Folks

KELIR (Barangkali Yang Keliru Bukan Panggung)

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 27 Jun 2026

KELIR (Barangkali Yang Keliru Bukan Panggung)
Melly Fardiani Tasmara

Ada banyak hal yang kita terima begitu saja. Bahwa panggung harus menyerupai kenyataan. Bahwa metode adalah jalan menuju akting yang baik. Bahwa tepuk tangan menjadi ukuran keberhasilan sebuah karya. Bahkan, bahwa kehidupan yang kita jalani setiap hari benar-benar lahir dari pilihan kita sendiri.

Barangkali, yang perlu dipertanyakan bukan hanya panggung, melainkan cara kita memandang kenyataan.

Minggu, 28 Juni 2026, pukul 19.30 WIB, Teater Marjuki akan mementaskan Kelir di Auditorium Universitas Muria Kudus dalam Program Serah#6 Dewan Kesenian Kudus. Melalui penyutradaraan Wagiyo Ceprut aka Mopet sK (Ahmad Safrudin), pertunjukan ini mengajak penonton melihat kembali berbagai keyakinan yang selama ini terasa wajar, tetapi jarang dipersoalkan.

Berangkat dari kegelisahan yang sama dengan gagasan dramaturginya tentang krisis kehadiran, Wagiyo Ceprut menghadirkan sejumlah pernyataan satiris sebagai bagian dari proses kreatif pertunjukan. Kritiknya tidak hanya diarahkan kepada dunia teater, tetapi juga kepada cara manusia memahami dirinya sendiri di tengah kehidupan modern. Ketika kenyataan semakin dipenuhi berbagai bentuk representasi, pertanyaannya bukan lagi sekadar apa yang nyata, melainkan siapa yang membentuk kenyataan itu.

Gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan yang minim dialog. Alih-alih mengandalkan percakapan panjang, Kelir membangun makna melalui tubuh para pemain, gerak, bunyi, ruang, dan simbol-simbol yang membuka ruang tafsir bagi setiap penonton. Yang dihadirkan bukan jawaban, melainkan pengalaman untuk menyaksikan dan merasakan.

Melalui cara itulah Kelir mengajak penonton mengambil jarak dari berbagai hal yang selama ini dianggap biasa. Bukan untuk menolak kenyataan, melainkan untuk menyadari bahwa cara kita memandang dunia tidak selalu lahir dari diri sendiri. Ada banyak pengaruh, kebiasaan, dan sistem yang tanpa disadari ikut membentuknya.

Pada akhirnya, Kelir tidak meminta penonton menyetujui setiap gagasan yang ditawarkan. Pertunjukan ini hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana:

"Jika cara kita melihat dunia dapat dibentuk oleh begitu banyak hal, sejauh mana kita benar-benar hadir sebagai diri sendiri?"

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar