cerewet” di beberapa cerita tak luput dari perhatian. Menariknya, kritik yang disampaikan tidak bersifat menjatuhkan, melainkan sangat membangun, yang dimaknai oleh penulis sebagai bentuk kasih sayang tulus agar ia terus berkembang dan berproses dalam dunia literasi.

Diskusi semakin kaya dengan tanggapan dari Imaniar Christy terhadap salah satu cerpen, Perawan Tua. Pandangannya membuka wawasan bahwa tafsir terhadap sebuah karya sastra bisa sangat beragam. Cerpen Perawan Tua, misalnya, ditafsirkan sebagian pihak sebagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan, namun di sisi lain dilihat sebagai bentuk pembelaan dan upaya menumbuhkan kesadaran tentang makna pernikahan.

“Malam Jabrik” menegaskan bahwa kegiatan sastra di Semarang ini bukan sekadar diskusi buku, melainkan juga ajang silaturahmi yang hangat antara Gandrung Sastra dengan para “sedulur” di Semarang dan sekitarnya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar