Folks

LWF 2025, Berliterasi dalam Sastra Purbakala

✍ Agam Abimanyu - 📅 29 Sep 2025

LWF 2025, Berliterasi dalam Sastra Purbakala
Agam Abimanyu

Sebuah dialog lintas zaman, panggung yang dipilih untuk Lesbumi Writers Festival (LWF) 2025. Minggu (28/9/2025). Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kudus, sebagai penyelenggara, mengajak para penulis, budayawan, dan akademisi untuk duduk bersimpuh di hadapan saksi bisu peradaban merawat akar budaya untuk terus bertumbuh. Abu Hasan Asy’ari, Ketua Lesbumi PCNU Kudus, menjadikan peristiwa itu sebagai meidum gagas tentang peran sastra dalam peradaban. Menurutnya, sastra mampu merawat masa lalu sekaligus menghubungkan dengan dinamika kebudayaan hari ini.

“Menulis bukan hanya soal masa kini, tetapi juga merawat masa lalu untuk masa depan,” ungkap Abu.



Sebuah kerangka berpikir. Jika peradaban adalah sebuah pohon besar, maka sastra dan seni adalah daun dan buah yang kita nikmati hari ini. Namun, vitalitasnya bergantung pada seberapa dalam akarnya mencengkeram tanah—tanah masa lalu, tanah sejarah, bahkan tanah purbakala. Tema “Sastra Purbakala” menjadi manifestasi dari kerangka besar itu. Diisi dengan beragam kegiatan, mulai dari lomba puisi, workshop kepenulisan, diskusi, peluncuran buku, lokakarya, orasi puisi, hingga penganugerahan tokoh sastra dan budayawan Kudus. Yang diharapkan juga lahir regenerasi pegiat literasi dari kalangan muda.

Ia juga menuturkan bahwa “Festival ini memang dirancang supaya menjadi ruang pertemuan antara penulis, budayawan, akademisi, dan seniman untuk mengulik sastra purbakala,” lanjut Abu.


Festival dirancang sebagai sebuah ekosistem kesusastraan. Ada “pembibitan” melalui lomba puisi dan workshop kepenulisan yang menyasar generasi muda. Ada “pemupukan” melalui diskusi dan peluncuran buku yang mempertemukan gagasan para penulis mapan dengan para pemula. Dan yang terpenting, ada “penghormatan” melalui penganugerahan bagi tokoh sastra dan budayawan Kudus. Menunjukkan bahwa upaya membangunkan kesadaran kolektif bahwa kerja literasi bukanlah kerja individual di ruang sunyi, melainkan kerja komunal yang saling menguatkan.



Edi Purnomo, selaku Koordinator Festival juga menambahkan LWF diharapkan bisa menjadi agenda rutin tahunan demi menghidupkan ekosistem sastra dan seni di Kudus. Sekaligus mengingatkan peran serta Pemerintah bahwa merawat kebudayaan sejatinya adalah tugas negara. Apa yang dilakukan Lesbumi adalah sebuah inisiatif, sebuah contoh, namun idealnya, negara harus hadir sebagai fasilitator utama. Terutama memperhatikan kontribusi para tokoh sastra dan budayawan lokal.

“Kami harap Pemkab Kudus juga ikut memberi apresiasi terhadap para tokoh sastra dan budayawan yang sudah berkontribusi untuk Kudus,” ujarnya.


Yang akhirnya para pegiat literasi seolah mengingatkan bahwa peradaban yang besar tidak pernah melupakan dari mana ia berasal. Kerja kebudayaan untuk terus merawat asalnya adalah upaya heroik untuk memastikan kita tidak menjadi generasi yang amnesia. Akhirnya, dari pangung yang telah usai itu.

Barangkali, kompleks museum akan kembali dalam keheningannya. Tetapi semangat dan karya para penulis muda, dan dalam harapan yang terus menyala untuk ekosistem sastra yang lebih berdaya akan terus hidup dalam karya-karya baru.



Dari Formasi Patiayam yang memang merupakan situs arkeologi dan paleontologi penting di Jawa Tengah, menyimpan jejak kehidupan jutaan tahun lalu, menjadi rujukan penting bagi peneliti untuk mempelajari evolusi kehidupan di Asia Tenggara.

Situs yang menyimpan catatan sejarah manusia, lingkungan, dan budaya dari ratusan ribu hingga jutaan tahun lalu, menjadikannya jendela untuk memahami masa lampau. Menjadi fokus penelitian arkeologi, paleontologi, dan geologi, serta berkontribusi pada studi tentang keberadaan manusia purba di Nusantara dan dunia.

Dari Raden Saleh, Frans Wilhelm Junghuhn pada 1857, dan kemudian Eugene Dubois hingga Prof. Truman Simanjuntak, arkeolog dan pakar prasejarah senior, lembaga CPAS (Yayasan Pusat Studi Prasejarah dan Austronesia).

Dari bukit-bukit Patiayam yang diduga terbentuk setelah erupsi Gunung Muria. Bentang alamnya bercerita tentang manusia-manusia purba yang beradaptasi dengan lingkungan setempat dan fauna-faunanya.

Yang juga meninggalkan tanya, jika sebuah komunitas di Kudus bisa mengungkapkan makna dari jejak purbakala, warisanbudaya apa di sekitar kita yang sedang menunggu untuk digali dan diceritakan kembali?

Dalam laju peradaban yang semakin cepat menuju masa depan, seberapa sering kita menoleh ke belakang untuk mengambil hikmah dari jejak peradaban yang kita pijak?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar